Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Kosong


__ADS_3

Tuan Xia menghampiri putrinya yang sedari kemarin terus melamun. Tuan Xia tak tau apa yang terjadi pada putrinya tersebut, tak pernah Luna bersikap seperti itu sebelumnya, atau mungkin bodyguard tampannya yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Lelaki itu kemudian berhenti di depan Luna, membuat perhatian Gadis itu teralihkan padanya. Luna mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya dengan bingung. "Kenapa Daddy menatapku seperti itu? Jangan membuatku tidak nyaman,"


"Sebenarnya Daddy yang ingin bertanya padamu, tapi kenapa aku malah bertanya duluan?!"


Luna mendengus. Apakah itu penting, kenapa ayahnya selalu saja bersikap konyol, memangnya kenapa jika dia yang bertanya duluan? Lalu apa hubungannya dengan ayahnya yang juga ingin bertanya?


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Daddy perhatikan dari tadi kau terus melamun, apa karena bodyguard tampanmu yang tidak ada kabar sejak kemarin?" tebak Tuan Xia 100% benar.


Luna menatap ayahnya dengan sebal. "Siapa juga yang memikirkannya? itu tidak penting sama sekali!!" elak Luna, meskipun pada kenyataannya dia memang sedang memikirkan Nathan.


Jujur saja Luna merasa cemas karena sejak kemarin Nathan tidak ada kabar. Ponselnya tidak bisa dihubungi dan dia tidak datang sama sekali, terbiasa dengan kehadiran Nathan, ketika dia tidak ada Luna merasakan sesuatu yang berbeda.


Meskipun mereka seperti kucing dan tikus jika bersama, tapi saat dia tidak ada Luna merasa kesepian.


Ting...


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Panjang umur, baru juga dibicarakan, tiba-tiba dia mengirim pesan singkat.


Luna menautkan alisnya pasalnya tidak ada satu kata pun di pesan tersebut. Membuat Luna kebingungan dibuatnya.


Kemudian Gadis itu pun memutuskan untuk menghubunginya. Panggilannya tersambung namun tidak ada jawaban, lalu apa maksudnya pesan singkat itu? benar-benar membingungkan.

__ADS_1


Ting...


Sebuah pesan sekali lagi masuk ke ponsel Luna, kali ini menggunakan voice note. Penasaran apa yang Nathan bicarakan, ia pun membuka voice note tersebut.


"Beberapa hari ini aku tidak bisa datang. Sebaiknya jaga dirimu sendiri baik-baik!!"


Luna menunjukkan ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan setelah mendengarkan isi dari voice note tersebut. "Apa-apaan dia itu? Aku pikir dia mau minta maaf dan memberi penjelasan, ternyata hanya mengatakan jika dia tidak bisa datang. Benar-benar menyebalkan!!" Luna melemparkan ponselnya begitu saja lalu bangkit dari tempat tidurnya.


Gadis itu membuka lemari pakaiannya lalu mengeluarkan sebuah mini Dress merah yang terbuka di bagian bahu dan punggungnya. Luna membawa dress itu ke kamar mandi lalu menggantinya dengan dress yang dia pakai saat ini. Mumpung manusia menyebalkan itu tidak ada, lebih baik dia pergi party dengan teman-temannya.


.


.


Sedikitnya ada enam panggilan tak terjawab dan tiga pesan singkat, dan semua dari orang yang sama.


Nathan kemudian mengirim pesan singkat pada orang tersebut yang pastinya adalah Luna. Pesan pertama hanya pesan kosong, lalu pesan kedua adalah voice note. Tangannya terluka dan dia kesulitan untuk mengetuk.


Nathan dan Chan terluka parah akibat kecelakaan yang mereka alami malam itu. Chan mengalami patah tulang pada lehernya serta luka-luka dibeberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Nathan mengalami cidera pada mata kirinya juga bahunya. Beruntung mereka berdua bisa keluar dari mobil sebelum jatuh ke jurang dan meledak.


Saat ini keduanya sedang di rawat di rumah sakit. Sebenarnya Nathan tidak setuju untuk di rawat. Tetapi jika dia tidak di rawat bagaimana bisa sembuh dengan cepat, sementara ia memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan melindungi Luna.


"Nathan, huaaa...!! Selamatkan aku!!"

__ADS_1


Perhatian Nathan teralihkan. Mata kanannya menangkap Chan yang menggerakkan kursi rodanya dengan cepat kearahnya.


Dibelakangnya beberapa perawat dan dokter. Nathan mendengus, pantas saja Chan sangat ketakutan. Chan sangat takut pada jarum suntik, jadi tidak heran jika dia melarikan diri.


"Huhuhu, mereka ingin menyuntik pantatku. Nathan, huhuhu.. selamatkan aku!!" mohon Chan sambil menangis.


Nathan mendengus berat. "Berhentilah bersikap seperti bocah Chan, kau ini bukan anak kecil lagi. Hanya di suntik saja kenapa harus takut!!"


"Benar, Tuan Park. Mari kembali ke kamar Anda. Ini sudah waktunya untuk pemeriksaan dan suntik ulang." Ucap seorang dokter.


Chan menggeleng. "Tidak mau!! Tidak mau!! Huhuhu, jangan memaksaku. Selamatkan aku, Nathan... Huaaa... selamatkan aku!!"


Chan dibawa dengan paksa kembali ke kamar inapnya. Dia meronta di kursi rodanya. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat sikap dan tingkah kekanakan pria itu.


Chan memang sangat takut pada jarum suntik. Pernah ketika mereka masih duduk di bangku sekolah menengah, Chan sampai pingsan karena mau di suntik.


"NATHAN, HELP ME!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2