
Melisa menghentikan mobilnya saat tanpa sengaja ia melihat keberadaan Luna di sebuah taman. Wanita itu tak hanya sendirian, iya bersama seorang pria yang pastinya adalah Nathan.
Ingin sekali rasanya Melisa menghampiri Luna kemudian memeluknya. Tetapi ia tidak berani melakukannya karena Luna telah menolaknya.
Memangnya Ibu mana yang ingin jauh dari darah dagingnya, tetapi keadaan saat itulah yang tidak memungkinkan untuk ia dan Luna tetap bersama.
"Luna, andai saja kau tahu seberapa tersiksanya mama ketika jauh darimu dulu. Bukan maksud mama untuk berniat jahat padamu, Nak. Hanya saja pada saat itu keadaan sungguh tidak memungkinkan untuk kita bersama-sama. Jangankan untuk merawatmu, untuk merawat diri sendiri saja Mama tidak bisa!!"
Melisa menghapus air matanya yang membasahi wajah cantiknya, dia tidak boleh lemah apalagi Rapuh. Melisa masih harus memperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan dari putrinya.
Mungkin saat ini luna memang masih belum mau menerimanya, tetapi Melisa yakin jika suatu hari nanti hati Luna akan terbuka dan dia mau menerimanya!!
Buru-buru Melisa menghidupkan kembali mobilnya saat tau Nathan menyadari keberadaannya.
Di satu sisi Melisa ingin bertemu dengan Luna, namun di sisi lain ia belum siap dengan penolakan wanita itu untuk kedua kalinya.
.
.
"Apa yang sedang kau lihat?!"
Luna mengikuti arah pandang Nathan, tetapi ia tidak menemukan apapun selain pasangan lain yang sedang bermesraan. Mungkin karena Nathan iri pada mereka?! Pikir Luna.
Nathan terkejut saat tiba-tiba Luna memeluk lehernya. "Kenapa, apa kau iri pada kemesraan mereka?! Kita juga bisa melakukannya," ucap Luna.
Rupanya wanita itu telah salah paham. Luna berpikir jika Nathan melihat sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan, tetapi pada kenyataannya yang Nathan lihat adalah Melisa. Nathan tidak sengaja melihat keberadaannya ketika ia menoleh.
"Kenapa kau berpikir yang aku lihat adalah mereka berdua?!"
__ADS_1
"Jika bukan mereka berdua lalu siapa lagi yang kau lihat?! Bukankah hanya ada mereka berdua, dan jika kau mau bahkan kita bisa lebih mesra dari mereka berdua." ucap Luna.
Luna benar-benar salah paham. Dia mengira jika yang Nathan lihat adalah pasangan muda-mudi yang sedang bermesraan itu, namun pada kenyataannya bukan mereka. Tetapi Nathan tidak mau memberitahu Luna jika yang ia lihat adalah Melisa, karena itu bisa membuat mood Luna kembali memburuk.
"Bukan apa-apa. Ya sudah, ayo kita pulang."
Luna mengangguk. Tapi sebelum pulang, bisakah kita makan malam terlebih dulu. Aku lapar," rengek Luna sambil memegangi perutnya.
Nathan mendengus. "Dasar perut karet, makanmu banyak tapi kenapa tubuhmu tidak besar-besar!! Kau ingin makan malam di mana?!"
Luna menghentikan langkahnya lalu berpikir. "Hm, bagaimana jika di tempat biasa saja. Eitt, tapi bukan di cafe murahan apalagi kedai pinggir jalan. Melainkan di restoran bintang 5!!"
"Hm, baiklah. Di manapun asalkan kau senang," ucap nathan sambil mengusap kepala Luna.
Wanita itu tersenyum lebar. "Kau memang yang terbaik, tunggu apa lagi?! Ayo pergi sekarang!!" Luna memeluk lengan terbuka suaminya dan menariknya menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya.
.
.
Mereka berdua tiba di restoran yang Luna inginkan. Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka berdua mengantarkannya ke ruang VIP. Para pelayan di sana tentu sudah mengenal Nathan dengan baik, dia adalah pengunjung VIP.
Beberapa pelayan masuk ke dalam ruangan membawa menu-menu yang telah dipesan. Dan hampir semua adalah makanan kesukaan Luna, tentu saja Nathan yang memesan semua menu-menu itu karena dia ingin menyenangkan hati istrinya.
"Eh, bukankah yang ada di meja ini adalah makanan kesukaanku?! Kenapa kau tidak memesan makanan yang ingin kau makan?" luna menatap Nathan dengan bingung.
"Memangnya kenapa jika yang aku pesan adalah makanan kesukaanmu semua?! Bagiku tidaklah masalah yang penting kau bisa menikmatinya dengan senang." Jawab Nathan.
Luna tersenyum lebar. Wanita itu kemudian menghampiri Nathan lalu duduk dipangkuannya. Kedua tangannya memeluk leher pria itu dengan erat sambil menatap mata kanannya. "Apa sepenting itu arti diriku bagimu?"
__ADS_1
"Menurutmu?!"
Luna menggeleng. "Aku tidak tahu!!" ucapnya seraya beranjak dari pangkuan Nathan. Namun sayangnya tak diizinkan oleh pria itu, Nathan menarik tengkuk Luna kemudian mencium singkat bibirnya.
"Mau kabur kemana kau?! Kau pikir bisa semudah itu pergi dariku!! Karena aku tidak akan membiarkannya!!" ucapnya kemudian mencium bibir Luna untuk kedua kalinya.
Mellumat bibirnya dengan lembut membuatnya pikirannya kosong seketika. Ia hanya terdiam beberapa detik hingga tak sadar kemudian mulai membalas ciuman itu dengan ciuman panas yang menuntut.
Nathan menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan untuk memperdalam ciumannya, seolah ingin melahap bibir mungil itu. Ciuman panas itu kemudian berubah cepat menjadi french kiss, kedua lidah mereka berdua bertempur keras seolah tidak ada yang mau mengalah.
Bahkan liiur entah milik siapa menetes dari bibir keduanya, itu benar – benar ciuman panas yang membuat siapa saja bernaffsu melihatnya.
Nathan memegang wajah Luna dan memperdalam ciuman mereka, Luna tak ragu sedikit pun untuk membalas ciuman suaminya! Dan ia ingin berteriak sekeras-kerasnya saat itu juga untuk mengekspresikan perasaan bahagianya.
Namun Luna hanya bisa tersenyum disela ciuman mereka, ia benar-benar bahagia. Apalagi ini adalah ciuman yang sangat manis, dan ini menjadi ciuman terbaik dalam hidupnya.
Ciuman panas itu berlangsung cukup lama, hingga keduanya merasa pasokan oksigen keduanya mulai menipis. Dan ciuman itu pun harus diputus dengan perasaan tidak rela.
Setelah ciuman itu terputus, keduanya tampak terengah-engah menghirup oksigen. Pipi keduanya tampak memerah, antara malu atau bahagia. Dan keduanya tampak menikmati ciuman itu bukan?
Luna tersenyum lebar pada suaminya. "Itu tadi adalah ciuman termanis yang pernah aku rasakan. Terimakasih telah memberi warna dalam hidupku, aku bahagia memilikimu di sisiku." ucap Luna kemudian berhambur ke pelukan Nathan.
Nathan tersenyum lebar. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luna. Hati Nathan terasa menghangat, belum pernah dia merasakan kebahagiaan seperti ini dalam hidupnya.
Kemudian pria itu melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus sisa liur di bibir Luna."Sebaiknya kau turun dulu, makanannya sudah hampir dingin." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah, mari makan!!" seru wanita itu dengan bahagia. Nathan mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang terkadang seperti bocah.
Dan selanjutnya makan malam mereka lewati dengan tenang. Tak ada lagi percakapan diantara keduanya. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan. Mereka sama-sama diam dalam keheningan.
__ADS_1