
Dan kini, Bumi duduk seorang diri di ujung jembatan di tempat dimana dirinya dan Senja biasa menyaksikan matahari terbenam bersama. Dia sudah beberapa kali mengirim pesan pada Senja dan mengajaknya bertemu di tempat itu, tapi belum ada satupun balasan yang ia dapat dari Senja.
Mungkin Senja sangat sibuk hari ini, pikirnya. Tadi juga ayah Senja memberitahu bahwa putrinya itu ada meeting di luar dengan client mereka. Tapi apa sesibuk itu hingga tak sempat membalas satu pesan pun yang dikirim Bumi untuknya? Atau dia sengaja tidak ingin membalasnya?
Entahlah, yang jelas Bumi akan tetap menunggunya disana.
Semakin lama udara terasa semakin dingin menusuk tulang. Burung-burung pun mulai berterbangan melintasi udara hendak pulang ke tempat peristirahatannya. Cahaya langit sudah mulai memerah. Namun Senja tak kunjung tampak batang hidungnya.
Kau dimana Senja? Tidakkah kau rindu menyaksikan matahari terbenam bersamaku lagi? Lihatlah, matahari itu sudah hampir tenggelam di ujung lautan! Tapi kau bahkan belum datang juga kesini.
Makin lama matahari pun kian terbenam dan tak nampak lagi rupanya. Bumi menutup mata menelan kekecewaan dan kerinduan secara bersamaan.
Ternyata, matahari terbenam itu tak lebih indah dari Senjaku. Batin Bumi.
__ADS_1
Di sudut lain dari pantai itu, ternyata Senja juga ikut menyaksikan matahari terbenam yang dilihat Bumi. Hanya saja dia sengaja membuat jarak agar Bumi tak tau keberadaannya disana. Hatinya sangat ingin menyapa Bumi kesana, tapi perkataan Nesya terus terngiang di kepalanya. Bumi adalah kebahagiaan terakhir Nesya dan ibunya. Dan ia tak ingin merebutnya.
Senja berbalik lalu masuk ke mobilnya. Ia tak ingin Bumi memergokinya berada disana. Ia harus pergi secepatnya. Tapi rupanya dari dalam mobil Bumi, Jefri melihat Senja meninggalkan kawasan pantai itu duluan, sementara bosnya belum terlihat sama sekali.
Senja yang tak sadar akan keberadaan Jefri disana menyangka Bumi pergi ke pantai itu sendiri. Apalagi kaca mobil Bumi berwarna hitam hingga tak bisa terlihat dari luar jika ada orang di dalamnya. Padahal Jefri sudah melihatnya di parkiran sejak awal dia datang.
Beberapa menit kemudian Bumi pun masuk ke dalam mobil. Jefri ingin bertanya tentang Senja tapi diurungkannya karena melihat wajah Bumi yang terlihat mendung.
Jefri mengernyit keheranan. “Tidak datang? Tapi tadi saya melihat Nona Senja ada disini, Tuan. Beberapa menit sebelum Tuan datang, mobilnya baru saja keluar dari sini.”
Bumi yang tadinya bersandar langsung menegakkan duduknya. “Kau melihat Senja disini? Kau yakin itu dia?” tanya Bumi penasaran.
“Sangat yakin, Tuan. Saya melihatnya dengan jelas. Dia ada disini tadi. Dia sampai kesini setelah kita datang dan pergi dari sini sebelum Tuan masuk ke mobil,” jawab Jefri dengan sangat yakin. Tidak mungkin dia salah melihat orang.
__ADS_1
Bumi terdiam sejenak mendengar jawab Jefri. Dia tidak mengerti kenapa tadi Senja tidak menyapanya.
“Tuan tidak bertemu Nona Senja tadi?” tanya Jefri.
“Tidak. Aku bahkan tidak tau dia datang kesini,” jawab Bumi dengan lesu.
Jefri melirik dari kaca spion, ia melihat bagaimana kecewanya Bumi saat itu. Jefri merasa telah terjadi sesuatu di antara mereka. Mulai dari tadi siang saat Senja tidak ikut meeting bersama, sampai tadi saat Senja pulang duluan meninggalkan Bumi yang tidak mengetahui keberadaannya. Senja terkesan menghindar dari Bumi.
“Sudahlah, kita kembali ke rumah sekarang,” titah Bumi.
“Baik, Tuan.”
Bumi kembali menyandarkan punggungnya. Matanya menerawang di jendela mobil di sebelahnya. Pikirannya masih menerka-nerka, kesalahan apa yang sudah ia lakukan sampai Senja menghindarinya. Ya, Senja memang menghindarinya dan Bumi bisa merasakan hal itu.
__ADS_1