
Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam sore, Senja dan ayahnya tampak baru keluar dari kantor mereka. Cuaca saat itu sudah mulai gerimis, langit pun tampak gelap sekali. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Syukurnya Senja dan ayahnya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka, jadi mereka bisa pulang secepatnya.
Sampai rumah, mereka pun langsung disambut oleh Liliana dengan teh hangat yang ia buat.
“Kalian baru pulang? Di luar sudah mulai gelap. Untung saja kalian sudah sampai ke rumah. Ayo, minum teh hangatnya dulu,” kata Liliana sambil meletakkan nampan berisi teh hangat dalam sebuah teko dan dua buah cangkir.
Liliana pun menuangkan teh tersebut ke dalam setiap cangkir dan memberikannya pada Andika dan Senja.
“Syukurnya pekerjaan hari ini sudah selesai, jadi kami bisa pulang sebelum hujan lebat. Ngomong-ngomong terimakasih teh nya, Sayang,” ucap Andika lalu meminum teh buatan istrinya itu.
“Terimakasih teh nya, Ma,” ucap Senja juga lalu ikut meminum teh miliknya.
“Iya, Sayang. Sama-sama. Hari ini Mama masak sup ayam dan bikin ayam goreng kesukaan Senja. Kalian berdua mandi dulu, bersih-bersih, setelah itu kita makan sama-sama,” kata Liliana.
“Wah, Senja dengar kata sup dan ayam goreng saja sudah bikin lapar,” kata Senja sambil memegang perutnya.
“Iya, makanya cepat mandi dulu sana. Biar kita cepat makannya. Kalian pasti sudah lapar kan habis kerja seharian?”
“Iya, Ma. Ya sudah, Senja ke atas duluan.”
“Papa juga mau ke atas. Mama mau ikut tidak?” goda Andika.
“Ih, Papa. Mama sudah mandi. Papa saja sana mandi. Mama mau siapkan makan malam dulu,” tolak Liliana.
“Ya sudah, kalau tidak mau,” ucap Andika lalu pergi ke atas menuju ke kamarnya.
Senja hanya terkekeh saja melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Ia juga ikut naik ke atas menuju ke kamarnya untuk segera mandi.
***
Di sisi lain ada Marcel yang dari tadi menghubungi Nesya. Ia mendapat kabar dari Catherine salah satu sahabat Nesya kalau Nesya akan melakukan sesuatu yang buruk pada Senja. Tapi sayangnya Catherine tidak tau pasti apa yang direncanakan Nesya karena semenjak kejadian di restoran waktu itu, ia belum bertemu dengan Nesya lagi. Catherine merasa Marcel bisa membantunya untuk mencegah Nesya berbuat yang tidak-tidak pada Senja.
Marcel yang sedang berada di apartemennya sudah berkali-kali menelepon Nesya. Tapi sayang, panggilannya tidak satupun dijawab oleh Nesya.
“Apa aku hubungi Senja saja, ya? Ya, aku rasa aku harus memberitahu Senja agar lebih berhati-hati lagi pada Nesya,” gumam Marcel.
Marcel pun mulai menelepon Senja. Panggilan pertama, tidak ada jawaban. Marcel mencoba meneleponnya lagi. Panggilan kedua, ketiga, sampai panggilan ke sepuluh juga tidak ada jawaban dari Senja.
“Oh my God! Kau dimana Senja? Mengapa kau tidak menjawab panggilanku?” gumam Marcel dengan kesal.
Marcel tidak tau kalau saat ini Senja sedang berada dalam kamar mandi. Jadi, ia sama sekali tidak tau jika ada panggilan masuk dari Marcel.
Setelah selesai mandi, seperti biasa Senja langsung berpakaian dan mengeringkan rambutnya lalu menyisirnya. Tiba-tiba handphone-nya kembali berdering. Senja pun mengambil handphone itu dan melihat ada tertera nama Nesya di layarnya.
“Kak Nesya meneleponku? Ada apa, ya?” gumam Senja.
Terlalu lama berpikir, panggilan itu tiba-tiba berhenti. Disana bukan hanya ada panggilan tak terjawab dari Nesya, tapi ada juga dari Marcel.
“Marcel juga meneleponku tadi?”
Tak lama Nesya kembali meneleponnya lagi.
__ADS_1
“Mungkin ada yang penting. Semoga saja dia tidak membahas soal Bumi.”
Senja pun akhirnya menjawab panggilan dari Nesya. Belum sempat ia mengucapkan halo, sudah terdengar suara isak tangis seseorang di telinganya. Ya, itu suara Nesya yang sedang menangis. Tapi ada apa dengannya? Kenapa dia menangis seperti itu?
“Hallo, Kak Nesya. Kak, kau kenapa?” Senja langsung panik mendengar suara Nesya yang sedang terisak.
“Senja, a-apa kau bisa menolongku? Aku butuh sekali bantuanmu, Senja,” ucap Nesya di sela-sela isak tangisnya. Suaranya juga pelan sekali seperti orang yang sedang berbisik karena tak mau didengar oleh orang lain.
“Bantuan apa, Kak? Kau menangis, ya? Ceritakan ada masalah apa?” tanya Senja semakin panik.
“Aku...aku dan Marcel bertengkar. Kami sedang ada di hotel Starlight kamar nomor 721. Tadi Marcel kebetulan bertemu dengan client nya di hotel ini juga. Bisakah kau datang kesini? Bantu aku jelaskan pada Marcel. Dia mengamuk dan marah karena papaku memintanya menikahiku. Dia menganggap aku menjebaknya. Aku mohon Senja, kau tolong datang kesini,” pinta Nesya dengan suara yang sangat memelas.
“Marcel menyakitimu? Aku akan bawa bodyguard untuk menghajarnya. Kau tunggu saja disana, Kak,” ucap Senja.
“Tidak, Senja! Jangan bawa bodyguard! Urusannya bisa panjang. Aku hanya minta tolong kau bicara padanya, hanya itu. Lagipula aku tidak mau sampai orang tuaku tau soal ini. Dia kan dekat denganmu, dia pasti mau mendengar ucapanmu,” kata Nesya yang berusaha membujuk Senja agar datang sendiri kesana.
“Tapi kalau dia menyakiti kita berdua disana bagaimana? Kau diapakan olehnya? Dia tadi juga meneleponku, tapi aku tidak sempat angkat karena sedang mandi,” ucap Senja dengan jujur.
“Jangan angkat telfon darinya, Senja! Aku mohon jangan! Cepatlah kau datang kesini dan bantu aku disini! Ingat, jangan bawa bodyguard, Senja!” cegah Nesya.
“Tapi dia sudah menyakitimu, Kak.”
“Dia hanya menamparku. Dia hanya emosi sesaat. Untuk itu, aku mohon sekali. Tolong bantu aku, Senja. Papaku bersikeras ingin kami menikah, tapi dia sepertinya tidak mau. Aku minta tolong padamu agar membujuknya,” pinta Nesya lagi dengan lebih memelas. Bahkan suara isak tangisnya sudah makin kencang lagi.
“Baiklah, aku akan kesana sekarang. Tunggu aku disana,” jawab Senja yang membuat Nesya tersenyum puas dibalik teleponnya.
Setelah menutup teleponnya, Senja pun bersiap-siap untuk pergi sendiri ke hotel itu dengan mobilnya. Liliana yang melihat Senja ingin keluar rumah tentu saja mencegahnya, apalagi cuaca sedang tidak bersahabat malam itu.
“Senja ada urusan penting, Ma. Sebentar saja,” jawab Senja dengan terburu-buru.
“Ya sudah, tapi biarkan supir yang mengantarmu,” ucap Liliana.
“Tidak perlu, Ma. Senja kan sudah biasa bawa mobil sendiri, Mama tidak usah khawatir. Senja pergi dulu ya, Ma. Oh ya, sisakan sup dan ayam Senja,” pamit Senja lalu mencium pipi ibunya dan pergi meninggalkan rumahnya dengan mengendarai mobil sendirian.
“Ck, anak itu mau kemana lagi, sih. Mana sudah mau hujan begini,” keluh Liliana sambil menatap kepergian anaknya. Ada rasa khawatir menjalar di hatinya. Perasaannya sungguh tak enak melihat Senja pergi sendiri malam ini.
Memang benar, tak lama Senja mengendarai mobilnya, hujan pun mulai deras. Petir dan geluduk bersahut-sahutan memecah keheningan malam itu. Senja tetap menyetir mobilnya dengan berhati-hati. Ia berharap bisa segera sampai ke tempat Nesya berada secepatnya.
Saat sedang menyetir, matanya sempat beralih pada tangannya yang tengah memegang stir mobil. Ada gelang pemberian Bumi yang melingkar disana. Ia pun tersenyum, tiba-tiba ia merasa rindu pada Buminya itu.
Seperti ada kontak batin, tak lama yang sedang dirindukan pun menelepon ke handphone-nya. Senja tidak mungkin menjawab panggilan dari Bumi. Bumi pasti akan khawatir atau bahkan langsung menyusul Senja kalau tau Senja sedang berada di luar saat itu. Untuk itu, Senja hanya membiarkan handphone-nya berdering sampai akhirnya panggilan itu berakhir.
Tak lama masuk lagi panggilan baru, tapi rupanya panggilan itu dari Nesya. Senja pun dengan cepat menjawab panggilan itu dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih memegang stir mobilnya.
“Hallo, Kak.”
“Kau dimana Senja? Marcel sebentar lagi masuk kesini. Kalau bisa kau sudah ada saat dia masuk ke kamar ini.”
“Aku sedang di jalan, Kak. Sekarang di luar sedang hujan deras. Aku tidak bisa membawa mobil terlalu cepat.”
“Baiklah, aku tunggu kedatanganmu.”
__ADS_1
Senja pun memutuskan panggilan itu dan kembali menyetir mobilnya. Jalanan di kala hujan juga mulai macet dimana-mana. Senja harus menyetir mobilnya dengan hati-hati jika tidak mau terjadi apa-apa pada keselamatannya.
Nesya yang tengah menunggu kedatangan Senja di hotel dengan seorang pria yang disewanya sudah tak bisa sabar lagi. Dari tadi Senja belum sampai juga ke hotel itu. Padahal seharusnya tak sampai satu jam, Senja sudah harus tiba disana.
Di handphone Senja masuk lagi panggilan dari Marcel. Senja yang melihat nama Marcel tertera disana, memilih untuk mengabaikannya. Berkali-kali Marcel meneleponnya tapi tak juga dijawab oleh Senja. Tak lama handphone-nya kembali berdering. Kali ini giliran Bumi yang meneleponnya.
“Ya ampun, bagaimana bisa aku menjawab telfon darinya? Maafkan aku, Bumi. Aku tidak bisa menjawab panggilanmu. Maafkan aku. Kau pasti sedang merindukanku dan khawatir padaku. Aku juga merindukanmu. Tapi maaf, aku belum bisa menjawab telfonmu,” gumam Senja sendirian.
Bumi hanya bisa berdecak di kamarnya. Ia kesal Senja tak kunjung mengangkat teleponnya. Akhirnya Bumi memutuskan untuk menelepon ke telepon rumah Senja. Ia terkejut saat mendengar Senja tak ada di rumah, ternyata Senja sedang keluar sendirian.
Bumi pun dengan cepat menghubungi Jefri, asistennya.
“Jef, lacak keberadaan Senja! Dia pergi sendirian malam-malam begini. Aku sangat khawatir padanya. Apalagi di luar hujan deras. Cari dimana dia sampai dapat!” titah Bumi.
“Baik, Tuan.”
Bumi pun memutuskan panggilannya. Ia membuka laci dan mengambil kotak yang berisi sapu tangan yang terdapat tanda bibir Senja. Ia mencium sapu tangan itu dan merasa semakin khawatir pada Senja.
Senja, kau dimana sebenarnya? Kenapa kau keluar sendirian malam-malam begini? Kau membuatku sangat khawatir sekarang. Gumam Bumi dalam hati.
***
Sudah cukup lama Nesya menunggu Senja, tapi yang ditunggu belum datang juga. Nesya semakin tidak sabar dan akhirnya kembali menelepon Senja. Senja pun segera menjawab panggilannya.
“Hallo, Senja. Kau sudah dimana? Kau jadi datang kan?”
“Hallo, Kak. Aku masih di jalan. Disini hujan deras. Aku tidak bisa menyetir lebih cepat.”
“Aku mohon, Senja. Datanglah secepatnya. Apa kau mau Marcel menyakitiku lagi?” Nesya makin gencar memelas pada Senja sehingga membuat Senja menambah laju kecepatan mobilnya. Senja yang terlalu panik tidak menghiraukan lagi gelap malam dan derasnya hujan saat itu.
“Baiklah, aku usahakan datang cepat kesana.”
“Tolong, Senja. Aku minta tolong segera datang kesini, Senja.”
“Iya, Kak. Sabar. Aku masih di jalan.”
“Maaf merepotkanmu. Aku mohon datang kesini segera.”
“Iya, sabar kak ini aku....aaaaaaaaaaaaaaa........”
Ciiiiiiiiiiiiittttttttttttt.........braaakkkkkkkkk!!!
"Senjaaa......"
Tut...tut....tut.......
Panggilan itu mendadak terputus begitu saja.
.
Bersambung...
__ADS_1