Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Belum Siap!!


__ADS_3

Luna meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya. Sementara Nathan pergi untuk menemui ayahnya. Luna tidak tahu apa yang ingin dibahas oleh suaminya tersebut dengan ayahnya, tetapi dia yakin jika itu ada hubungannya dengan kejadian hari ini.


Memang banyak kejadian rumit dan mengejutkan yang terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari rumahnya kedatangan penyusup, bingkisan misterius, dan masih banyak kejadian-kejadian lainnya.


Dan semua itu karena ulah satu orang, yakni saudara ayahnya sendiri.


Malas menunggu Nathan yang entah kapan kembali ke kamar. Luna memutuskan untuk tidur lebih dulu. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


Dia benar-benar sudah ngantuk berat.


.


.


"Apa, kau membunuh, Kim Dan?!"


Tuan Xia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar apa yang Nathan katakan. Apa dia tidak salah dengar, Nathan membunuh Kim Dan?! Dan sendiri adalah putra dari kakaknya, yang artinya dia adalah keponakannya.


"Hn, ya aku membunuhnya!! Dia adalah orang yang memerintahkan kedua bajinga* itu untuk mengikuti, Luna. Sebagai suami dan Bodyguard pribadinya, tentu saja aku tidak bisa tinggal diam saat mengetahui dia dalam bahaya!!" jelas Nathan.


Tuan Xia juga tak bisa menyalahkan tindakan Nathan. Jika ia berada di posisinya, pasti Ia pun akan mengambil tindakan yang sama.


Karena bagaimanapun juga keselamatan Luna adalah yang paling utama.

__ADS_1


Tuan Xia menghampiri Nathan lalu menepuk bahunya. "Kau telah mengambil tindakan yang tepat, tidak salah aku mempercayakan Luna padamu. Karena memang hanya kau yang pantas menjaganya dan satu-satunya orang yang bisa Papa andalkan."


"Melindungi Luna sudah menjadi tugasku, dan aku akan melindungi dia semampu yang ku bisa. Tak akan kubiarkan siapapun menyentuh apalagi menyakitinya, dan aku harap kau jangan terkejut ketika mendengar ada kematian seseorang yang berhubungan dengan keselamatan Luna karena diriku!!"


Tuan Xia menggeleng. "Aku akan membiasakan diriku untuk hal-hal semacam itu. Ini sudah larut malam, pergilah ke kamarmu untuk istirahat." Pinta Tuan Xia dan di balas anggukan oleh Nathan.


Tanpa Tuan Xia minta pun. Juga akan kembali ke kamarnya, dia lelah dan ingin segera beristirahat.


.


.


Nathan menarik sudut bibirnya ketika melihat Luna yang sudah tertidur pulas. Wajahnya terlihat polos seperti anak kecil, entah apa yang sedang ia mimpikan saat ini sampai-sampai wajahnya ekspresinya terlihat begitu polos.


Dengan lembut jari-jari Nathan mengasah kepala Luna dengan penuh kasih sayang.


Meskipun awalnya Dia menendang keras permintaan gila Luna untuk menikahinya, tetapi pada akhirnya justru Nathan-lah yang kalah, dan entah sejak kapan perasaan sayang untuk Luna tumbuh di hatimu.


"Nathan, aku masih belum siap untuk memiliki anak." Ucap Luna lalu membuka matanya.


Nathan memicingkan matanya dan menatap Luna penuh tanya. "Maksudmu?!"


"Aku belum siap punya anak apalagi menjadi seorang ibu, aku masih ingin menikmati hidupku, masa mudaku, dan waktuku bersamamu. Jadi aku belum siap untuk memiliki anak dalam waktu dekat," ucap Luna memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" ucap Nathan seraya menatap Luna penasaran.


"Setiap laki-laki pastiingin menjadi seorang ayah, termasuk kau juga. Tetapi untuk saat ini aku benar-benar belum siap jika harus hamil apalagi memiliki anak. Aku ingin menikmati masa mudaku, apalagi kita menikah juga belum terlalu lama. Kau mengerti kan maksudku?"


Nathan menggenggam tangan Luna dan membalas tatapannya. "Ya, aku mengerti dan paham apa maksudmu. Jujur saja, Luna. Aku sendiri juga belum siap kita harus menjadi seorang, Ayah. Aku masih terlalu muda, terlebih lagi aku belum bisa mengontrol emosiku dengan baik."


"Sebenarnya sejak awal aku ingin membicarakan hal ini denganmu, tapi baguslah karena kau membahasnya lebih dulu. Kini aku merasa lega," tutur Nathan panjang lebar.


Luna tersenyum lebar. Kini dia tak merasa cemas lagi setelah mendengar jawaban Nathan.


Mereka masih terlalu muda untuk menjadi orang tua, apalagi mereka berdua masih belum bisa mengontrol emosinya dengan baik. Menjadi orang tua tentu membutuhkan mental yang kuat, dan harus benar-benar siap. Karena menjadi orang tua tentu tidaklah mudah.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya." ucap Luna dengan senyum yang sama.


"Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur sekarang." Luna tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2