Bodyguardku Seorang Mafia

Bodyguardku Seorang Mafia
Bersatu Kembali


__ADS_3

Nathan dan Luna mendatangi sebuah Cafe yang terletak di pusat kota Seoul. Hari ini Nathan berencana untuk mempertemukan Luna dengan Tuan Xia. Sudah saatnya mereka berdua untuk bicara.


Awalnya Luna menolak, dan dia ingin bertemu dengan Kakeknya. Dia telah membuatnya kecewa, dan Luna masih belum bisa memaafkannya.


Jika bertanya apakah Luna marah?! Maka jawabannya tidak, sebenarnya Luna tidak marah, dia hanya kecewa karena merasa telah dibohongi.


Dan berkat Nathan yang terus meyakinkannya, akhirnya dia setuju untuk bertemu dengan kakeknya.


"Luna," Tuan Xia berdiri seketika saat melihat kedatangan Luna. Kerinduan terlihat jelas di kedua matanya.


Tuan Xia tak hanya datang sendirian, dia datang bersama Melisa. Kemudian Luna menoleh pada Nathan. Terlihat dia menganggukkan kepala, Nathan tau jika Luna sebenarnya juga sangat merindukan Tuan Xia. Hanya saja rasa kecewa yang dia rasakan membuatnya tak mau bertemu dengannya.


"Papa!!" tubuh Tuan Xia terhuyung kebelakang karena pelukan Luna. "Hiks, aku merindukanmu." ucap Nuwa dengan mata berkaca-kaca.


"Gadis bodoh, kau pikir aku juga tidak merindukanmu?! Kakek, juga sangat merindukanmu, Luna. Sangat-sangat merindukanmu. Baru kali ini kau sangat lama kabur dari rumah," ucap Tuan Xia sambil membalas pelukan cucunya.


Jujur saja Luna masih belum bisa menerima Xia Junsu sebagai kakeknya. Karena yang Luna tahu, dia bukan kakeknya melainkan ayahnya. Dan fakta yang sebenarnya belum lama terungkap, jika sebenarnya Xia Junsu adalah kakeknya.


"Luna, kau harus bisa menerima kenyataan jika aku bukanlah Ayahmu, melainkan Kakekmu. Kakek tau ini sangat berat untukmu, tapi sampai kapan kau akan mengingkarinya?! Luna, ibumu sama sekali tak bersalah. Kakek-lah yang bersalah, jadi jangan menghukumnya juga. Biar kakek saja yang menerima semua hukuman ini!!"


Lalu pandangan Luna bergulir pada Melisa, dan menatapnya dengan Sendu. Benar apa yang kakeknya katakan, tidak seharusnya dia menghukumnya, apalagi yang Melisa lakukan selama ini juga untuk melindunginya. Melisa tidak ingin jika orang-orang sampai memandangnya hina, hanya karena lahir tanpa seorang ayah.

__ADS_1


Luna menyeka air matanya. Dia menghampiri Melisa dan langsung memeluknya. Tangis wanita itu pun pecah, Melisa mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan putrinya.


Hangat...


Seketika rasa itu hubungi diri Luna. Kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, hari ini akhirnya ia bisa merasakannya. Yakni kehangatan pelukan seorang ibu.


"Mama," lirih Luna berbisik.


Dan tangis Melisa semakin pecah mendengar Luna memanggilnya dengan sebutan 'Mama' panggilan yang sudah lama impikan. Melisa ingin putrinya memanggilnya dengan sebutan Mama, dan akhirnya keinginannya itu menjadi kenyataan.


Tuan Xia menangis haru, melihat pemandangan mengharukan tersebut. Dia tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes, penantian putrinya hari ini terwujud dan menjadi kenyataan. Akhirnya keluarga kecil itu utuh kembali.


Dari Luna dan Melisa, pandangan Tuan Xia bergulir pada Nathan. Dia menepuk bahu cucu menantunya tersebut sambil tersenyum tipis.


Nathan mengangkat bahunya. "Aku hanya berusaha menepati janjiku, untuk membawa Luna kembali padamu. Dan sudah saatnya dia memaafkan serta menerima Ibunya." Ujarnya.


Tuan Xia mengangguk. Memang hanya Nathan yang bisa ia andalkan. Dan berkat bantuannya, Luna kembali ke dalam pelukannya.


.


.

__ADS_1


Melisa tak membiarkan Luna jauh darinya walau hanya satu detik. Dia masih belum puas memeluk putrinya itu. Dan terakhir kalinya Melisa memeluknya, adalah sebelum dia meninggalkan Luna dan menyerahkannya pada ayahnya.


Saat ini mereka berada di kediaman Xia. Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk pulang ke kediaman Xia.


Sementara itu, Nathan dan Tuan Xia sedang berbincang serius di ruang keluarga. Tuan Xia meminta Nathan untuk mencari keberadaan orang yang telah menodai putrinya hingga hamil.


"Jadi kau ingin aku menghabisinya?!"


Tuan Xia menggeleng. "Tidak perlu sampai dihabisi, aku hanya ingin kau membawanya ke hadapanku. Aku ingin meminta pertanggungjawaban darinya, karena telah menghancurkan masa depan Melisa."


Itu akan sangat percuma saja. "Orang seperti itu tak layak dibiarkan untuk tetap hidup, lebih baik dihabisi saja!!" ucap Nathan.


Benar-benar iblis sejati. Bagi Nathan menghilangkan nyawa seseorang sama entengnya dengan membunuh seekor nyamuk. Bahkan dia tak akan menyesal sama sekali, meskipun satu nyawa setelah melayang di tangannya. Dan sampai detik ini cinta sudah enggak senyawa yang lain sia-sia di tangan Nathan.


"Pokoknya jangan dihabisi. Aku ingin mendengar penjelasan darinya terlebih dahulu, alasan dia sampai menghancurkan masa depan Melisa." ucap Tuan Xia.


Nathan menghela nafas panjang. "Hn, terserah!!" ucapnya dan pergi begitu saja. Dia sudah terlalu malas untuk melanjutkan perbincangannya dengan Tuan Xia.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2