
Nathan membuka matanya dan mendapati Luna yang sedang tertidur pulas di pelukannya, diperhatikannya wajah perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya itu dengan seksama.
Dia terlihat begitu polos ketika sedang tidur, seperti anak kecil yang belum tahu apa-apa. Sungguh sangat banding balik dengan ketika Luna tidak tidur.
Luna mengalami mimpi buruk sehingga Nathan harus memeluknya untuk menenangkannya, dan Luna malah tertidur di pelukannya.
Melihat wajah Luna, membuat Nathan tak tega untuk membangunkannya. Jadi dia membiarkannya.
"Eungghh," terdengar lengkuhan keluar dari bibir Luna. Gadis itu membuka matanya dan mendapati dirinya berada dalam pelukan Nathan. "Eh, apa Kau memelukku seperti ini dari tadi?"
"Menurutmu?" Nathan membalas ucapan Luna dengan dingin.
"Hm, tentu saja. Kau kan suamiku, jadi mana mungkin kau membiarkanku ketakutan seperti tadi." Gadis itu tersenyum lebar lalu kembali memeluk Nathan.
"Dan berbaring di pelukanmu benar-benar membuatku merasa tenang dan nyaman, dan hanya ketika berada di dekatmu aku merasa aman. Untuk itu jangan pernah jauh dariku apalagi memintaku untuk menjauh, karena ketika aku telah menemukan tempat ternyaman untuk menjadi tempatku bersandar. Maka aku tak akan melepaskannya," ucap Luna.
Nathan tak memberikan respon ataupun membalas ucapan Luna. Dia hanya diam sambil menatap gadis itu yang terus berbicara, Luna mengatakan banyak hal yang membuatnya dilema.
"Aku akan memberimu waktu untuk terbiasa dengan hubungan ini. Ini sudah larut malam, sebaiknya segera tidur, aku akan kembali ke kamarku." Luna melepaskan pelukannya dan hendak beranjak dari hadapan Nathan, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.
Luna jatuh ke atas tempat tidur setelah mendapat tarikan cukup kencang. Luna mengedipkan matanya melihat jaraknya dan Nathan yang terlalu dekat, pria itu mengungkung Luna kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau yang memulainya terlebih dulu, Xia Luna. Jadi jangan berharap untuk bisa lepas dariku. Kau sendiri yang melemparkan dirimu padaku, untuk itu aku tak akan membiarkanmu pergi dengan sesuka hatimu!!"
Luna tersenyum lebar, dia mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher Nathan. Keduanya sama-sama memiringkan kepalanya hingga akhirnya bibir mereka saling bertemu dan saling meluma*. Nathan mulai melepaskan dan menghilangkan jarak antara dirinya dan Luna.
Bibir Nathan dan Luna saling meluma*, memagut dan menghisap. Jari-jari kanan Nathan entah sejak kapan sudah berada di salah satu Teletubbies milik Luna, meremasnya dengan lembut namun mampu membuat gadis itu mengeluarkan des*han.
Luna benar-benar menikmati setiap sentuhan bibir maupun jari-jari Nathan.
Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang mampu membuatnya melayang hingga lupa daratan. Nathan benar-benar tahu bagaimana cara untuk membuatnya hilang kewarasan.
Namun ciuman mereka harus berakhir ketika Nathan merasakan pukulan pada dadanya. Luna yang masih sangat payah dalam urusan berciuman, harus rela mengakhiri ciuman tersebut karena ia sudah mulai kehabisan nafasnya.
"Hah, hah, hah," nafas gadis itu tersengal-sengal. Dia benar-benar membutuhkan banyak asupan oksigen untuk mengisi paru-parunya yang mulai kosong.
Gadis itu mempoutkan bibirnya dan menatap menatap dengan sebal. "Dasar kulkas 1000 pintu, tidak bisakah kau tidak usah mencibirku?! Aku memang payah karena belum terbiasa," ucap Luna setengah menggerutu.
Nathan tersenyum kecil. Senyum langka yang tak pernah Luna lihat sebelumnya.
Hampir saja dia berteriak melihat senyum Nathan itu.
Tetapi Luna masih waras, dan dia tidak ingin dianggap gila hanya karena melihat senyum Nathan dia menjadi heboh.
__ADS_1
"Karena kita sudah menikah, mulai besok aku akan membawamu untuk tinggal bersamaku. Kita tinggal di tempat tinggalku,"
"Jika aku ikut denganmu, lalu bagaimana dengan Daddy? Masa iya aku harus meninggalkannya sendirian, apalagi dia tak memiliki kata lain selain diriku. Jadi Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu?!" Ujar Luna.
Benar kata Luna, jika Gadis itu ikut tinggal bersamanya, lalu bagaimana dengan Tuan Xia? Pasti dia akan sangat kesepian jika tanpa Luna, apalagi Luna adalah satu-satunya keluarga yang Tuan Xia miliki.
Untuk itu Nathan tidak boleh bersikap egois tanpa memikirkan perasaan Luna dan ayahnya.
"Maaf, Nathan. Aku tidak bermaksud untuk menolak ajakanmu, kau memiliki hak sepenuhnya atas diriku, tetapi aku tidak tega jika harus meninggalkan Daddy sendirian. Dia pasti akan sangat kesepian tanpa diriku," Luna menundukkan kepalanya, jari-jarinya saling meremas.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku tidak berpikir sampai sana. Kau tidak perlu pergi ke manapun dan bisa tetap tinggal di sini bersama dengan ayahmu,"
Luna mengangkat kembali kepalanya dan menatap Nathan yang juga menatap padanya. "Lalu bagaimana denganmu? Kau akan tetap tinggal di sini bersamaku, atau kembali ke kediamanmu?" tanya Luna.
"Tentu saja tetap di sini bersamamu!! Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu, dan membiarkan dirimu sendiri tanpa perlindungan. Meskipun statusku telah berubah, tetapi aku masih bodyguardmu. Dan sekarang aku memiliki alasan untuk melindungimu," ujar Nathan.
Luna tersenyum tipis. Dia mendekati Natal lalu menyandarkan kepalanya pada dadanya, kedua tangannya memeluk tubuh pria itu. "Ya, kau memang harus melindungiku. Karena jika bukan dirimu lalu siapa lagi?" Luna mengangkat kepalanya dan menatap Nathan.
Nathan mengecup singkat kening Luna kemudian membalas pelukannya. Luna benar-benar hebat, karena mampu meluluhkan kulkas 1000 pintu seperti Nathan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.