
Jika biasanya pihak pria yang menunggu pihak wanita, maka kali ini yang terjadi adalah sebaliknya. Nesya sudah dari tadi dengan tidak sabar menunggu kedatangan Bumi di tempat pertunangan mereka akan diadakan.
Ballroom hotel yang besar itu telah disulap layaknya taman bunga yang indah dengan dekorasi yang penuh bunga-bunga sesuai keinginan Nesya. Tamu-tamu yang hadir juga sudah mulai memenuhi tempat tersebut. Sepertinya Nesya mengundang semua teman-temannya dari kalangan artis dan selebgram. Pertunangan mereka tentu saja menjadi headline berita di setiap media.
“Mama, kenapa Bumi belum kelihatan juga?” bisik Nesya pada Tari.
“Dia masih di kamarnya. Sudah dipanggil. Sebentar lagi akan turun. Sabar sebentar, ya.” Tari mengusap-usap punggung anaknya agar bisa lebih tenang menunggu kedatangan Bumi.
Tak lama yang ditunggu pun tiba. Bumi dengan segala pesona dan kharismanya masuk ke dalam ruangan tersebut diikuti Jefri di belakangnya. Para tamu yang hadir sontak menoleh ke arah Bumi sambil berdecak kagum melihat ketampanannya.
Pria berwajah dingin itu berjalan melewati para tamu tanpa menyapanya sedikitpun. Jangankan menyapa, tersenyum pun tidak. Tidak ada yang berbeda dari raut wajahnya hari ini dengan hari-hari lain. Ia tetaplah Bumi yang selalu memasang wajah datarnya.
Nesya pun tak kalah kagum melihat Bumi berjalan ke arahnya. Di matanya ketampanan Bumi bertambah berkali-kali lipat dari biasanya. Senyum bahagia tentunya tak lepas menghiasi wajahnya. Sebentar lagi pria yang digilai banyak wanita itu akan menjadi tunangannya. Ah, betapa beruntungnya Nesya saat ini! Tak perlu bersusah payah mengejar, orang tua mereka sudah menjodohkan mereka dari kecil.
“Aku senang akhirnya kau datang juga,” ucap Nesya saat Bumi sudah berdiri di dekatnya.
Bumi bingung mau membalas apa. Dia malah diam dan memalingkan wajahnya ke sang ayah.
Nesya tentu sedikit terkejut dengan reaksi Bumi yang hanya diam saja tak membalas perkataannya. Apalagi hari itu dia sudah berdandan sangat cantik dengan gaun mewah berwarna biru tua yang melekat indah di tubuhnya. Ia kira Bumi akan terkesima dengan penampilannya. Tapi nyatanya pria itu bahkan tak ingin lama-lama memandangnya.
__ADS_1
Sabar, Nesya. Sebentar lagi dia pasti akan jatuh ke pelukanmu. Selama ini tidak ada yang pernah menolak sentuhanmu. Termasuk juga Bumi nantinya. Akan aku buat kau tergila-gila padaku, Tuan Muda Dirgantara. Umpat Nesya dalam hati.
Tuan Dirgantara pun memulai acara pertunangan putranya dengan putri dari keturunan keluarga Wijaya. Semua tamu yang hadir banyak yang berbisik kalau ini adalah pertunangan untuk memperbesar bisnis di antara dua keluarga tersebut. Keluarga Dirgantara dan keluarga Wijaya memang sangat terkenal di kalangan pebisnis disana. Karena itu banyak yang yakin kalau ini adalah perjodohan atas dasar kerjasama bisnis mereka.
Setelah Tuan Dirgantara dan Adrian memberikan sambutan untuk pertunangan anak-anak mereka, kini tibalah saat yang paling dinanti oleh Nesya dimana Bumi harus menyematkan cincin pertunangan ke jari Nesya.
Cincin sudah dipegang, tinggal tunggu ia menyematkan saja lagi ke jari manis Nesya. Tapi Bumi malah terdiam sejenak, ia merasa ada yang kurang saat itu. Ia menoleh ke arah keluarganya, Tuan Dirgantara mengangguk memberi tanda agar cincin itu segera ia pasangan di jari Nesya. Ia beralih lagi ke keluarga Wijaya, barulah ia sadar Senja tidak ada disana.
Senja...dimana dia? Dia bilang dia tidak mencintaiku waktu itu. Lalu, mengapa dia tidak menghadiri pertunangan ini? Senja, sebenarnya kau ada dimana? Bumi malah berdialog dalam hatinya.
“Sayang, kenapa Bumi lama sekali memasangkan cincin saja?” bisik Liliana pada suaminya, Andika.
“Entahlah. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu,” jawab Andika yang juga ikut berbisik.
“Ssst...sudah! Tidak enak didengar Tuan Dirgantara dan Adrian,” kata Andika agar istrinya tidak berbisik lagi.
“Iya, iya, Sayang. Ngomong-ngomong dimana Senja? Kenapa dia belum kelihatan juga sampai sekarang?” tanya Liliana sambil celingukan mencari keberadaan putrinya.
Adrian pun ikut melihat ke sekitar mereka untuk mencari putrinya. Putrinya memang belum terlihat disana. Padahal tadi dia sudah menelepon Senja dan meminta Senja agar segera datang ke acara pertunangan Nesya. “Mungkin sebentar lagi. Viona juga belum kelihatan,” jawab Andika yang tak ingin istrinya cemas.
__ADS_1
"Semoga saja sebentar lagi Senja datang. Tidak enak sama keluarga Dirgantara dan Adrian pastinya. Masa sepupu sendiri bertunangan dia tidak datang," gerutu Liliana dengan pelan.
Liliana menghembuskan nafas dengan kasar. Anaknya satu itu sering sekali datang terlambat ke acara keluarga. Dia tidak tau saja saat ini Senja tengah berusaha menenangkan suasana hatinya agar kuat menghadiri pertunangan Bumi dan Nesya. Senja tak ingin ia lepas kendali pada dirinya. Dia khawatir kalau dirinya akan menangis di acara pertunangan itu.
Sementara itu Nesya yang berdiri di depan Bumi merasa aneh dengan sikap pria itu. Dia sudah berdiri di depan mata, lalu apa lagi yang ia tunggu? Para tamu pun sudah mulai berbisik melihat Bumi yang tak kunjung memakaikan cincin ke jari Nesya. Pria itu seperti berat hati ingin bertunangan dengannya.
Baru saja Tuan Dirgantara ingin mendekat ke arah Bumi, Nesya sudah lebih dulu mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Bumi agar pria itu tak lupa memasangkan cincin ke jari manisnya. Bumi pun baru tersadar. Ia melihat Nesya yang memberi kode dengan matanya agar cincin itu segera disematkan.
Sepertinya dia memang tidak datang. Keluh Bumi dalam hati.
Bumi menghela nafas dengan berat. Ia tak dapat mundur begitu saja saat ini. Dengan sangat berat hati, ia memasukkan cincin yang ia pegang ke jari manis Nesya sehingga membuat Nesya tersenyum puas.
Riuh tepuk tangan dari pihak keluarga dan tamu undangan menyambut peresmian pertunangan mereka. Kini, mereka sudah sah bertunangan. Jika semua wajah-wajah disana menampilkan kebahagiaan, berbeda dengan Bumi yang yang menampilkan wajah hampir tanpa ekspresi.
Nesya sepertinya belum puas setelah Bumi memakaikan cincin di jarinya. Ia malah mendekat dan hendak mencium pipi Bumi. Bumi yang sadar akan hal itu sedikit bergeser menjauhkan pipinya seraya berbisik pelan, “jaga batasanmu!”
Deg.
Nesya tentu saja terkejut dengan reaksi Bumi padanya. Bukankah mereka sudah bertunangan, tapi kenapa sekedar cium pipi saja dia tak mau? Untung saja para tamu masih sibuk bertepuk tangan dan mengucapkan selamat sehingga kejadian kecil memalukan ini tak tertangkap oleh mereka.
__ADS_1
Aku makin penasaran denganmu, Bumi. Aku akan benar-benar membuatmu jatuh ke pelukanku sampai kau yang nantinya terus mendatangiku dan memintaku untuk selalu berada di dekatku! Gumam Nesya dalam hati.
Bersambung...