Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Nasib Jones


__ADS_3

"What?! Ketua kalian!! Jadi sebenarnya dia itu adalah seorang Mafia?!!"


Luna tak bisa menahan keterkejutannya setelah dia mengetahui jika sebenarnya Nathan adalah seorang Mafia.


Dia memang tahu jika Nathan adalah orang yang berbahaya, tetapi Luna tak pernah menduga jika dia adalah seorang Bos dari dunia bawah yang tak diragukan lagi kekejamannya.


Pantas saja jika ayahnya selalu bersikap hati-hati ketika berbicara dengannya, mungkin dia takut jika ucapannya menyinggung perasaan Nathan dan membuatnya marah.


Disaat ayahnya mati-matian menjaga emosi Nathan tetap stabil, justru dirinyalah yang berkali-kali membuat pria itu marah. Beruntung Nathan tak sampai lepas kendali kemudian menembak mati dirinya.


"Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahumu tentang siapa diriku, tetapi ayahmu sendiri yang melarangnya. Dia bilang tak penting kau mengetahui siapa diriku yang sebenarnya." Jelas Nathan.


"Ini benar-benar aneh tapi nyata. Dan rasanya aku seperti sebuah karakter fiktif dalam novel, si gadis baik hati yang memiliki suami seorang Mafia. Benar-benar sulit dipercaya." Ujar Luna.


"Apa kau merasa kecewa atau menyesal setelah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya?!" Nathan menatap langsung ke dalam netra Hazel Luna.


Wanita itu menggeleng. "Memangnya apa yang perlu disesali?! Lagi pula aku yang memaksa untuk menikahiku, yang artinya aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Siapapun dirimu, apapun profesimu, itu semua tak penting bagiku. Karena yang terpenting bagiku adalah dirimu."


Nathan mendekati Luna dan menepuk kepalanya dengan lembut. "Aku lega karena kau tidak mempermasalahkannya. Dan aku minta maaf, karena tak jujur padamu sejak awal tentang siapa diriku dan apa profesiku yang sebenarnya." Ucap Nathan penuh sesal.


Luna menggeleng. "Tidak apa-apa, dan kau tidak perlu meminta maaf juga." Jawab Luna. Dan para Jones hanya bisa gigit jari melihat kemesraan mereka berdua.


Sungguh tragis nasib Arya, Chan dan Max. Dan ujian terbesar bagi para Jones adalah melihat pasangan suami-istri bermesraan di depan mereka bertiga.


Max memeluk Chan, sementara Arya menggigit ujung kemejanya.


"Kenapa kalian berdua kejam sekali pada Kami bertiga yang Jones ini?! Seharusnya jika ingin bermesraan jangan di depan kami, karena hal itu sangat menyakitkan membuat hati seraya disayat-sayat Sembilu. Sakit tapi tak berdarah!!" ucap Max sambil mengarahkan kepalan tangannya ke arah dada kirinya.


"Huhuhu, begini amat nasib menjadi Jones. Tuhan, aku ingin memiliki pasangan juga!!" teriak Arya sambil menyeka air matanya.


Luna dan Nathan mendengus berat melihat drama mereka bertiga. Mereka benar-benar seperti bocah, sangat kekanakan. "Kita tinggalkan saja mereka, kau pasti lelah sebaiknya kita istirahat di kamarku saja." Ucap nathan dan dibalas anggukan oleh Luna.


Keduanya kemudian melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga. Sebaiknya mereka bermesraan di tempat lain saja, dari pada membuat tiga Jones menangis darah.


.

__ADS_1


.


Baru juga Luna hendak menutup matanya. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, wanita itu kemudian bangkit dari posisinya lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Dahi Luna berkerut melihat nama ayahnya tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


Kemudian Luna menerima panggilan tersebut.


"Halo, Pa. Ada apa Papa menghubungiku?"


"Luna, dimana kau sekarang?! Pulang sekarang juga, ada hal penting yang ingin Papa sampaikan padamu!!"


Dahi Luna berkerut. "Memangnya hal penting apa, Pa?! Sepertinya serius sekali," ucap wanita itu penasaran.


"Papa, akan memberitahumu ketika tiba di rumah. Karena yang ingin Papa sampaikan, sangatlah penting, dan kita harus bicara secara Face to Face."


Luna terdiam mendengar ucapan ayahnya. Memangnya hal penting apa yang ini dia sampaikan padanya, sepertinya benar-benar penting. Dan Hal itu membuat Luna penasaran Setengah Mati.


"Baiklah, Pa. Aku akan pulang sekarang juga,"


Pria itu memicingkan matanya dan menatap Luna penasaran.


"Ada apa, kenapa kau terlihat sangat besar? Apa terjadi sesuatu?"


Luna mengangkat wajahnya dan membalas tatapan suaminya. "Papa, menghubungiku dan meminta kita untuk segera pulang." Jawab Luna.


"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu." ucap Nathan dan dibalas anggukan oleh wanita itu.


"Baiklah,"


.


.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Tuan Xia dan seorang wanita di ruang keluarga. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Melisa, putri kandung Tuan Xia.

__ADS_1


Melisa menatap ayahnya penuh kerinduan, begitupun sebaliknya. Setelah terpisah selama puluhan tahun, akhirnya mereka bertemu dan berkumpul kembali.


Wanita itu mendekati sang ayah, kemudian memeluknya.


"Pa, kenapa kau hanya diam saja ketika melihatku datang?! Apa kau tidak merindukanku? Pa, aku merindukanmu. Aku sangat-sangat merindukan Papa," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


Tuan Xia menyeka air matanya yang menggenangi pelupuknya. Sesekali kepalanya menengadah ke atas, mencegah air matanya agar tidak sampai menetes.


"Anak bodoh, jika kau merindukan Papa? Lalu kenapa kau tidak pernah pulang untuk bertemu dengan, Papa?! Apa kau marah pada Papa karena telah mengusirmu keluar dari rumah ini?!" ucap Tuan Xia dengan suara parau seperti menahan tangis.


Melisa menggeleng. "Aku tidak pernah membenci, Papa. Aku ingin sekali pulang, tetapi aku takut Papa tidak menerimaku kembali." ucapnya dengan suara parau dan sedikit serak.


"Dasar anak bodoh!! Dimana ada seorang Ayah yang tidak mau menerima putrinya kembali?! Justru Papa sangat merindukanmu, Melisa. Papa, memikirkanmu Siang dan Malam. Kenapa, Nak?"


"Kenapa kau harus kabur dan meninggalkan Papa sendirian dengan membawa beban seberat itu?! Apa kau pikir Papa akan marah dan murka padamu?! Kau pulang hanya untuk mengantarkan cucu, Papa. Kemudian kau pergi lagi tanpa menemui Papa sama sekali. Dan putrimu, telah tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik,"


"Benarkah, Pa?! Lalu di mana dia sekarang, bisakah aku bertemu dengannya?!" ucap Melisa.


Tuan Xia mengangguk. "Tentu saja, sebentar lagi kau bisa bertemu dengannya!!"


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian keduanya, Tuan Xia tersenyum lebar. "Itu dia, ayo kita keluar dan Sambut dia."


Melisa mengangguk. Hati Melisa berkecambuk hebat, sebentar lagi dia akan bertemu dengan putrinya, buah hatinya yang ia tinggalkan selama puluhan tahun.


Wanita itu pernah ternoda ketika dia berusia 13 tahun. Takut ayahnya akan murka saat mengetahui tentang kehamilannya, Melisa pun memutuskan untuk pergi dari rumah.


Dia tetap mempertahankan kehamilannya meskipun ayah dari anak yang ia kandung itu tak mau bertanggung jawab. Janinnya tidak bersalah, tetapi dialah yang bersalah, itulah yang menjadi alasan Melisa tetap mempertahankan kehamilannya.


Selama dia hamil, Melisa tinggal di sebuah pedesaan kecil yang terletak di barat kota Seoul. Berkata bantuan dan pertolongan warga desa, Melisa berhasil melahirkan Luna dengan selamat. Dan dia langsung mengantarkan bayi Luna yang masih merah itu pulang ke rumahnya. Agar bisa dirawat oleh ayahnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2