
Pasca ciuman di cafe, Luna menjadi sedikit menjauhi Nathan. Luna benar-benar malu dengan apa yang telah ia lakukan itu. Bagaimana bisa dia membuang harga dirinya di depan pria dingin seperti Nathan.
Satu Minggu sudah Luna terus menghindarinya. Dia benar-benar kehilangan muka di depan pria itu. Memang benar Nathan tak mempermasalahkannya, tetapi tetap saja yang ia lakukan hari itu sangatlah memalukan. Apalagi Luna melakukannya di depan banyak orang.
Dan sikap Luna tentu saja menimbulkan sebuah tanda tanya besar di benak Tuan Xia. Dan satu-satunya orang yang bisa memberinya jawaban atas sikap putrinya itu adalah Nathan. Tuan Xia menghampiri Nathan di kamarnya.
"Nathan, ada yang ingin aku tanyakan padamu, dan ini mengenai Luna. Kenapa aku merasa sikapnya sedikit aneh, entah itu hanya perasaanku saja atau memang benar jika dia sedang menghindarimu? Apa itu benar" tanya Tuan Xia.
Nathan tak langsung menjawab dan hanya menatap pria setengah baya itu dengan pandangan datar. Kemudian pria itu menghela napas panjang. "Itu bukan hanya perasaanmu saja, tetapi dia benar-benar menghindariku." Jawab Nathan membenarkan. Dan Tuan Xia semakin kebingungan dan penasaran.
"Kenapa bisa begitu, memangnya apa yang terjadi? Apa kalian berdua habis bertengkar?" tanya Tuan Xia memastikan.
Nathan menggeleng. "Bukan karena hal itu. Karena aku dan Luna tidak bertengkar sama sekali, tetapi karena hal lain."
"Hal lain? Kira-kira hal apa itu?" tanya Tuan Xia penasaran.
Haruskah Nathan memberitahu Tuan Xia alasan kenapa Luna menghindarinya? Tetapi Nathan rasa itu tidaklah perlu, apalagi hal itu bersikap pribadi.
"Itu bukanlah hal penting yang untuk dibahas, lagi pula aku tidak mempermasalahkannya." Ucap Nathan membalas tatapan tuan Xia.
"Tetapi aku yang merasa tidak enak padamu. Aku takut jika putriku sampai melakukan kesalahan lalu membuatmu kesal"
Nathan menggeleng. "Tidak sama sekali,"
"Baguslah kalau begitu, ya sudah aku keluar dulu. Sebaiknya kau istirahat saja. Ini sudah hampir larut malam," ucap Tuan Xia pergi begitu saja. Meninggalkan Nathan sendirian di kamarnya.
__ADS_1
Pandangan Nathan kembali bergulir pada langit malam, bulan berpendar di atas sana dengan jutaan manik-manik langit menemaninya. Dan jujur saja, Nathan merasakan kekosongan sejak Luna memutuskan untuk menghindarinya. Dia merindukan sifat menyebalkan gadis itu.
.
.
Satu minggu telah berlalu, tetapi hal memalukan yang ia lakukan pada Nathan di cafe masih begitu segar di ingatannya.
Setiap kali mengingatnya pasti wajah Luna akan langsung memerah dan itu membuatnya malu sendiri. Ia merasa jika dirinya sudah seperti wanita murahan saja karena berani mencuri ciuman dari seorang laki-laki.
Dan sejak saat itu, Luna memutuskan untuk menghindari Nathan, dia benar-benar tidak berani berhadapan langsung dengan pria itu apalagi bertatap muka dengannya. Luna merasa malu.
Ting...
Sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya, mengalihkan perhatian Luna. Gadis itu bangkit dari duduknya ambil ponselnya yang berada di atas meja riasnya.
Kedua mata Luna membelalak sempurna setelah membaca pesan singkat itu. Dan dia tahu siapa orang yang mengirimnya pesan.
Kemudian dia mengirim pesan balasan untuk orang itu.
"Dasar sahabat tak punya hati, setelah menghilang selama bertahun-tahun. Tiba-tiba sekarang kau kembali, dan tanpa rasa bersalah sedikitpun kau mengajakku untuk bertemu!!"
"Yakk!! Awas saja jika kau tidak membawakan oleh-oleh spesial untukku!! Aku pasti akan menggantungmu hidup-hidup." kemudian Luna mengirim pesan balasan pada sahabatnya tersebut.
Orang itu bernama Marissa. Dia dan Luna sudah bersahabat sejak sama-sama duduk di bangku sekolah dasar.
__ADS_1
Dimana ada Luna pasti di situ ada Marissa, dan Begitupun sebaliknya.
Tetapi empat tahun yang lalu tiba-tiba Marissa menghilang, dan yang Luna tahu perusahaan milik ayah sahabatnya itu mengalami kebangkrutan dan kemudian mereka memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Dan Sejak saat itu mereka berdua tidak pernah bertemu lagi.
Dan alasan Luna tidak pernah mengganti nomor ponselnya karena Marissa, agar jika sewaktu-waktu dia kembali Marissa tak kebingungan untuk menghubunginya.
"DADDY!!"
Luna berteriak histeri saat listrik di rumahnya mengalami pemadaman. Semua menjadi gelap, dan itu membuatnya ketakutan. Karena gelap adalah kelemahannya
Pemadaman listrik secara tiba-tiba tentu saja mengejutkan semua orang, termasuk Nathan. Karena hanya Mansion milik keluarga Xia yang mengalami pemadaman Listrik. Nathan pun segera pergi menghampiri Luna di kamarnya. Bisa saja pemadaman itu adalah trik seseorang untuk melancarkan aksinya.
Sementara itu, Luna mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Tetapi ia tidak bisa melihat Seperti apa wajahnya karena kamarnya dalam keadaan gelap gulita, yang terlihat hanya siluet seorang pria yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Na..Nathan, kaukah itu?" ucap Luna terbata-bata. Tapi tak ada jawaban. Orang itu tak menjawab dan terus berjalan mendekat kearahnya.
Brugg...
Tubuh orang itu tiba-tiba Terhempas ke lantai setelah mendapatkan tendangan telak ulu hatinya. Orang yang menendangnya kemudian menghampiri Luna yang meringkuk ketakutan, bukan karena kemunculan pria itu, tetapi karena gelap.
"Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu memastikan.
Kedua mata Luna membelalak lalu ia berhambur ke dalam pelukan pria itu seraya memanggil namanya. "NATHAN!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.