Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Tidak Lucu!!


__ADS_3

"Papa, kami pulang!!"


Seruan keras yang berasal dari teras depan berkaur ditelinga Tuan Xia dan Melisa.


Kedua mata Melisa tampak berkaca-kaca mendengar suara cempreng yang itu, dan dia tahu itu adalah suara putrinya.


Selang beberapa detik, terlihat Luna dan Nathan memasuki ruang tamu.


Jantung Melisa serasa berhenti berdetak detik itu juga saat melihat sosok perempuan muda yang berjalan kearahnya dan Tuan Xia.


Rasanya Melisa ingin sekali memeluk Luna dan mengatakan padanya jika ia adalah ibu kandungnya, orang yang telah mengandung dan melahirkannya.


Tetapi Melisa tidak berani karena takut dianggap gila oleh Luna.


"Pa, ada apa kau meminta kami untuk cepat-cepat pulang?" tanya Luna Setibanya Iya di depan Tuan Xia. Lalu pandangan Luna bergulir pada Melisa. "Omo!! Siapa dia? Apa dia calon istri, Papa?! Oh, jangan-jangan karena kau ingin memperkenalkan calon istrimu ini pada kami kan?!" ucap Luna menggoda.


"Sembarangan!! Tentu saja bukan, dan alasan Papa memintamu untuk pulang itu memang ada hubungannya dengan dia. Tapi Papa pertegas, dia bukan calon istri, Papa!! Sebaiknya kita bicara di kamar Papa saja, ada hal penting yang ingin Papa katakan padamu." Ucap Tuan Xia.


"Serius sekali? Apa sepenting itu?"


"Ya, sangat penting."


Luna memicingkan matanya dan menatap ayahnya itu penuh tanya. Kenapa ekspresinya terlihat begitu serius, dan belum pernah Luna melihat ayahnya sampai seserius itu. Dan hal itu membuatnya semakin penasaran dengan apa yang ingin disampaikan olehnya.


Dan di sini Mereka sekarang, mereka berempat berkumpul di kamar Tuan Xia.


Meskipun Nathan adalah orang baru, tetapi Tuan Xia tetap melibatkannya, karena bagaimanapun juga dia sudah menjadi bagian dari keluarga Xia.


Suasana seketika menjadi hening. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Tuan Xia, entah apa yang ia pikirkan saat ini sampai-sampai Tuan Xia belum menyampaikan apapun pada Luna.

__ADS_1


Tak ingin rasa penasaran membunuhnya. Luna pun berinisiatif untuk bertanya pada ayahnya. "Sampai kapan Papa akan diam?! Bukankah Papa bilang ingin menyampaikan hal penting padaku, jangan membuatku penasaran, Pa!!"


Tuan Xia menutup matanya dan mengambil nafas panjang. Paruh baya itu menatap Luna dengan pandangan serius. "Luna, ada hal penting yang harus katakan padamu. Sebenarnya, Papa bukanlah Ayah kandungmu melainkan Kakekmu!!" Ucapnya dan membuat Luna kebingungan dibuatnya.


"Maksud Papa apa?! Jangan membuatku bingung, Pa!!"


"Luna, Papa mengatakan yang sebenarnya. Dan perempuan yang ada di hadapanmu ini, dia adalah Ibu kandungmu, orang yang telah melahirkanmu!!"


Luna tertawa sambil menggelengkan kepala. Menurutnya itu tidak lucu. "Tidak mungkin!! Sungguh, bercanda Papa tidak lucu sama sekali. Bagaimana bisa wanita yang lebih pantas menjadi kakakku, Papa sebut sebagai ibu kandungku!!"


Bukan hanya Luna yang terkejut, tetapi Nathan juga. Apa yang disampaikan oleh Tuan Xia benar-benar tidak masuk akal. Dan pasti ada penjelasan tentang apa yang Tuan Xia katakan.


Melisa menghampiri Luna dan mencoba memberikan penjelasan padanya. "Apa yang dikatakan olehnya benar, Luna. Dia bukan ayahmu, melainkan Kakekmu. Dan Aku adalah orang yang telah mengandung dan melahirkanmu!! Kau boleh tidak mempercayainya, tetapi inilah faktanya!!" tutur Melisa.


"Dia pernah ternodai ketika usianya 13 tahun, dan Ibumu melahirkanmu di usia 14." Tuan Xia mencoba memberikan penjelasan pada Luna tentang apa yang terjadi sebenarnya.


Kata demi kata keluar dari bibir Tuan Xia dengan sangat jelas. Buat buliran-buliran air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mata Melisa, sementara Luna hanya diam tertegun mendengar apa yang disampikan oleh Tuan Xia.


"Demi mempertahankan dirimu, melisa memutuskan untuk meninggalkan rumah ini dan hidup ditempat asing. Dia sangat takut kehilanganmu, itulah kenapa Melisa mati-matian mempertahankanmu."


"Dan agar kau mendapatkan kehidupan yang layak, Melisa mengirimmu pulang. Dia ingin putrinya tumbuh dengan limpahan kasih sayang, dan sejak saat itu aku menggantikan perannya sebagai orang tuamu. Orang yang seharusnya kau panggil kakek, malah kau kenal dengan sebutan Papa. Dan jika ingin menyalahkan, jangan salahkan Melisa, tetapi salahkan Papa!!"


Luna tertawa hambar. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana, bahagia, kecewa atau~??! Entahlah, Luna tidak tau.


Dan untuk saat ini, dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Aku tidak tahu!! Semua ini terlalu membingungkan, kau kalian berdua membuatku tidak mengerti dan hilang akal. Sebaiknya aku istirahat saja!!" Luna meninggalkan kamar Tuan Xia dan pergi ke kamarnya sendiri.


.

__ADS_1


.


Luna mengangkat kepalanya mendengar suara pintu dibuka. Sosok Nathan terlihat memasuki kamar lalu berjalan menghampirinya.


Pria itu menatap Luna dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Tanpa Luna mengatakan apapun, tentu saja Nathan sudah mengerti apa yang dia rasakan saat ini.


"Semua ini sangat membingungkan untukku!! Aku benar-benar tidak mengerti sama sekali, tiba-tiba Papa mengatakan Jika dia bukan ayahku melainkan Kakekmu. Kemudian kedatangan wanita bernama Melisa itu yang mengaku sebagai ibuku, orang tua kandungku. Semua ini benar-benar tidak masuk akal, aku sama sekali tidak mengerti." Ujar Luna sambil menutup rapat-rapat kedua matanya.


Nathan menepuk kepala Luna membuat wanita itu mau tidak mau mengangkat kepalanya dan membuka kembali matanya.


Lensa Hazel-nya langsung bersirobok dengan mata hitam milik Nathan.


"Aku memahami betul apa yang kau rasakan, Luna. Semua ini pasti sangat membingungkan bagimu, tetapi kau harus bisa menerima fakta dan kenyataan yang ada. Jika orang yang selama ini kau anggap sebagai ayahmu, ternyata adalah kakekmu."


"Dan kau sudah mendengarnya sendiri apa alasan mereka bersikap sekejam itu padamu, aku tidak akan melarangmu untuk marah dan kecewa.Tetapi aku harap perasaan yang kau rasakan saat ini tidaklah berkepanjangan!!"


Luna menggeleng. "Semua tidaklah sesederhana itu, Nathan. Kau tidak ada di posisiku dan merasakan apa yang aku rasakan sekarang, ini semua membuat dadaku terasa sesak, sampai-sampai membuatku sulit untuk bernafas." Ujar Luna.


Wanita itu memukul dada kirinya dengan kepalan tangannya. Buliran-buliran bening terus bercucuran dari kedua Netra indahnya.


"Disini rasanya sangat sesak, sampai-sampai aku tidak bisa bernafas. Sakit sekali rasanya!!" lirih Luna dengan suara paraunya. Orang lain pasti akan tersayat-sayat hatinya ketika mendengar suara pilunya.


Nathan menatap wanitanya dengan sendu. Dia mendekati Luna kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


Nathan meletakkan dagunya di atas kepala Luna dan mendekapnya dengan erat. Dia membiarkan Luna menangis dan menumpahkan semua kesedihannya di atas bahunya, karena Nathan ingin Luna hanya bergantung pada dirinya!!


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2