Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
86. Karena Aku Merindukanmu


__ADS_3

“Pffttt...uhuk.. uhuk.. uhuk...”


Dimas sampai tersedak minumannya sendiri saat melihat penampilan Bumi hari ini.


Seumur-umur rasanya baru kali ini Dimas melihat Bumi berpenampilan seperti itu. Hari ini Bumi memang sengaja berpenampilan beda dari biasanya. Ia menggunakan setelan jas lengkap dengan vest berwarna abu-abu. Tak ada lagi jas berwarna hitam yang selalu melekat di badannya.


Bukan hanya itu saja yang membuat Dimas terkejut. Yang paling mencolok adalah Bumi menggunakan kacamata berwarna hitam.


“Selamat pagi,” sapa Bumi seraya membuka kaca mata hitamnya lalu ia letakkan di atas meja makan. Kemudian ia pun duduk di kursi yang biasa ia tempati.


Tuan Dirgantara, istrinya dan Dimas tentu saja saling pandang memandang. Mereka tak mengerti apa yang membuat Bumi berubah seperti itu.


“Selamat pagi. Apa hari ini kau ada undangan yang begitu penting sampai berpenampilan seperti itu?” tanya Tuan Dirgantara secara terang-terangan.


“Ya. Ada undangan peluncuran produk baru dari client kita pagi ini. Aku akan menghadirinya,” jawab Bumi sambil menyantap sarapannya.


“Apa harus berpenampilan seperti itu, Kak?” tanya Dimas yang sedari tadi sangat penasaran dengan perubahan penampilan kakaknya.


“Kenapa? Kau takut tersaingi?” Bumi malah balik bertanya.


Bukan takut tersaingi, Kak. Aneh saja kau tiba-tiba berpakaian  seperti itu. Aku tidak mengerti bagaimana Viona bisa begitu mengagumimu. Umpat Dimas dalam hati.


“Berhenti mengumpatku dalam hati!” ucap Bumi tanpa melihat ke arah Dimas.


Tau dari mana dia aku mengumpatnya?


“Siapa yang mengumpatmu,” jawab Dimas dengan pelan.


“Sudah, lanjutkan makan kalian,” kata Tuan Dirgantara menengahi.


Setelah selesai sarapan, Bumi pun pergi bersama Jefri untuk menghadiri undangan dari client nya. Sebelum memulai perjalanan, Jefri terlebih dahulu memberikan beberapa berkas kepada Bumi.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Bumi. Rasanya ia tidak meminta Jefri menyiapkan laporan pagi ini.  


“Itu beberapa foto yang saya dapat dari CCTV apartemen milik Nona Nesya, Tuan. Tapi itu hanya foto di bagian lift, parkiran dan koridor menuju apartemen Nona Nesya saja. Saya tidak bisa mendapat CCTV bagian dalam apartemennya. Tapi dalam foto-foto itu bisa terlihat wajah Nona Nesya dan Marcel, Tuan. Ternyata pria itu pernah beberapa kali menginap disana,” kata Jefri sambil mengemudikan mobil.


Bumi pun melihat satu per satu foto itu. Tampak jelas disana Marcel merangkul pinggang Nesya dengan begitu dekat. Tak hanya satu, tapi ada beberapa foto lain yang menunjukkan kedekatan mereka. Bumi mendengus kasar saat melihat foto-foto di tangannya. Bukan karena cemburu, tapi merasa geram karena Nesya selama ini telah membohongi dirinya dan keluarganya. Berpura-pura menjadi wanita anggun dan berkelas, tapi ternyata perbuatannya di luar sana serendah itu.


Di antara banyak foto ada satu foto yang sangat menarik perhatian Bumi, yaitu foto Senja yang tengah berada di depan pintu apartemen milik Nesya.


“Jef, ini Senja?” tanya Bumi keheranan.


“Oh itu, iya, Tuan. Itu benar Nona Senja. Tanggal kedatangan Nona Senja sama saat Marcel berada di apartemen bersama Nona Nesya. Saya rasa Nona Senja tau tentang hubungan tersembunyi antara Marcel dan Nona Nesya.”


“Dan dia tidak memberitahuku sama sekali?” tanya bumi yang terdengar kecewa.


“Kita belum tau pasti tentang itu, Tuan. Pasti ada sesuatu yang membuat Nona Senja menyembunyikan ini semua.” Jefri berusaha menenangkan bosnya karena dia tau tak mungkin Senja tega menyembunyikan hal ini begitu saja tanpa alasan yang jelas.


Bumi pun kembali mengingat saat Senja bilang padanya kalau dia adalah kebahagiaan terakhir Nesya dan ibunya. Apakah ini yang dimaksud Senja? Dia menyembunyikan semua ini darinya karena tidak ingin mengambil kebahagiaan Nesya dan ibunya?


***


Apalagi hari itu Bumi berpenampilan yang berbeda dari biasanya. Tentu saja hal itu menarik perhatian seluruh tamu undangan yang datang.


Disana juga sudah ada Senja dan ayahnya. Senja hari ini juga tak kalah cantik dengan gaun yang panjang hingga selutut berwarna dusty pink dengan high heels berwarna senada.


Saat Bumi dan Jefri berjalan hampir mendekat ke arah mereka, Andika dengan cepat menarik tangan anak gadisnya lalu meminta Senja bersembunyi di belakangnya. Tapi ternyata dugaannya salah. Bumi tak sedikitpun melirik ke arah mereka. Ia hanya berjalan melewati mereka dan langsung menyapa client nya yang punya acara.


Baik Andika maupun Senja cukup terkejut dengan sikap Bumi pada mereka. Melihat Bumi begitu acuh padanya, sekarang malah Senja yang merasa tergelitik untuk curi-curi pandang ke arah pria itu.


“Lihatlah, tampan sekali anak Tuan Dirgantara itu,” kata salah satu wanita yang hadir disana.


“Benar. Sayangnya dia sudah memiliki tunangan,” sahut salah seorang temannya.

__ADS_1


“Kalau aku sih, dijadikan simpanan olehnya juga aku bersedia. Sudah tampan, kaya, tidak ada kurangnya,” sahut yang lain pula.


Senja hanya diam saja mendengar obrolan para wanita itu tentang Bumi. Ia pun tak memungkiri bahwa Bumi memang memiliki paket lengkap untuk seorang pria yang sempurna. Tapi sayang, Bumi bukan tercipta untuk Senja.


***


Sore harinya Senja pergi ke pantai tempat mereka biasa bertemu untuk menyaksikan matahari terbenam bersama. Rasanya sudah lama sekali dia tidak kesana. Ia begitu rindu menghabiskan waktu bersama Bumi untuk melihat matahari terbenam.


Senja kini berdiri di ujung jembatan seorang diri. Tak ada lagi Bumi yang akan menggenggam erat tangannya saat matahari mulai terbenam. Hanya suara deburan ombak dan semilir angin yang berhembus dengan perlahan menemaninya saat itu.


Hahhh, betapa ia sangat merindukan pria itu saat ini. Duhai Bumi, tidakkah kau juga merindukan Senjamu ini?


Di ujung mata memandang, matahari pun perlahan turun dan hilang ditelan lautan. Semburat merah jingga yang tadi memerah mewarnai langit, perlahan kian memudar dan berganti menjadi gelap. Pertanda matahari sudah kembali ke peraduannya.


“Bumi...aku tidak bisa menipu perasaanku lagi. Aku sangat merindukanmu saat ini. Sudah beberapa hari aku tidak bertemu denganmu dan itu membuat diriku tersiksa menanggung rindu. Tapi hari ini semesta sepertinya sedang berbaik hati padaku. Aku akhirnya bisa bertemu dengan  dirimu meskipun kau mengacuhkan keberadaanku. Tapi tak apa, itu sudah lebih dari cukup. Rinduku sudah cukup terbayar hanya dengan melihat wajahmu,” lirih Senja pada dirinya sendiri. 


Senja menghembuskan nafasnya dengan lega. Hari ini rindunya sudah cukup terobati. Saat Senja berbalik hendak meninggalkan tempat itu, ia sangat terkejut karena menabrak seseorang di depannya.


Deg.


“Kau?” gumam Senja dengan mata membulat sempurna.


“Ya, ini aku. Orang yang kau rindukan,” jawab seseorang yang ditabrak Senja, yang tak lain adalah Bumi.


Kapan dia ada di belakangku? Kenapa aku tidak sadar dia datang kesini? Apa dia mendengar perkataanku tadi? Senja bertanya dengan cemas dalam hati.


“Kau...kenapa kau tiba-tiba ada disini?” tanya Senja ragu-ragu.


Bumi pun melangkahkan kakinya untuk semakin dekat pada Senja. Senja sempat mundur dua langkah tapi akhirnya ia berhenti karena di belakang sudah tak ada jembatan yang bisa dipijak lagi. Mereka sekarang berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Jangan ditanya seberapa kencang jantungnya berdegup saat ini. Bahkan udara di sekelilingnya serasa kian menghilang hingga menyisakan sesak di dada.


“Kau ingin tau kenapa aku ada disini? Jawabannya karena aku merindukanmu, Senjaku.”

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2