
Keheningan menyelimuti Nathan dan Tuan Xia. Paruh baya itu menghubunginya dan mengajak Nathan untuk bertemu, karena hanya dari dia Tuan Xia bisa mengetahui kabar Luna saat ini.
Paruh baya itu menghela nafas, sepertinya memang harus dia yang membuka perbincangan diantara mereka. "Bagaimana kabar Luna saat ini? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Tuan Xia memastikan.
"Ya, dia baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu, kakek lega mendengarnya."
"Sebaiknya kau menemuinya, Luna mungkin saja merindukanmu. Tapi selama ini dia tidak pernah terpisah jauh darimu, masa lalu memikirkanmu dan takut kau kesepian!!" ucap Nathan memberi saran.
Tuan Xia terdiam. Sebenarnya dia juga ingin menemui Luna, tetapi yang menjadi pertanyaannya apakah dia mau bertemu dengannya setelah semua kebohongan yang ia lakukan padanya.
"Aku belum siap untuk bertemu dengannya, dia Terlanjur kecewa padaku!!" ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Bicara sekali lagi dengannya!! Yakinkan padanya jika yang kau lakukan selama ini untuknya, pasti akan mengerti. Tidak ada salahnya untuk mencobanya sekali lagi,"
Tuan Xia mengangguk. "Baiklah, aku akan mencobanya. Terimakasih sudah memberiku saran, akhir pekan ini aku akan menemuinya. Nathan, Kakek harus pergi sekarang. Sampaikan salamku padanya." Tuan Xia bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
Nathan menghela napas panjang. Jika bukan dirinya, lalu siapa lagi yang bisa menyatukan Luna dengan ibunya?! Mungkin memang tidak mudah, tetapi bagaimana pun juga Melisa adalah ibunya dan Luna harus bisa menerimanya.
__ADS_1
.
.
Luna melangkahkan kakinya memasuki gedung perkampusan. Suasana di kampus masih sangat sepi karena belum banyak mahasiswa maupun mahasiswa yang datang, hanya ada beberapa orang saja.
Seseorang menghampiri Luna. "Halo, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau mahasiswi baru disini?" tanya orang itu memastikan.
"Ya!! Em, Bukan!! Sebenarnya aku mahasiswa lama, hanya saja sempat mengambil cuti, dan ini hari pertamaku kembali berkuliah setelah cuti panjang!!" jawabnya.
Luna adalah mahasiswi yang sangat cerdas. Meskipun dia sempat mengambil cuti, tetapi mengejar ketertinggalan bukanlah sesuatu yang sulit untuknya. "Ah, pantas saja. Aku baru masuk tahun ini, dan perkenalkan namaku Margaret." perempuan itu memperkenalkan dirinya pada Luna.
"Aku, Luna." Luna menerima uluran tangan Margaret dan memperkenalkan dirinya.
Luna adalah mahasiswi tingkat akhir, seharusnya dia sudah lulus tahun lalu. Dia kuliah dengan mengambil jurusan fashion desainer.
Kebersamaan Luna dan Margaret diwarnai obrolan-obrolan kecil, banyak sekali hal yang Margaret tanyakan pada Luna mulai dari hobinya sampai kehidupan pribadinya. Dan tentu saja hal itu membuat Luna merasa tidak nyaman, karena dia bukanlah tipe orang yang mudah terbuka pada orang baru.
"Maaf, Margaret. Sepertinya kita berdua benar-benar tidak cocok menjadi teman, kau terlalu banyak ingin tahu dan mencampuri pribadi orang lain. Maaf, aku duluan."
__ADS_1
Orang seperti Margaret benar-benar tidak cocok berteman dengannya, dan Luna tidak akan membiarkan orang seperti dia masuk ke dalam hidupnya.
.
.
"LUNA!!"
Luna menghentikan langkahnya dan menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Senyum di bibirnya mengembang lebar manakala ia melihat dua orang tengah berlari menghampirinya, ketiganya kemudian berpelukan.
"Huaa...!! Luna, aku sangat merindukanmu."
"Huhuhu. Setelah sekian lama, akhirnya kau kembali juga."
"Maaf, karena tidak pernah mengabari kalian berdua." ucapnya penuh Sesal. Dan Mereka berdua adalah sahabat-sahabat Luna sejak duduk dibangku sekolah menengah, Selly dan Erica.
Bagi mahasiswi/mahasiswa baru, Luna memang terlihat asing. Tapi tidak untuk mereka yang sudah lama kuliah di Soul University. Saat masih kuliah dan sebelum mengambil cuti. Dia menjadi idol dan sangat popular. Jadi tidak salah saat melihatnya sang primadona telah kembali, banyak mahasiswi yang merasa was-was.
.
__ADS_1
.
Bersambung.