
Besoknya Senja merasa terkejut saat Bumi mengajaknya keluar ke suatu tempat. Padahal waktu itu masih jam empat sore, belum waktunya pulang kerja, tapi Bumi bersikeras untuk mengajaknya pergi keluar. Akhirnya mau tak mau Senja pun terpaksa pergi dengan dijemput oleh Bumi dan asistennya, Jefri.
“Kita mau kemana sebenarnya?” tanya Senja saat sudah berada dalam mobil bersama Bumi.
“Nanti juga kau akan tau,” jawab Bumi.
Tiba-tiba mata Bumi tertuju pada gelang yang dipakai oleh Senja. Bumi tersenyum. Itu gelang pemberian darinya.
“Kau cantik memakai gelang itu,” ucap Bumi.
“Gelangnya yang cantik,” balas Senja sambil melihat-lihat gelang di tangannya.
“Aku...jadi ingin cherry dan strawberry,” ucap Bumi tiba-tiba.
Senja pun mendelik ke arah Bumi lalu menggerakkan bola matanya ke arah Jefri dengan maksud, ‘jangan bilang begitu, ada Jefri di depan.’
Bumi tersenyum melihat tingkah Senja lalu menggeser duduknya mendekati Senja. Ia pun berbisik,” Kalau dia tidak ada, berarti boleh kan?”
“Awhhhh....” Bumi memekik saat mendapat serangan cubitan di pinggangnya.
“Tuan, apa Tuan baik-baik saja?” tanya Jefri yang sedang menyetir di depan.
“Aku baik-baik saja. Ada serangga usil mencubit pinggangku,” jawab Bumi sambil melihat ke arah Senja. Sementara Senja pura-pura tidak tau saja.
Serangga mencubit? Yang aku tau serangga menggigit. Batin Jefri.
“Tuan butuh sesuatu? Untuk mengobati cubitan serangga itu,” tanya Jefri lagi.
“Tentu saja aku butuh, tapi nanti saja tunggu kau tidak ada,” jawab Bumi sesuka hati sambil melirik ke arah Senja.
Jefri makin bingung dengan tuannya. Sementara Senja geleng-geleng kepala dibuat Bumi.
Pasti dia mau minta cherry dan strawberry lagi. Dia pikir aku penjual buah apa. Gerutu Senja dalam hati.
Tak lama mereka pun sampai di tempat yang dimaksud. Mereka pun turun dari mobil. Senja terheran-heran saat diajak turun ke sebuah tanah yang lapang yang banyak ditumbuhi rumput di dekat pemukiman warga yang tak jauh dari rumah karyawannya, Pak Aris. Disana cukup sepi tidak ada orang. Hanya mereka bertiga saja yang ada disana.
“Kenapa kau mengajakku kesini? Apa kau mau melihat matahari terbenam dari sini?” tanya Senja sambil melihat-lihat sekelilingnya.
__ADS_1
Bumi mengacak gemas rambut Senja. “Bagaimana bisa melihat matahari terbenam dari sini, Senja? Sekelilingnya pemukiman warga,” jawab Bumi.
“Makanya aku bingung,” ucap Senja.
“Aku ingin mengabulkan keinginanmu. Kau ingin punya rumah sakit untuk warga di sekitar sini bukan?”
Senja sontak menoleh ke arah Bumi, ternyata pria itu masih ingat dengan keinginan yang ia ucapkan dulu.
“Kau...” lirih Senja.
Bumi mengangguk. “Aku sudah membeli tanah ini. Dan kita akan membangun rumah sakit disini sesuai keinginanmu,” jelas Bumi.
Senja langsung tersenyum haru. Ia pun mengangguki perkataan Bumi. Ia tak menyangka salah satu impiannya akan diwujudkan oleh pria yang dicintainya ini.
“Terimakasih, Bumiku. Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini,” ucap Senja sambil menatap lekat netra pria di sampingnya itu.
“Apapun akan aku lakukan untukmu, Senjaku. Anggap saja ini sebagai salah satu hadiah untuk pernikahan kita nanti,” balas Bumi.
Blushhh.
Wajah Senja langsung memerah saat Bumi mengatakan kata pernikahan kita. Apa sebegitu seriusnya pria ini ingin segera melamar Senja?
Bumi mengangguki dengan yakin. “Ya, pernikahan. Semoga proses pembangunannya nanti berjalan lancar. Semua akan aku buat sesuai keinginanmu.”
Senja pun makin merona merah dibuatnya.
“Terimakasih,” ucap Senja lagi.
“Kau senang?” tanya Bumi.
“Tentu saja. Kau senang tidak?”
“Melihatmu senang tentu saja aku senang,” jawab Bumi.
Jefri yang berdiri di belakang mereka ikut senyum-senyum sendiri melihat kemesraan mereka berdua.
Melihat mereka jatuh cinta saja, sudah membuatku ikut bahagia. Apalagi kalau aku yang merasakannya langsung nanti. Ah, tapi...kira-kira jodohku siapa ya? Boleh tidak ya aku minta sama Tuhan yang sifatnya mirip seperti Nona Senja? Gumam Jefri dalam hati.
__ADS_1
***
Sementara itu di kediaman keluarga Adrian, Marcel sudah datang memenuhi undangan Adrian. Adrian sudah bertekad tak mau berlama-lama lagi membiarkan Nesya dan Marcel berhubungan tanpa ada ikatan apapun. Sudahlah menambah dosa, itu juga menjadi aib bagi keluarganya kalau sempat publik tau seperti apa kelakuan anak perempuannya itu.
Saat ini Marcel sudah duduk di ruang tamu bersama Adrian, Tari dan Nesya tentunya. Sebelum datang ke rumah Adrian, Nesya sudah lebih dulu menelepon Marcel dan minta agar pria itu mengulur waktu pernikahan mereka dengan alasan masih ada urusan bisnis yang harus diselesaikan. Nesya berharap Marcel akan menyetujui permintaannya dan mengatakan hal itu pada ayahnya, Adrian.
“Jadi, bagaimana Marcel? Kau sudah tidur bersama putri saya. Saya minta kau segera bertanggung jawab dan menikahinya sesegera mungkin,” tanya Adrian secara terang-terangan.
Nesya menatap ke arah Marcel yang juga melihatnya. Nesya seolah memberi kode agar tidak menuruti permintaan ayahnya. Marcel tampak diam memikirkan sesuatu. Adrian yang hanya melihat Marcel diam saja, mulai tak sabaran.
“Bagaimana Marcel? Kau setuju kan menikah dengan putri saya? Pertunangan Nesya dan Bumi sudah resmi dibatalkan. Kalian juga katanya saling mencintai. Lalu tunggu apa lagi?” Adrian kembali mengulang pertanyaannya lagi.
Marcel menghela nafas dalam-dalam. Ia harus memberikan jawaban saat itu juga. Nesya pun semakin deg-degan menunggu jawaban dari Marcel.
“Baiklah, Tuan. Saya setuju untuk menikah dengan Nesya,” jawab Marcel yang membuat Nesya terkejut. Sementara Adrian dan Tari saling pandang dan mengangguk tanda setuju.
“Tapi...saya ada syarat yang saya ajukan untuk Nesya. Saya mau setelah berumah tangga, dia akan tinggal bersama saya dimana pun saya tinggal, karena sebenarnya saya bukan warga negara sini, saya hanya berbisnis disini dan mungkin suatu saat akan kembali lagi ke Amerika,” kata Marcel kemudian.
“Bagaimana Nesya? Dia akan menjadi suamimu dan sudah seharusnya kau ikut dengannya nanti,” tanya Adrian.
Nesya menoleh ke arah Marcel. Rasanya ingin sekali dia memaki pria itu. Padahal dia sudah mengatakan padanya untuk mengulur pernikahan mereka. Sekarang Marcel malah dengan cepat menyetujui permintaan ayahnya.
“Nesya, bagaimana? Kau bersedia kan? Pernikahan kalian memang lebih baik segera dilaksanakan,” tanya Tari kemudian.
“Aku....baiklah, aku setuju. Tapi tolong beri kami waktu untuk menyiapkan pernikahan kami. Aku juga ingin yang terbaik untuk pernikahanku. Paling tidak tunggulah sampai bulan depan,” jawab Nesya yang berusaha mengulur waktu.
“Bulan depan terlalu lama, Nesya. Papa kasih kalian waktu satu minggu. Masalah persiapan pesta, kita bisa bayar Wedding Organizer untuk mengurusnya,” sanggah Adrian.
“Pa, satu minggu itu terlalu cepat. Beri kami waktu satu bulan,” pinta Nesya.
“Tidak bisa. Satu bulan terlalu lama. Begini saja, dua minggu. Dua minggu lagi kalian sudah harus menikah. Tidak ada negosiasi lagi,” kata Adrian yang sudah tak menerima bantahan lagi.
Nesya pun mendengus mendengar keputusan ayahnya. Kalau sudah begini, dia tak bisa berkutik lagi.
“Terserah Papa saja,” jawab Nesya dengan malas.
Sia-lan! Aku harus menikah dua minggu lagi dengan Marcel. Ini tidak adil. Sangat-sangat tidak adil. Ini semua gara-gara Senja. Awas kau Senja! Kau dan Bumi akan aku pastikan tidak akan bisa bersama! Umpat Nesya dalam hati.
__ADS_1
.
Bersambung...