Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Suami-Istri


__ADS_3

Nathan menatap nanar sebuah buku pernikahan yang ada di tangannya. Rasanya dia masih tidak percaya jika Iya dan Luna telah menikah, semua yang terjadi seperti mimpi.


Rasanya dia seperti terjebak, Nathan sudah berusaha untuk menolaknya tetapi pada akhirnya dia tetap menyerah juga.


Bukan karena takut akan dipecat oleh Tuan Xia, tetapi karena ancaman Luna yang tidak main-main.


Gadis itu mengancam akan melukai dirinya sendiri jika Nathan sampai menolak untuk menikahinya, hingga Dia tidak memiliki pilihan selain menikahi Luna. Bahkan Tuan Xia sampai berlutut dan memohon supaya dirinya tak menolak untuk menikahi Luna. Karena Tuan Xia tak ingin kehilangan Putri satu-satunya.


"Luna, Apa yang kau lakukan?! Turun dari pangkuanku sekarang juga!!" pinta Nathan menuntut.


Gadis itu menggeleng. "Aku tidak mau!! Kita adalah pengantin baru, dan kau tahu sendiri kan apa yang biasanya dilakukan oleh pengantin baru?!" Luna menatap Nathan dengan jahil.


"Cukup, Luna!! Jangan kau pikir karena aku mau menikahimu, maka kau bisa bersikap seenaknya seperti ini. Jika bukan karena terpaksa, aku juga tidak akan menikah denganmu. Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, jadi jangan berharap apapun dariku. Apalagi berharap aku akan mencintaimu!!"


Gadis itu mendecih sinis. "Dasar Kulkas 1000 pintu, jika bukan karena terpaksa, aku juga tidak mau menikah denganmu!!"


Benar apa yang Luna katakan, dia meminta Nathan untuk menikahinya bukan karena dia mencintai pria itu ataupun karena kegatelan. Tetapi karena Luna tidak mau jodoh jodohkan lagi oleh ayahnya dengan pria tak dikenal.


"Terserah kamu mau beranggapan bagaimana, terima tidak terima, suka tidak suka, kau dan aku sekarang adalah suami istri. Dan itu nyata, aku harap kau bisa menerimanya!! Jadi sekarang kau memiliki alasan untuk melindungiku, bukan lagi sebagai Bodyguard pribadiku tetapi sebagai suamiku. Bukankah ini lebih bagus?!" ujar Luna.


Nathan menutup mata kanannya. Lalu membukanya kembali dan Luna dengan tajam.


Dia sudah tidak mau berkomentar lagi karena nasi telah menjadi bubur, dear Nathan tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Karena disesali pun percuma saja, semua tak lagi sama.


"Kembalilah ke kamarmu, aku mau istirahat!" Nathan beranjak dan meninggalkan Luna begitu saja.

__ADS_1


Bukannya pergi, luna malah melayangkan protesnya pada Nathan. "Apa-apaan kau mengusirku?! Kita itu sekarang suami istri, jadi sudah seharusnya tidur bersama. Jika kau tidak mau tidur di kamarku, maka aku yang akan ikut tidur di sini bersamamu!!"


Laki-laki Nathan menatap Luna dengan tajam. Bukan karena Nathan membenci Luna karena sudah bersikap seenaknya, tetapi Nathan hanya kesal saja pada sikap keras kepalanya.


Dan tak bisa Nathan pungkiri, jika ia tak pernah bisa membenci Luna apapun alasannya.


"Terserah!!"


Dan akhirnya Nathan pun menyerah, tidak ada gunanya berdebat dengan Luna yang keras kepala. Dan berdebat dengan Luna hanya membuatnya emosinya tak terkendali, lebih baik Nathan mengalah.


.


.


Kecemasan terlihat jelas diraut wajahnya, dia sedang memikirkan putrinya.


Pria itu yang pastinya adalah Tuan Xia, sangat khawatir jika Luna melakukan sebuah kesalahan yang bisa memancing emosi Nathan, dan Tuan Xia tahu betul jika Nathan memiliki tempramen yang sangat buruk.


"Luna, semoga kau tidak melakukan kesalahan yang fatal. Kenapa kau harus menempatkan dirimu sendiri dalam masalah," gumam Tuan Xia berujar.


Dalam hatinya Tuan Xia terus berdoa supaya Luna tak sampai mengalami nasib yang buruk.


Dan sungguh tak pernah terpikir olehnya, jika Luna akan melakukan sebuah kegilaan yang nyaris membuat Tuan Xia masuk rumah sakit akibat serangan jantung tiba-tiba.


.

__ADS_1


.


Malam semakin larut. Namun Nathan masih tetap terjaga. Pria itu duduk di tepi tempat tidurnya, lalu pandangannya bergulir pada sosok perempuan yang sedang tertidur pulas diatas tempat tidurnya dan menghela napas.


Entah mimpi buruk apa yang telah Nathan alami sampai-sampai dia harus menikahi gadis bar-bar seperti Luna. Entah itu sebuah keberuntungan atau justru sebuah kematangan?!


"Jangan, jangan, jangan,"


Perhatian Nathan teralihkan oleh suara ketakutan Luna. Sepertinya perempuan itu sedang bermimpi buruk.


Keringat dingin terlihat di keningnya. Kemudian Nathan bangkit dari duduknya dan mendekati Luna. Dia berusaha untuk membangunkannya.


"Luna, bangun." nathan menepuk pipi Luna dan mencoba untuk membangunkannya. Dia menggenggam tangan perempuan itu yang dingin karena keringat.


Kedua mata itu lalu terbuka sepenuhnya. Air mata mengalir dari pelupuk matanya. "Nathan!!" Luna berseru dan berhambur ke pelukan pria itu. "Hiks, aku takut. Aku bermimpi buruk."


Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luna. Jari-jarinya mengusap helaian panjang Luna dengan lembut. Meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.


"Tidak perlu takut, ada aku disini. Aku akan selalu menemanimu!!"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2