Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
111. Sudah Lama Mencintaiku


__ADS_3

Andika dan Liliana masuk ke dalam kamar tempat Senja dirawat. Liliana meletakkan tas yang ia bawa di atas sofa lalu mengikuti Andika menghampiri Bumi.


“Bumi...” panggil Andika sambil memegang pundaknya.


Bumi seakan baru tersadar dari lamunan panjangnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu melihat ke arah Andika yang berdiri di sampingnya.


“Tuan Andika?” lirih Bumi.


Andika mengangguk. “Iya, ini saya. Bolehkan saya hanya memanggil namamu langsung tanpa pakai kata Tuan di depannya?”


“Terserah Tuan saja,” jawab Bumi lalu kembali menatap Senja.


Andika dan Liliana saling pandang. Sepertinya Bumi tidak begitu mempedulikan keberadaan mereka disana. Yang ia pedulikan hanya Senja saja.


“Bumi, apa kau begitu dekat dengan Senja?” tanya Andika lagi.


Bumi diam tak menjawab. Ditanya seperti itu, ia rasanya ingin bercerita. Tapi diurungkannya. Dia hanya memendam perasaannya saja.


“Apa kau tau Senja suka menulis tentangmu?” tanya Andika kembali memancing reaksi Bumi.


Bumi pun menoleh ke arah Andika.


“Senja sering menulis tentangmu dalam diary ini,” kata Andika sambil menunjukkan diary berwarna pink di tangannya.


Bumi mencoba untuk mengambil diary itu tapi Andika menjauhkannya. “Kau boleh membacanya juga menyimpannya selama Senja dalam keadaan koma. Tapi sebelumnya, saya mau kau makan dulu hari ini. Jefri bilang kau belum makan bahkan belum mandi. Kau hanya duduk diam disini dari tadi malam. Makanlah dulu, baru saya akan memberikan ini padamu,” kata Andika mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


“Tidak, Tuan. Saya tidak akan meninggalkan Senja sedetikpun. Saya harus menjaga Senja agar baik-baik saja,” tolak Bumi dengan tegas.


“Kami orang tuanya, Bumi. Kami tentu akan menjaganya juga disini selagi kau makan dan beristirahat sebentar. Kalau kau sakit, nanti malah kau tidak bisa menjaga Senjamu. Dia Senjamu bukan? Kau Buminya kan?” bujuk Andika lagi.


Bumi pun mengangguk. Andika dan Liliana merasa lega Bumi akhirnya mau menurut juga.


“Asistenmu ada di luar. Dia sudah mempersiapkan semuanya. Makan, mandi lalu istirahatlah sebentar. Kita gantian menjaga, Senja,” tambah Andika lagi.


“Tapi saya tidak akan pergi dari sini. Saya ingin tetap satu kamar dengan Senja,” ucap Bumi.


“Ya sudah, baiklah. Kau boleh melakukan semua disini. Disini juga ada kamar mandinya. Mandilah dulu lalu makan.”


Mau tak mau Bumi pun menuruti perkataan Andika. Ia sempat mencium tangan Senja terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar mandi.


"Jangan kemana-mana, Senja. Aku hanya pergi sebentar saja," ucap Bumi pada Senja yang membuat hati Andika dan Liliana pilu saat mendengarnya.


Setelah makan, dia meminta diary Senja pada Andika. Andika mengijinkan dengan syarat dia harus berbaring di atas sofa agar lebih nyaman sambil beristirahat, bukan duduk diam di kursi yang tadi ia duduki. Bumi tentu kesal diatur-atur seperti itu. Tapi ia tak bisa melawan saat ini. Demi mendapatkan diary milik Senja, ia rela melakukan apa yang diminta.


Ia pun duduk di sofa sambil bersandar dengan kaki berselonjor di atas sofa. Ia pun mulai membuka diary itu dan membacanya dari awal.


Tes.


Belum apa-apa airmatanya sudah menetes saat melihat foto Senja di halaman depan. Tangannya terulur menyentuh wajah Senja di foto itu. Wajah yang sedang tersenyum bahagia. Ada tawa yang ia rindukan disana.


Senja... cepatlah bangun dan tersenyum seperti ini lagi. Kau sangat cantik kalau tersenyum seperti ini. Cantikmu mengalahkan bunga yang sedang mekar di musim semi. Ucap Bumi dalam hati.

__ADS_1


Ia pun mulai membaca satu per satu isi diary Senja. Ia cukup terkejut saat Senja bercerita tentangnya.


Malaikat Pelindungku.


Berkali-kali aku bertemu dengannya, tapi aku tidak tau siapa dia. Namun saat aku tau dia siapa, aku justru merasa sedikit kecewa. Ternyata...dia pria yang dijodohkan dengan sepupuku sendiri.


Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku kecewa mengetahui kenyataan itu?


Apa mungkin aku menaruh rasa pada pria yang selalu melindungiku itu?


Bumi kembali mengingat saat dimana ia menolong Senja malam itu. Senja mengetuk kaca jendela mobilnya dan bertanya siapa namanya. Tapi Bumi saat itu tidak menjawab, ia malah meninggalkan Senja dengan rasa penasarannya. Akhirnya Senja pun berteriak dan menyebutnya sebagai “Malaikat Pelindung.”


Bumi memejamkan matanya sekejap sambil menghela nafas dalam-dalam. Dadanya terasa kembali sesak mengingat semua itu. Tapi ia justru tak berhenti membaca diary itu. Ia kembali membuka halaman yang lain lagi.


Malaikat Pelindungku kini sudah berganti menjadi cinta dalam hatiku. Terlalu berlebihan kah aku menyebutnya begitu? Ah, kurasa tidak selagi tidak ada seorang pun yang tau termasuk dirinya sendiri.


Tuan Bumi Langit Dirgantara, hanya disini aku berani mengungkapkan bahwa aku mencintaimu. Entah sejak kapan cinta ini muncul, aku sendiri tidak menyadarinya. Yang jelas, hanya dengan mengingat wajahmu saja, aku merasa teramat sangat bahagia.


Bumi, biarkanlah jarak di antara kita tetap sebesar ini. Ini bukan kemauanku, tapi ini maunya takdir. Mungkin takdir mempertemukan aku dan dirimu untuk dijadikan pelajaran bagiku bahwa semua yang ku inginkan belum tentu bisa aku miliki, dan itu termasuk cintamu.


Bumi lagi-lagi harus menghela nafasnya dalam-dalam untuk meredakan sesak yang menggumpal di dadanya. Satu kenyataan yang baru ia tau, “Ternyata Senja sudah lama mencintaiku..."


"Senja, jangan biarkan cinta di antara kita berjarak terlalu jauh lagi. Kita sudah cukup menderita karena jarak ini. Aku yakin takdir mempertemukan kita untuk mempersatukan kita dalam cinta, bukan untuk memisahkan kita dalam jarak yang tak ada batasnya. Dulu aku mengira jarak yang paling jauh di dunia ini adalah antara hidup dan mati. Tapi aku salah. Jarak paling jauh adalah saat aku berada di sisimu, tapi kau tak menyadari keberadaanku," lirih Bumi nyaris tak terdengar.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2