
Malam sudah semakin larut. Terlihat seorang pria muda berdiri di balkon kamarnya. Tubuh kekarnya dalam balutan celana hitam dan Vest hitam V-Neck yang memperlihatkan dada dan lengan berototnya.
Kedua tangannya tersimpan di dalam saku celananya.
Wajahnya menatap lurus pada langit malam berselimut awan hitam. Tanpa bulan, tanpa bintang.
Semilir angin malam berhembus pelan. Menerpa kulitnya yang terbuka. Namun ia tak merasa terganggu sedikit pun, dia tak terganggu sama sekali. Lalu pandangannya teralihkan oleh kedatangan seseorang. Seorang pria paruh baya berjalan menghampirinya.
"Kau belum tidur," ucap pria itu yang pastinya adalah Tuan Xia.
Pria muda itu menggeleng. "Ada apa kau datang menemuiku?" tanya pria itu 'Nathan' pada Tuan Xia.
"Tidak ada, hanya butuh teman untuk mengobrol saja. Kau ada waktu bukan? Kebetulan aku juga tidak bisa tidur," kemudian Tuan Xia berdiri disamping Nathan. Menatap sekilas pada pria itu yang hanya diam sambil menatap lurus ke depan.
Tuan Xia memperhatikan Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rasanya Tuan Xia tidak percaya jika yang berdiri disampingnya ini merupakan seorang Bos Mafia berdarah dingin. Padahal wajahnya tak mendukung profesinya tersebut, Nathan memiliki wajah yang bisa dibilang tampan namun juga cantik.
Ternyata benar kata orang, jika kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari casing luarnya saja. Seperti Nathan contohnya, dia yang terlihat seperti pria baik-baik sebenarnya adalah titisan iblis yang sangat kejam dan tak berperasaan.
"Apa Luna masih sering membuatmu kesal? Aku benar-benar minta maaf untuk sikapnya yang terkadang seperti bocah. Luna, tumbuh tanpa seorang ibu dan sejak kecil aku sangat memanjakannya."
__ADS_1
"Dia sudah tidak semerepotkan saat awal-awal aku datang ke rumah ini. Dia mulai menunjukkan sisi lain dalam dirinya dan menjadi lebih terbuka. Meskipun terkadang sikap menyebalkannya dan sering membuatku naik darah, tetapi aku coba untuk mengerti dan memahaminya." Terang Nathan.
"Baguslah kalau begitu. Aku sempat merasa cemas jika dia akan terus merepotkanmu, tapi syukurlah jika Luna mulai bisa merubah sikapnya."
"Kenapa kau membuatnya selalu kesepian?" Nathan menoleh dan mata kanannya langsung bersirobok dengan mata hitam Tuan Xia. "Apakah memberi materi lebih penting dibandingkan kasih sayang dan waktumu untuknya? Dia memang tidak pernah mengatakan apapun padaku, tetapi aku tahu jika dia sering kesepian."
Tuan Xia tersenyum hambar. "Kau benar sekali, aku memang jarang memberikan waktuku untuknya. Selama ini aku selalu sibuk dan jarang ada waktu untuknya. Aku sadar juga aku belum bisa menjadi ayah yang baik bagi putriku. Tetapi apa yang aku lakukan juga semata-mata untuk masa depannya."
"Tapi bukan itu yang dia inginkan!!" Nathan menyela ucapan Tuan Xia dan kembali mengunci manik hitamnya. "Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, karena aku dan dia berada di posisi yang sama. Jadi aku memahami betul perasaannya,"
Nathan memang bukan orang yang peka. Apalagi mudah untuk peduli pada orang lain, tetapi dia bisa merasakan apa yang Luna rasakan selama ini. Meskipun dia tidak pernah mengatakan apapun padanya, tetapi Nathan bisa tahu jika Luna sangatlah kesepian.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya cepat tidur. Aku keluar dulu." Tuan Xia menepuk bahu Nathan dan meninggalkannya begitu saja. Dia kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Nathan. Pria itu menoleh dan mendapati Luna tengah berdiri di balkon kamarnya. Kebetulan kamar mereka bersebelahan, begitu pula dengan balkon kamar mereka.
Nathan mendekati balkon Luna. Dan derap langkahnya yang pelan tetap terdengar di telinga Luna. Gadis itu menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum kecil di sudut bibirnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba aku memimpikan mama, padahal aku belum pernah bertemu langsung dengannya. Tapi aku sering memimpikannya, aku jadi ingin bertemu dan memeluknya. Andaikan saja dia masih ada, mungkin aku tidak akan kesepian." Ujar gadis itu menuturkan. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, meskipun bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Nathan memilih diam dan tak memberikan jawaban apapun. Karena dia bingung harus bilang apa untuk menanggapi ucapan Luna.
Ada rasa sesal ketika melihat air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, perasaan asing yang tak pernah Nathan rasakan sebelumnya.
Luna menyeka air matanya. "Lalu kau sendiri kenapa belum tidur?"
"Jika aku tidur lebih awal lalu siapa yang akan menjagamu, bagaimana jika tiba-tiba ada penjahat yang datang kemari dan dia mengincarmu? Siapa yang akan menjaga dan melindungimu jika aku tidur lebih awal?!"
Bluss...
Rona merah muncul di kedua pipi Luna mendengar apa yang Nathan katakan. Ia merasa terharu, begitu besar tanggung jawab Nathan untuk melindungi dirinya.
"Malam ini cuaca sangat cerah. Temani aku untuk melihat bintang." Pinta Luna. Gadis itu beranjak dari balkon kamarnya dan melenggang keluar.
Nathan tak mengatakan apapun,tetapi dia menuruti permintaan gadis itu dengan menyusulnya menuju taman belakang. Nathan tak bisa menolak ajakannya. Karena berada disisinya selama 24 jam penuh sudah menjadi tugasnya sebagai seorang bodyguard.
.
__ADS_1
.
Bersambung.