
“Kau serius? Pertunanganmu dengan anak Tuan Dirgantara dibatalkan?” tanya salah satu teman Nesya yang bernama Joy.
Saat ini Nesya dan teman-temannya sedang makan malam bersama di sebuah restoran.
“Kau tidak lihat wajahku sudah seserius ini?” Nesya malah balik bertanya.
“Sayang sekali. Kau melewatkan kesempatan berharga dalam hidupmu. Padahal kalian kan sudah bertunangan. Bagaimana bisa sampai batal?” tanya Joy yang masih penasaran.
“Iya, bagaimana bisa sampai batal? Aku juga sangat penasaran sekali,” tambah temannya yang lain yang bernama Emma.
“Ceritanya panjang. Yang pastinya Bumi sudah tau hubunganku dengan Marcel dan dia minta pertunangan ini dibatalkan,” jawab Nesya dengan wajah yang ditekuk.
“Tuh kan. Aku sudah bilang padamu waktu itu, kau harus hati-hati karena ada yang memata-mataimu. Tapi kau tidak mendengarkan perkataanku,” kata Catherine teman Nesya pemilik club malam.
“Aku tidak menyangka Bumi akan memata-mataiku. Dia selama ini selalu cuek padaku. Aku jadi curiga pada sepupuku, Senja. Karena satu-satunya orang yang tau hubunganku dengan Marcel hanya dia,” kata Nesya.
“Apa untungnya bagi Senja memberitahu Bumi tentangmu?” tanya Joy.
“Tentu saja ada untungnya. Baru saja membatalkan pertunanganku, Bumi sudah bermesraan dengan Senja. Dari awal aku sudah curiga dengan gelagat mereka berdua. Tatapan Bumi pada Senja saja berbeda dengan tatapan Bumi padaku,” jawab Nesya yang kembali emosi jika mengingat kejadian tadi sore saat di pantai.
“Itu artinya Bumi memang tidak ada perasaan padamu, Nesya. Mungkin dia memang suka dengan Senja,” kata Catherine.
__ADS_1
“Tapi dia sudah bertunangan denganku, Bumi itu seharusnya menjadi suamiku. Kami sudah dijodohkan dari kecil,” sanggah Nesya tak terima.
Catherine menghela nafas dengan berat. Sahabatnya satu ini memang sedikit susah untuk diberi nasehat.
“Nes, ini menurut pendapatku saja ya, terserah kau mau mendengarnya atau tidak. Kalau Bumi tidak mencintaimu, percuma juga kalian menikah, bukannya bahagia, yang ada malah menderita. Kau bisa makan hati setiap hari karena dia tidak mempedulikanmu. Kalau memang Bumi dan Senja memang ada hubungan, ya biarkan saja. Dia juga sepupumu, keluargamu sendiri. Kau juga tidak begitu mencintai Bumi kan?” tanya Catherine.
“Siapa bilang aku tidak mencintai Bumi? Aku mencintainya!” jawab Nesya.
Catherine menggelengkan kepalanya. “No. It’s not love. Itu cuma ambisimu saja. Kalau kau mencintai Bumi, maaf, kau tidak mungkin berhubungan dengan pria lain,” kata Catherine yang membuat Nesya tersinggung.
“Kau menyinggungku?” tanya Nesya blak-blakan.
“Tidak, Nesya. Aku hanya menasehatimu. Terserah kau mau mendengarnya atau tidak. Kau sudah dewasa. Aku tidak ada hak mengaturmu,” jawab Catherine masih dengan suara lembut.
“Betul. Apalagi sekarang mereka malah jadian setelah pertunangan Nesya dibatalkan,” sahut Emma.
“Lalu, apa kalian mau melawan keluarga Dirgantara? Kita ini tidak ada apa-apanya dibanding keluarga Dirgantara. Jangan bermain api kalau tidak mau terbakar!” kata Catherine dengan serius.
“Kau terlalu penakut, Cath! Aku rasa memberi Senja sedikit pelajaran tidak masalah,” ucap Joy yang membuat Catherine geleng-geleng kepala.
“Aku bukan takut. Tapi disini Nesya juga salah,” bantah Catherine.
__ADS_1
“Kau kenapa berada di pihak Senja?” tanya Nesya sinis.
“No, Nesya. No. Aku tidak berpihak padanya. Apa kau tidak belajar dari kesalahan? Kau baru saja batal bertunangan dengan Bumi. Apa kau mau kehilangan hal lain lagi yang lebih berharga dalam hidupmu baru kau sadar?” balas Catherine.
“Nesya hanya ingin memberi pelajaran dengan Senja, bukan dengan Bumi. Biar sepupunya itu tau rasa!” ucap Joy.
“Terserah kalian lah. Aku tidak ikut campur,” ujar Catherine lalu berdiri sambil memakai tasnya.
“Aku cuma bisa bilang, penyesalan selalu datang belakangan,” sambung Catherine lalu pergi meninggalkan Nesya dan yang lainnya.
“Kenapa dia juga memihak pada Senja?” tanya Nesya yang melihat Catherine berjalan menjauh keluar dari restoran.
“Biasalah. Dia mana mau reputasinya buruk. Dia juga takut usaha clubnya bisa ditutup oleh keluarga Dirgantara kalau berbuat macam-macam,” jawab Joy.
“Jadi, apa kau mau terima begitu saja diperlakukan seperti itu oleh Senja? Dia sudah membuat pertunanganmu dan Bumi batal,” tanya Emma kemudian.
“Rasanya aku tidak rela dia enak-enakan bahagia dengan mantan tunanganku. Tapi aku bingung harus membalasnya bagaimana?”
Kedua temannya diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Lalu kemudian Joy tersenyum miring dan membisikkan sesuatu ke telinga Nesya yang membuat Nesya tersenyum senang.
“Aku rasa idemu bagus juga. Aku juga mau lihat, apa Bumi masih mau menerima Senja jika Senja sudah sama sepertiku?” ucap Nesya dengan senyum menyeringai di wajahnya.
__ADS_1
.
Bersambung...