
Jefri sudah sampai di rumah Tuan Mudanya. Ia berencana menjemput Bumi dan Senja untuk mengantarkan mereka ke kediaman keluarga Dirgantara. Semua keperluan untuk berbulan madu sudah Jefri siapkan juga dengan baik. Bumi dan Senja hanya tinggal menikmatinya saja lagi.
Tak lama Bumi dan Senja pun sudah berpakaian rapi. Mereka menghampiri Jefri yang sudah menunggu di ruang tamu.
“Selamat siang, Tuan. Semua sudah saya siapkan. Mau berangkat sekarang?” tanya Jefri.
“Ya, kita berangkat sekarang. Tapi tolong antarkan kami dulu ke rumah mertuaku. Kami mau berpamitan sebentar,” jawab Bumi.
“Baik, Tuan.”
Mereka pun pergi ke rumah orang tua Senja yang letaknya bersebelahan dengan rumah mereka. Bumi dan Senja berpamitan pada Andika dan juga Liliana.
“Jangan terlalu memforsir anak semata wayangku!” bisik Andika pada Bumi saat Bumi bersalaman dengannya.
“Papa mertua tidak usah khawatir. Do'akan kami pulang membawa cucu untuk Papa dan Mama mertua, ya,” jawab Bumi sambil menahan senyumnya.
“Iya, yang penting anakku jangan sampai kau buat kelelahan!” Andika masih saja khawatir pada putri semata wayangnya itu.
“Siap, Boss.”
“Kalian bicara apa sih bisik-bisik begitu?” tanya Liliana yang penasaran melihat suami dan menantunya bicara pelan-pelan seperti tak ingin didengar olehnya dan juga Senja.
“Bukan apa-apa, Ma. Papa hanya memberi restu untuk mereka supaya bulan madu mereka lancar,” jawab Andika.
Bumi tergelak dalam hati mendengar jawaban mertuanya itu. Rupanya ayah mertuanya ini tipe suami takut istri. Eh, bukan takut, tapi menjaga perasaan istri.
“Kalau begitu kami pamit dulu, setelah ini kami harus berpamitan juga dengan ayah dan ibu,” ucap Bumi dengan penuh hormat.
“Iya, semoga bulan madu kalian lancar dan pulang nanti langsung bisa bawa cucu buat Mama sama Papa,” sahut Lilianan yang membuat wajah Senja merona merah.
“Amiiin, Ma. Terimakasih do'anya. Kami pergi dulu,” ucap Bumi.
Mereka pun meninggalkan rumah orang tua Senja dan berangkat ke rumah Tuan Dirgantara. Disana rupanya mereka memang sudah ditunggu oleh Tuan Dirgantara beserta istri. Bahkan Dimas pun juga ikut berada disana.
__ADS_1
“Kau tidak ke kantor?” tanya Bumi saat melihat Dimas masih berada di rumahnya.
“Jefri saja tidak ke kantor.” Dimas malah menunjuk Jefri yang berdiri di belakang Bumi.
“Dia ada urusan denganku. Setelah ini dia juga akan kembali ke kantor,” ucap Bumi.
“Aku cuti, Kak. Besok baru ke kantor,” kata Dimas beralasan.
“Jef, kau cek sisa cuti Dimas. Dia tidak bisa seenaknya mengambil cuti. Kalau cutinya sudah habis, potong saja gajinya,” kata Bumi dengan serius.
“Baik, Tuan,” sahut Jefri.
“Cutiku masih banyak, Kak. Perhitungan sekali dengan adik sendiri. Senja, hati-hati ya, suamimu ini sangat perhitungan,” cibir Dimas.
“Aku mendukung suamiku. Memang harusnya seperti itu. Makanya kau harus rajin bekerja,” kata Senja membela sang suami.
Mendengar Senja membelanya, Bumi pun merangkul bahu Senja karena merasa menang dari Dimas.
“Cih, dasar bucin!” ejek Dimas.
Bumi mencium puncak kepala istrinya. Ia gemas melihat sang istri berdebat dengan Dimas seperti itu. Tak lama Tuan Dirgantara dan istri pun menghampiri mereka.
“Ada apa ini ramai-ramai?” tanya Tuan Dirgantara lalu memeluk anak dan menantunya. Begitu juga dengan Vero istrinya.
“Ini, Ayah. Ada pasangan bucin,” jawab Dimas melirik ke arah Bumi dan Senja.
“Bucin itu apa?” tanya Tuan Dirgantara tak mengerti.
“Ayah tidak usah dengar anak kecil ini. Bahasanya memang suka aneh-aneh,” jawab Bumi yang membuat Senja terkekeh sementara Dimas mengerucutkan bibirnya.
“Kalian ini ada-ada saja. Jadi, bagaimana? Kalian jadi berangkat dengan helikopter dari sini?” tanya Tuan Dirgantara.
“Iya, Ayah. Kami akan pergi sekarang. Do'akan kami semoga perjalanan kami lancar,” jawab Bumi.
__ADS_1
“Pasti ayah mendoakan yang terbaik untukmu dan menantu ayah. Tapi, kau benar-benar ingin menerbangkan helikopter sendiri kesana?” tanya Tuan Dirgantara memastikan.
“Iya, Ayah. Aku mau menerbangkannya sendiri.”
“Kau bisa menerbangkan helikopter?” tanya Senja tak percaya.
“Bisa, Sayang. Aku juga sudah punya lisensinya. Kau tidak perlu khawatir. Kau cukup duduk dengan tenang di sampingku,” jawab Bumi.
Senja menatap kagum pada suaminya. Bumi semakin terlihat sempurna di matanya tanpa cacat cela.
“Makin bucin nih kayaknya,” ledek Dimas saat melihat Senja menatap suaminya dengan penuh kagum.
“Sudah, jangan mengganggu mereka, Dimas. Bumi, Senja, sebaiknya kalian pergi sekarang, cuaca sedang cerah dan helikoptermu juga sudah siap,” kata Tuan Dirgantara.
“Baik, Ayah.”
Bumi dan Senja pun bergantian pamit pada ayah dan ibunya. Setelah itu mereka pergi ke halaman belakang tempat dimana helikopter sudah menunggu mereka.
Bumi pun membantu sang istri naik ke helikopter, setelah itu ia pun duduk di belakang kemudi dan siap menerbangkan helikopter itu.
“Kau siap?” tanya Bumi sambil menoleh ke arah sang istri.
“Aku selalu siap kalau bersamamu,” jawab Senja dengan yakin.
Bumi pun mulai menghidupkan mesin dan menerbangkan helikopter itu. Saat mereka sudah di atas lalu menoleh ke bawah, tampak Tuan Dirgantara dan juga anggota keluarga yang lain melambaikan tangan pada mereka berdua.
“Mereka romantis sekali. Aku jadi iri, ingin segera menikah juga,” kata Dimas yang tengah menatap ke atas.
“Makanya kerja yang rajin. Jangan apa-apa mengandalkan Jefri. Kalau kau malas-malasan bekerja, nanti Viona menikahnya sama Jefri bukan sama kamu,” ledek Tuan Dirgantara lalu berlalu masuk.ke dalam rumah.
“Ih, enak saja! Jef, awas kau kalau berani mengambil Viona dariku!” ancam Dimas.
Jefri hanya menaikkan bahunya saja. Ia pun ikut masuk ke dalam rumah mengikuti Tuan Dirgantara.
__ADS_1
.
Bersambung...