Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Jangan Banyak Alasan!!


__ADS_3

Rinai menyapa tanah dengan ramah. Datang perlahan-lahan, terjun bebas menuruni langit kelam menuju pelukan bumi. Mulai menari di atas atap, menemani binatang malam yang bernyanyi senang. Disusul angin sejuk yang mendekap, beku.


Harmoni suram di awal Maret yang muram.


Luna mengamati kota dari puncak salah satu gedung. Duduk di atas pagar pembatas. Menikmati bayu yang sangat tidak bersahabat. Manik Hazel miliknya menatap kerlap-kerlip lampu di bawah sana, tanpa emosi.


Rintik rinai belum juga berhenti. Dari gelapnya langit mendung, mungkin saja sekejap lagi tetesnya mengganas. Tetapi sang gadis tak hendak untuk acuh. Memilih terus memandangi gemerlap di bawahnya.


Derap langkah seseorang yang datang menyita perhatiannya. Dengan malas dia menoleh dan mendapati seorang pria dalam balutan pakaian hitam lengan terbuka berjalan menghampirinya.


"Kenapa wajahmu murung, apa tempat ini membuatmu kurang nyaman?" tanya pria itu yang pastinya adalah Nathan.


Luna Menggeleng. "Tempat ini sangat nyaman, hanya saja rintik hujan yang turun sedikit mengganggu."


"Siapa tadi yang ngotot untuk ikut? Sudah tahu mendung dan mau hujan, tapi tetap saja memaksakan diri!!" ucap Nathan menimpali.


Luna mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan!! Kita inikan masih pengantin baru, dan sebagai istri yang sayang suami, tentu saja aku tidak mau ditinggal sendirian. Bagaimana kalau tiba-tiba aku rindu dan ingin bertemu denganmu?! Sementara kau pergi selama berhari-hari," ujar Luna panjang lebar.


Mendengar ucapan Luna membuat Nathan geli sendiri, memangnya Sejak kapan dia menjadi sangat manja padanya?! Tetapi Nathan juga tidak bisa melarangnya, apalagi sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi suami-istri.


Saat ini Nathan dan Luna sedang berada di luar kota. Nathan pergi untuk mengurus sesuatu. Awalnya Nathan hendak pergi sendiri, tetapi Luna memaksa untuk ikut pergi, Nathan sudah melarangnya untuk ikut tetapi Luna malah memaksa.


"Ayo masuk, kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri disini," seru Nathan. Dia mengajak Luna untuk masuk tapi dia malah menolaknya.


"Nanti saja, aku masih belum puas memaki hijab sialan ini!!" jawabnya menimpali.


Nathan Mendengus. Bagaimana bisa Luna malah memberikan jawaban sekonyol itu.


Lagi pula mana bisa hujan merespon omelan Luna?! Meskipun sampai bibirnya kebas sekalipun, hujan tak akan mendengarkannya.


"Sudah jangan banyak alasan, masuk sekarang!!"


Luna mempoutkan bibirnya dan menatap Nathan dengan kesal. "Dasar pemaksa!! Kau benar-benar menyebalkan!!" ucapnya dan pergi begitu saja. Lagi-lagi Nathan mendengus, menggelengkan kepala melihat tingkah Luna.


Melihat tingkah perempuan itu yang terkadang kekanakan, membuat Nathan berpikir apakah yang dia nikahi adalah perempuan atau bocah?! Tetapi melihat tingkah Luna yang begitu menggemaskan terkadang memberikan hiburan sendiri untuk Nathan.


Luna membuang muka ketika melihat Nathan berjalan menghampirinya, dia benar-benar enggan untuk menatap suaminya. Nathan membuatnya kesal, persis seperti sebelum mereka menikah.

__ADS_1


Luna memicingkan matanya, ia merasa bingung saat tak merasakan gerakan disisi kosong tempat tidur di samping kanannya. Luna menoleh, namun Nathan tak terlihat berbaring maupun duduk disampingnya.


"Sial!!" sampai suara umpatan itu mengalihkan perhatiannya. Luna menoleh dan mendapati Natan berdiri di depan cermin.


Perban yang selama beberapa hari menutup mata kirinya Nathan lepas dan memperlihatkan kondisi matanya saat ini. Bukannya membaik, mata itu malah semakin memburuk.


Dan seharusnya mata kiri Nathan sudah sembuh, tetapi hantaman keras yang dia dapatkan beberapa hari lalu ketika menghadapi penyusup membuat kondisinya semakin parah.


Wajah Luna menunjukkan penyesalan, kemudian dia menghampiri Nathan dan berjalan mendekatinya.


"Kenapa semakin parah? Jika saja kau tidak menolak untuk pergi ke rumah sakit, pasti kondisinya tak akan separah ini!!" ucap Luna sambil mengunci kedua manik mata suaminya.


"Jangan memasang muka seperti itu!! Apa yang menimpaku itu tidak ada hubungannya denganmu, karena melindungimu sudah menjadi tugasku. Pergilah tidur, ini sudah malam."


Luna menggeleng. "Tidak mau!! Setidaknya biarkan aku membantumu mengobati mata kirimu yang terluka. Biarkan aku menjalankan Tugasku sebagai seorang istri,"


Nathan menghela nafas berat, dengan terpaksa dia menganggukkan kepala. Karena jika tidak diijinkan pasti Luna akan tetap memaksa. "Baiklah, kau boleh melakukannya," ucap Nathan pada akhirnya.


Sepanjang Luna mengobati mata kirinya, pandangan Nathan tak lepas sedikitpun dari perempuan itu. Memperhatikan setiap lekuk wajah cantiknya, mulai dari matanya yang indah, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis. Luna benar-benar cantik, dear Nathan mengakui itu.


"Jangan menatapku seperti itu, bagaimana jika kau nanti benar-benar jatuh cinta padaku?!" ucap Luna tanpa menatap lawan bicaranya, jujur saja ia sangat gugup karena ditatap sedalam itu oleh Nathan.


"Memangnya kenapa jika aku jatuh cinta pada istriku sendiri? Apakah itu salah? Dan jika aku benar-benar sampai jatuh cinta padamu, maka kau yang harus bertanggung jawab!!"


Sontak Luna mengangkat kepalanya setelah mendengar apa yang Nathan katakan. Alisnya saling bertautan. "Maksudmu?" Luna menatap suaminya penuh tanya. Alih-alih menjawab pertanyaan Luna. Nathan malah menarik ujung dagunya lalu mencium singkat bibirnya.


"Lupakan saja, sebaiknya lanjutkan pekerjaanmu." ucapnya sesaat setelah mengakhiri ciumannya dengan Luna.


Perempuan itu mendecih dan menatap Nathan sebal. Kemudian Luna menekan mata kiri Nathan yang cidera dan membuat pria itu berteriak kencang. "Luna, sakit!! Kau gila ya, atau kau sengaja ingin membuat mata kiriku benar-benar buta?!" bentak Nathan sambil menutup mata kirinya dengan telapak tangannya.


"Salahmu sendiri menyebalkan!!"


Nathan mendesah berat. Tidak ada gunanya dia melanjutkan perdebatannya dengan Luna. Yang ada dia malah semakin emosi nantinya. Mengingat seberapa menyebalkannya perempuan ini.


.


.

__ADS_1


Kedatangan seorang pria di rumahnya membuat Tuan Xia sedikit terkejut. Bukannya menyambut kedatangan pria itu dengan baik, Tuan Xia malah melemparkan tatapan tak bersahabat padanya.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Tuan Xia tanpa basa-basi.


Kemudian pria itu menarik sudut bibirnya dan menatap Tuan Xia dengan smrik tipis namun berbahaya. "Beginikah caramu menyambutku setelah lama tidak bertemu? Apakah tidak ada pelukan hangat untuk saudaramu ini?" ucapnya dengan seringai yang sama.


Kedatangan pria itu membuat Tuan Xia menjadi sedikit was-was. Dia takut jika kedatangannya dengan maksud yang tidak baik, apalagi pria ini telah mengirimkan surat ancaman pada Luna.


"Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini, jadi aku tidak memiliki alasan untuk menyambutmu ataupun memperlakukanmu dengan ramah!!" jawab Tuan Xia dengan sinis.


"Hahaha!!" dan pria itu pun tertawa keras, kembali ia menatap Tuan Xia dengan tatapan tajam dan berbahaya. "Aku datang kemari hanya untuk memberimu sedikit peringatan!! Cepat atau lambat, seluruh harta keluarga Xia akan menjadi milikku. Jadi persiapkan dirimu baik-baik!!"


"Aku tidak akan membiarkannya!! Jika kau menginginkan harta keluarga ini, maka langkah dulu mayatku!!"


"Kau yang memaksaku!!" pria itu tiba-tiba mengeluarkan senjata dari balik pakaiannya lalu mengarahkan pada Tuan Xia, membuat semua orang di sana terkejut melihatnya.


"Tuan!!" beberapa dari mereka berteriak.


Kemudian beberapa pria berpakaian formal masuk ke dalam lalu menodong pria itu dengan senjata masing-masing. "Jangan coba-coba untuk bertindak gegabah jika kalian tidak ingin Tuan kalian mati detik ini juga!!" ucap pria itu mengancam.


Bukannya merasa takut, mereka justru bersikap tenang. Mereka adalah orang-orang terlatih, jadi menghadapi masalah seperti ini tentu saja bukanlah hal yang sulit bagi mereka berempat.


Dan tanpa pria itu sadari, seseorang muncul di belakangnya. Mereka saling memberi kode, dan tanpa banyak berpikir. Orang yang berdiri dibelakang pria itu pun melepaskan tembakannya dan membuat senjata di tangannya lepas begitu saja.


Tuan Xia mengambil alih senjata itu lalu balik menodong pria yang sedang berlutut sambil memegangi pinggang sisi kirinya.


"Kau, tidak bisa membunuhku!!"


"Memang aku tidak bisa, tapi mereka bisa!! Bawa dia pergi dari sini!!"


"Baik, Tuan!!"


Pria itu pun diseret pergi. Tuan Xia tak akan membiarkan siapapun mengungsi ketenangan keluarganya, apalagi membahayakan hidup putrinya.


Dia memang orang yang lembut, tetapi bukan berarti dia tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan nyawa seseorang. Dan Tuan Xia akan membuat membayar mahal jika berani mengurusi ketenangan keluarga kecilnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2