
Luna mematut dirinya di depan cermin, untuk memastikan apakah ada yang kurang pada penampilannya atau tidak. Dia telah memutuskan untuk kembali berkuliah. Dan Nathan mengijinkannya.
Tubuh rampingnya dalam balutan dress putih bermotif mawar. Rambut panjangnya yang biasanya ia gerai bebas, hari ini ia ikat ekor kuda, memperlihatkan leher jenjangnya. Tak lupa wajah cantiknya dipolesi make up tipis.
Dan setelah dirasa tak ada yang kurang pada penampilannya, Luna menyambar tasnya yang ada diatas tempat tidurnya dan melenggang keluar. "Nathan, aku sudah siap!!" seru Luna seraya menghampiri sang suami.
Nathan memperhatikan penampilan Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menghela napas. "Penampilanmu terlalu mencolok, Nona!! Sebaiknya jangan ikat rambutmu, aku tidak ingin ada hidung belang yang memperhatikan penampilanmu!!" ucap Nathan Seraya melepas ikatan rambut Luna.
Alih-alih marah, Luna malah tertawa dengan reaksi Nathan saat melihat ia mengikat rambutnya. Pasti karena dia tidak ingin salah satu bagian sensitifnya dilihat oleh orang lain, terlebih-lebih itu adalah lehernya. Dan Luna menyukai ketika Nathan mulai menunjukkan sikap protektifnya.
"Pasti kau tidak ingin jika istri cantikmu ini sampai digoda oleh pria lain kan?" tebak Luna 100% benar.
"Dasar bodoh!! Memangnya suami mana yang rela istrinya dilihat oleh pria lain, dan jika ada yang berani melihatmu apalagi sampai berusaha untuk menggodamu!! Akan kupastikan orang itu hanya tinggal nama!!"
Seketika tawa Luna meledak mendengar ucapan Nathan. Tapi detik berikutnya tawa itu berganti menjadi senyum tipis yang sarat akan makna. Luna mendekati Nathan kemudian memeluknya
"Aku senang kau cemas dan mungkin cemburu,"
Nathan menjitak kepala Luna. "Dasar bodoh!!" ucapnya dan membalas pelukan Luna. Meskipun awalnya ia ragu dengan perasaan yang ia rasakan, namun pada akhirnya Nathan mengerti perasaan apa yang ia miliki pada Luna.
__ADS_1
Nathan melepaskan pelukannya dan menatap Luna. "Kau bisa terlambat jika kita tidak berangkat sekarang." Ucap Nathan dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah,"
.
.
Sebuah Lamborghini Veneno berhenti di depan pagar sebuah universitas ternama di kota Seoul. Mobil itu diisi oleh dua orang, pria dan wanita. Mereka berdua adalah nathan dan Luna, Nathan datang untuk mengantarkan istrinya. Ini hari pertama Luna kembali kuliah.
"Aku mengantarmu sampai sini saja," ucap Nathan sambil mengunci langsung ke dalam manik Hazel istrinya.
Nathan menggeleng. "Itu terlalu menarik perhatian, dan kebetulan aku sedang ada urusan penting. Jadi aku tidak bisa berlama-lama," jawab Nathan.
"Lalu bagaimana aku pulangnya nanti, kau jemput atau~?!"
"Aku jemput!!" Nathan menyela cepat. "Saat kau pulang aku belum datang, kau bisa menunggu di cafe seberang jalan itu. Jangan pulang sendirian, apalagi menerima tebengan dari pria lain!!"
Luna tersenyum jahil. "Memangnya kenapa aku tidak boleh menerima tebengan pria lain? Kan lumayan bisa mengirit waktumu juga, tidak perlu jauh-jauh datang kemari untuk menjemputku!!"
__ADS_1
"Kau sudah bosan hidup ya?!" ucap Nathan sambil menatap Luna dengan tajam. Bukannya takut, Luna malah tertawa keras mendengar apa yang Nathan katakan. "Kenapa kau tertawa, apanya yang lucu?!"
Luna menggeleng. "Tidak ada!! Ya sudah Aku turun dulu," Luna mencium pipi Nathan sebelum turun dari mobilnya. "Ehh," Luna tertarik ke depan dan jatuh kepelukan Nathan. Bukannya bibirnya, tetapi Nathan malah menghisap lehernya. "Nathan, Apa yang kau lakukan?!" kaget Luna sambil memegangi lehernya.
"Tanda di lehermu adalah bukti jika kau sudah ada yang memiliki!! Jadi jangan coba-coba untuk membiarkan pria lain mendekatimu!!"
Luna mendengus berat. "Dasar kau ini!! Sejak kapan pria dingin sepertimu menjadi sangat protektif?! Tapi ini oke juga, ya sudah aku turun dulu. Jangan lupa untuk menjemputku nanti!!"
"Hn, baiklah."
Setelah memastikan Luna masuk ke kampusnya. Nathan kembali menghidupkan mesin mobilnya dan segera tancap gas.
Mobil sport mewah itu melaju kencang meninggalkan area perkampusan.
.
.
Bersambung.
__ADS_1