Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Jangan Memaksaku!!


__ADS_3

Luna merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada tempat tidur milik Nathan yang super nyaman.


Dia baru saja selesai bermain kartu dengan ketiga anak buah Nathan yang bisa dikatakan sangat unik dan langkah.


Meskipun awalnya Luna sempat diremehkan dan dianggap tidak bisa bermain kartu, ternyata dia malah mengalahkan mereka bertiga dengan telak.


Hingga ketiganya menerima hukuman dari Luna, dan hukuman yang mereka dapatkan sangat ekstrim.


Luna meminta mereka bertiga untuk menyanyi dan menari di lampu merah dengan pakaian renang milik wanita. "Kenapa sudah kembali? Apakah permainan kartunya tidak menyenangkan?!" tanya Nathan sambil menghampiri Luna.


Kemudian wanita itu bangkit dari posisinya sambil tersenyum lebar. "Tentu saja menyenangkan, dan apa kau tahu jika aku berhasil mengalahkan mereka bertiga dengan telak!! Dan sekarang mereka bertiga sedang menerima hukuman dariku, salah satu anak buahmu sekarang sedang mengawasi mereka bertiga!!" ujar Luna.


Nathan memicingkan matanya dan menatap Luna tak bercahaya. "Kau benar-benar bisa bermain kartu?!" ucap Nathan memastikan, dan Luna mengangguk membenarkan.


"Ya, tentu saja bisa. Begini-begini aku pernah mengalahkan raja Judii ketika masih duduk dibangku sekolah menengah akhir!! Dan apa kau tahu apa yang terjadi padanya?!" Nathan menggeleng. "Dia mundur dari dunia perjudiian, dan sekarang malah bekerja sebagai tukang kebun di sekolahku dulu!!"


Rasanya Nathan tak percaya mendengar apa yang baru saja Luna katakan. Memangnya seberapa banyak lagi keahlian tidak biasa yang Luna miliki, tetapi tidak dimiliki oleh perempuan lain di luaran sana?! Luna benar-benar berbeda dengan para wanita yang pernah dia temui selama ini.


Lalu pandangan Luna bergulir pada perutnya Nathan yang terbuka, karena dia bertellanjang dada. Nathan belum memakai pakaiannya setelah mandi, kecuali celana panjang yang menggantung di pinggulnya.


"Wow, jangan bilang jika kau berusaha menggodaku dengan roti sobekmu?!" Luna menatap Nathan dengan seringai nakal.


"Hm,"

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin sekali bermain kuda-kudaan denganmu malam ini, tapi sayangnya moodku sedang dalam keadaan yang tidak baik. Sepertinya aku harus menundanya," ucap Luna.


"Masih memikirkan tentang kebohongan ayahmu? Bukan, tapi Kakekmu?! Luna, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan termasuk, dia. Karena di dunia ini tak ada manusia yang terlahir sempurna tanpa kesalahan sama sekali. Jadi tidak ada gunanya memendam kemarahanmu terlalu lama dan menghukum mereka dengan kejam!!"


Luna menggeleng. "Kau bisa bicara begini karena tidak berada di posisiku, Nathan. Jika saja kau menjadi aku, pasti kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan saat ini. Memang ada mengatakan, tetapi untuk berada di posisiku tentu tidaklah mudah. Jadi untuk itu jangan memaksaku untuk menerima kenyataan jika aku bukanlah putri dari ayahku!!"


Untuk menerima apa yang terjadi saat ini tentu saja bukanlah perkara yang mudah bagi Luna, dia masih membutuhkan waktu untuk bisa menerima semuanya. Dan Luna masih belum siap menerima Melisa sebagai ibunya.


"Aku lelah. Aku tidur duluan," ucap Luna beranjak dari hadapan Nathan. Nathan telah menghancurkan mood yang sudah Luna bangun dengan susah payah.


Nathan menghela nafas panjang. Memang seharusnya dia tidak membahas hal sensitif yang bisa menghancurkan mood Luna.


Tetapi Luna juga tidak boleh bersikap egois dan menghakimi wanita itu, Melisa.


Karena bukan salah Melisa melainkan Tuan Xia!!


.


.


Pria itu menoleh saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Nathan melirik dari ekor matanya dan mendapati Max berjalan menghampirinya. "Mau minum?" tawar pria itu sambil menyodorkan wine padanya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nathan mengambil wine itu dari tangan Max lalu meneguknya. "Kau terlihat kacau, apa terjadi sesuatu?" tanya pria itu. Max adalah satu-satunya yang paling tua diantara mereka berempat dan orang yang bisa dikatakan paling dekat dengan Nathan.

__ADS_1


Jadi tanpa Nathan mengatakannya sekalipun, Max sudah tau jika dia menyimpan sebuah beban. "Apa ini ada hubungannya dengan istrimu?! Kalian sedang bertengkar, tapi aku rasa tidak!! Karena aku melihat hubungan kalian terlihat baik-baik saja atau mungkin karena hal lain?!"


"Permasalahanya ada pada keluarganya. Pria yang selama ini dia anggap sebagai ayahnya, ternyata dia adalah kakeknya. Putrinya pernah ternoda ketika dia berusia 13 tahun, kemudian dia melahirkan Luna di usia 14 tahun. Setelah melahirkan, dia mengirim putrinya pulang kepada ayahnya sementara dia pergi ke luar negeri."


"Dan di sinilah awal permasalahan itu terjadi!! Xia Junsu nggak pernah mau jujur pada Luna jika sebenarnya dia adalah kakeknya, bukan ayahnya. Dan dia baru mengungkapkan kebenaran itu setelah putrinya kembali, Luna yang merasa dibohongi menjadi sangat kecewa padanya!! Dan terus terang itu sangat membebaniku!!"


Max terdiam mendengar apa yang Nathan katakan. Tidak pernah dia melihat bosnya ini peduli pada orang lain, apalagi orang itu adalah perempuan. Mungkinkah Nathan benar-benar jatuh cinta padanya?! Dan ini pertama kalinya Max melihat Nathan membawa wanita pulang ke kediamannya.


"Apa dia se-special itu bagimu?! Belum pernah aku melihatmu yang begitu peduli pada orang lain terlebih-lebih itu adalah seorang wanita." Ucap Max sambil mengunci langsung ke dalam mata Nathan.


Nathan menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu!! Jujur saja, aku masih bingung dengan perasaan yang aku rasakan saat ini. Ketika melihatnya menangis, hatiku rasanya seperti diiris-iris. Ketika melihatnya bahagia, rasanya hatiku menghangat. Aku selalu nyaman ketika dia berada di dekatku, dan aku merasa kosong ketika dia tidak ada." Ujar Nathan.


Max tersenyum lebar. "Fix, itu artinya kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya, dan aku mendukungnya. Semoga saja segera launching baby Nathan, karena aku sudah tidak sabar ingin segera dipanggil paman."


"Jangan banyak berharap untuk saat ini, karena aku dan Luna sama-sama sepakat untuk menundanya. Kami berdua masih belum siap untuk memiliki momongan, apalagi dengan tempramenku yang sangat buruk ini!!"


Max mengangguk paham. "Ya, aku bisa mengerti!! Karena menjadi orang tua tidaklah mudah, dan itulah yang menjadi alasanku kenapa masih belum menikah sampai detik ini. Karena aku masih ingin menikmati masa mudaku, Apalagi setelah menikah kita tidak bisa menjadi diri sendiri lagi!!"


Jika ada yang bertanya apakah Nathan dan Luna benar-benar saling mencintai?! Maka jawabannya adalah abu-abu, meskipun kata cinta seringkali terucap dari bibir mereka tetapi pancaran matanya terkadang tak membuktikan jika mereka berdua memang tak saling mencintai.


Akan tetapi, mereka saling membutuhkan dan kehadiran Luna sedikit banyak merubah Nathan menjadi pribadi yang berbeda. Dengan kata lain, kehadiran Luna memberi arti tersendiri padanya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2