
“Aku merindukanmu, Senjaku. Sangat-sangat merindukanmu,” ulang Bumi dengan sungguh-sungguh.
Bumi mengulurkan kedua tangannya memegang kedua pipi Senja. Senja ingin menarik tangan Bumi agar tak memegang pipinya seperti itu tapi Bumi melarangnya.
“Biarkan tetap seperti ini, Senja. Biarkan aku mengobati rasa rinduku dulu,” kata Bumi menahan Senja.
“Tapi aku tidak mau ada yang melihat kita seperti ini. Aku tidak mau terjadi kesalahan pahaman. Kau sudah berstatus sebagai tunangan sepupuku,” ucap Senja dengan getir sambil menahan sesak di dada.
“Kau tega padaku, Senja.” Tega karena hanya diam saja saat tau Nesya mengkhianati pertunangannya maksud Bumi.
“Apa maksudmu?” tanya Senja tidak mengerti.
“Kau tega hanya diam saja meskipun tau sepupumu itu seperti apa. Aku sudah tau semuanya. Dia bukan wanita yang bisa menjaga harga dirinya. Dia sama sekali tak layak untuk bersanding denganku. Jujur, aku pun tidak mencintainya,” jawab Bumi tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Bumi terdiam sejenak. Ia memandang lekat-lekat kedua bola mata yang indah di depannya. Bola mata yang menatap sayu padanya. Bola mata yang terselubung rindu yang menggebu.
Bumi menghela nafas dengan berat lalu dengan penuh keyakinan ia berkata, “Aku mencintaimu, Senja. Aku sangat mencintaimu.”
Tes.
Senja tak mampu lagi menahan airmatanya lebih lama. Kalimat sakral yang keluar dari mulut pria yang dicintainya itu begitu menggetarkan jiwanya, menusuk ke sanubarinya, mendesirkan aliran darah dalam nadinya sehingga membuat hatinya lemah tak berdaya untuk menolak Bumi dan ketulusan cintanya.
__ADS_1
“Katakan kau juga mencintaiku, Senja. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi! Sampai kapan kita berdua harus tersiksa karena saling memendam rasa seperti ini?” Dengan sangat lembut Bumi membujuk Senja agar mau jujur padanya. Ibu jarinya pun tak tinggal diam menyeka airmata yang membasahi pipi halus Senja.
“Tapi aku takut......”
“Sssttt...ada aku yang selalu melindungimu, apa yang kau takutkan lagi? Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu sendiri, Senja. Aku mau mendengar kau berkata jujur tentang perasaanmu,” sela Bumi dengan cepat.
“Katakan padaku, Senja. Katakan kalau kau....”
“Ya, aku juga mencintaimu," jawab Senja dengan cepat sehingga membuat jantung Bumi terasa bergetar hebat.
"Aku mencintaimu sudah sejak lama saat pertama kali aku jatuh dalam dekapanmu. Kedua, ketiga dan seterusnya setiap kali kita bertemu, rasa cintaku makin lama makin besar padamu. Tapi kau tau, saat acara makan malam itu, aku dengan terpaksa harus mengubur cintaku ini. Itu karena aku takut, Bumi. Aku takut mengambil kebahagiaan orang lain,” ucap Senja dengan airmata yang tak henti mengalir.
“Aku saat itu harus sadar. Kau bukan ditakdirkan untuk menjadi jodohku. Berkali-kali aku berusaha menepis perasaanku, menghilangkan wajahmu dalam ingatanku, tapi sayangnya aku sama sekali tidak bisa melupakanmu. Aku sudah terlalu jatuh cinta padamu, Bumi. Aku sudah terlanjur mencintaimu,” sambung Senja lagi yang kali ini sudah terisak.
Senja pun memejamkan mata mendapat kecupan hangat di keningnya. Betapa rindunya ia berada sedekat ini dengan Buminya. Seolah tau apa yang diinginkan Senja, Bumi kini meraih Senja masuk dalam dekapannya. Hangat dan tenang, itulah yang Senja rasakan saat ini.
“Mulai detik ini sampai seterusnya, jangan memendam perasaanmu sendiri lagi. Ceritakan semua padaku apa yang terjadi padamu,” kata Bumi sambil mengeratkan pelukannya.
“Tapi...”
“Berhentilah berkata tapi. Jangan terlalu sering menyangkal perasaanmu sendiri,” potong Bumi sebelum Senja selesai bicara.
__ADS_1
“Aku hanya bingung. Pertunanganmu jadinya bagaimana?” tanya Senja yang asik bersandar di dada bidang milik Bumi.
“Dia yang berkhianat. Dia harus menanggung resikonya,” jawab Bumi dengan enteng.
“Semudah itu kau memutuskan pertunanganmu?” tanya Senja sambil mendongakkan kepalanya.
Bumi pun menunduk menatap Senja.
“Jika dia semudah itu berkhianat di belakangku, maka kenapa aku tak bisa semudah itu memutuskannya?” jawab Bumi tanpa ada rasa beban.
“Kau tidak ada rasa sedikitpun padanya?” tanya Senja penasaran.
Bumi pun dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Semua cintaku sudah kau ambil. Tidak ada lagi yang tersisa.”
“Gombal!” kata Senja sambil mencibirkan bibirnya.
“Kau mau bukti?” tanya Bumi dengan sebuah rencana di kepalanya.
“Bukti seperti apa?” Senja malah balik bertanya dengan polosnya.
“Bukti seperti ini,” jawab Bumi seraya menunduk dan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Senja.
__ADS_1
.
Bersambung...