Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Terimakasih Untuk Semua!!


__ADS_3

Sepasang muda-mudi dengan perawakan dan warna rambut yang kontras sedang bergelut dalam suatu 'kegiatan'. Nampak peluh membanjiri seluruh tubuh mereka, membasahi kain yang menutupi tubuh mereka. Keduanya tampak terengah-engah melepaskan hasratt yang mendera mereka.


Angin yang menerpa dari sela-sela jendela ruangan, tak mampu menahan bulir-bulir keringat akibat 'perbuatan' mereka. Sesekali sang gadis mungil mengeram memanggil nama pria yang menjadi partnernya dalam kegiatan ini.


"Nathan, lebih cepat!" Dessah gadis bermarga Xia pada suami yang menjadi partnernya.


"Diamlah, Luna! Suaramu mengganggu, seharusnya kau juga bergerak lebih cepat! Ahhh…" ujar Nathan pada Luna.


Sesekali terdengar suara cairan yang begitu menggoda. Bisa merasakan dan mencicipinya secara gratis, apa lagi jika bersama dengan kekasih hatimu. Pasangan mana yang mau menyia-nyiakan kesempatan ini bersama sang pujaan hati, saat mereka tengah ditantang, apalagi di saat musim panas seperti ini.


Semakin lama mereka 'melakukan' hal tersebut, semakin banyak peluh yang membanjiri tubuh keduanya. Membuat des*han dan erangan mereka semakin menjadi-jadi.


"Cepatlah Nathan! Aku haah…sudah tidak ahhh…tahan…" Perintah sang gadis mungil dengan wajah yang sangat merona.


Membuat Nathan menjadi berdebar-debar menatapnya. "Sial, kenapa dia menjadi sangat imut?! pikir Nathan. "Sabarlah Rukia aahhh…aku juga sudah cepat hahh.." tanggap Nathan yang juga sudah semakin dengan hasratt yang tengah meledak-ledak ini. Demi sang istri yang sangat ia sayangi, ia tak pernah keberatan untuk 'melakukan' semua ini.


Kembali mereka terdiam, menghayati 'kegiatan' mereka yang tak kunjung kelar ini. Membuat keringat semakin mengalir deras dan membanjiri tubuh mereka. Mencurahkan segenap tenaga untuk segera mengakhiri semua ini, dan mencapai puncak kepuasan bagi keduanya.


Sesaat mereka terdiam, tetapi sepertinya sang gadis tidak akan puas jika belum mengomentari 'gerakan' suaminya yang masih kurang cepat dan dianggapnya sangat lambat.


"Nathan, ayolah cepat! Cepaaat ahhh…aku sudah tidak tahan…tidak tahaan lagi, Sayang~" Luna semakin menjadi-jadi. Mukanya semakin merah padam, ditambah peluh yang menambah kesan eksotis padanya.


Tubuh mungil itu bergetar. Matanya berbinar-binar saat mengetahui akhir dari semua ini telah semakin dekat. Dia juga semakin mempercepat 'gerakannya', ingin segera menyelesaikan 'kegiatan panas' ini bersama partner tercintanya ini.


"Uhhh, akhirnya..."


"Apa kau puas, hm?" Nathan menatap Luna dengan seringai tipis.


Luna mengangguk dengan wajah yang merona. Tak hanya sekedar puas saja. Tetapi dia benar-benar puas, sangat-sangat puas malah. Meskipun Nathan terlalu banyak menunda waktu agar lebih mendalam lagi yang mereka lakukan. Padahal Luna sudah sangat tidak tahan dan ingin melakukan pelepasan.

__ADS_1


"Sebaiknya cepat tidur," Nathan mengecup kening Luna dan meninggalkannya begitu saja. Akan sangat tidak nyaman jika ia tidak mandi setelah bergulat panas dengan Luna.


Sedangkan Luna langsung pergi tidur. Pergulatan yang baru saja dia lakukan bersama Nathan benar-benar menguras semua tenaga dan energinya.


.


.


Melisa terlihat begitu sibuk. Hari ini adalah ulang tahun Luna. Dan sebagai ibu yang baik, tentu saja Melisa ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya.


Dengan dibantu Tuan Xia, Melisa sedang mendekor ruang tamu dan ruang makan. Beberapa pelayan juga turut membantu mereka berdua.


Mereka tak lagi memiliki sanak saudara, jadi tak ada keluarga yang akan menghadiri acara tersebut.


Hanya cukup Tuan Xia, Melisa, nathan dan Luna. Lagi pula Luna tidak memerlukan orang lain lagi, tiga orang itu saja sudah lebih dari cukup untuknya.


"Eh, salah ya?! Baiklah-baiklah akan Papa perbaiki, hahaha..."


Canda tawa menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak jarang Tuan Xia melakukan kesalahan, yang ujung-ujungnya mendapatkan protes dari Melisa. Meskipun beberapa kali dimarahi oleh putrinya, tetapi Tuan Xia tak merasa tersinggung sedikit pun, dia justru tertawa dengan wajah bahagia.


Bagaimana mungkin Tuan Xia tidak merasa bahagia. Di usianya yang sudah tua, akhirnya dia mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar. Dengan kembalinya Melisa, maka keluarga kecilnya telah utuh kembali.


Meskipun tak lagi sempurna, karena sang belahan Jiwa telah tiada. Tetapi Tuan Xia tak begitu sedih, karena sudah ada putri dan cucunya yang selalu ada untuk dirinya.


"Papa, kenapa kau sering sekali melakukan kesalahan sih?! Itu bukan di sana, tetapi disini. Kenapa malah tertukar-tukar?!" Melisa menghela napas berat.


Dan lagi-lagi Tuan Xia malah tertawa. Omelan Melisa membuatnya geli sendiri. Apalagi saat melihat ekspresi wajahnya saat sedang kesal, benar-benar sangat menggemaskan.


Hal itu mengingatkannya pada Melisa ketika dia masih anak-anak, Melisa suka sekali mempoutkan bibirnya seperti itu saat kesal.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam sibuk mempersiapkan ini dan itu, akhirnya pekerjaan mereka pun selesai. Bersamaan dengan itu, terdengar suara mobil yang memasuki halaman. Itu adalah mobil Nathan.


"Kakek, Mama, kami datang!!" seru Luna dengan suara lantang. Dan Setibanya di dalam, Luna dibuat terkejut dengan hiasan yang memenuhi ruang tamu dan ruang makan. "Ya, Tuhan." Luna menutup mulutnya dengan kedua tangannya, hampir saja dia menangis karena terharu.


"Sepertinya mereka menyiapkannya dengan benar-benar matang." ucap Nathan yang dibalas anggukan oleh Luna.


Melisa dan Tuan Xia menghampiri mereka berdua sambil membawa kue ulang tahun juga. Mereka berdua menyanyikan lagu ulang tahun. Dan hal itu tentu saja membuat Luna sangat terharu. Sampai-sampai dia menangis saking terharunya.


"Sekarang katakan permintaanmu." Pinta Nathan.


"Permintaanku hanya satu, dan aku tidak ingin mengucapkannya dalam hati. Aku ingin semua orang tau. Dan aku ingin agar keluarga ini selalu utuh dan bahagia. Hanya itu yang aku inginkan, dan ada satu lagi. Kau semakin mencintaiku."


Nathan menepuk kepala Luna. "Tanpa kau memohon pun, permintaan itu pasti akan terkabulkan. Happy birthday, Luna." Ucap Nathan sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


Kedua mata Luna langsung berbinar-binar melihat sebuah cincin berlian yang sangat cantik, kado dari Nathan. Ini sangat cantik, aku menyukainya. Terima kasih, Nathan." Luna berhambur ke pelukan Nathan dan memeluk pria itu dengan erat.


"Sama-sama, Sayang."


Melisa menghampiri Putrinya sambil membawa sebuah kado spesial untuknya. Tak lupa dia mengucapkan selamat ulang tahun pada Luna, Tuan Xia juga memberikan kado istimewa pada cucu tercinta itu.


Luna dan Melisa saling berpelukan. Perempuan itu tersenyum. "Terimakasih, Ma. Aku sangat menyukai kado darimu." Ucap Luna sambil tersenyum lebar. "Dan terima kasih juga untukmu, Kakek. Aku sungguh bahagia memiliki Kalian bertiga, terimakasih."


Kebahagiaan yang sempurna berasal dari keutuhan keluarga. Dan tak ada harta yang paling berharga di dunia ini selain sebuah keluarga yang harmonis.


.


.


The End.

__ADS_1


__ADS_2