Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
81. Tak Dapat Bertemu Senja


__ADS_3

Setelah malam itu Andika benar-benar membantu Senja untuk menjauh dari Bumi. Seluruh pekerjaan Senja yang berkaitan dengan perusahaan Dirgantara akan diurus langsung oleh Andika.


Tidak hanya itu saja, sekarang Senja sudah jarang sekali mengendarai mobilnya sendiri. Pergi dan pulang kantor ia akan terus bersama sang ayah dalam satu mobil. Tak pernah ada lagi komunikasi antara Bumi dan Senja meskipun hanya lewat media handphone saja.


Beberapa kali Bumi mengirim pesan pada Senja, tapi tak pernah digubrisnya. Tanpa membaca apa isi pesannya, Senja langsung menghapus pesan itu.


“Cuaca hari ini sangat cerah, mau tidak lihat matahari terbenam bersamaku lagi?”


“Senja, apa kau sibuk? Nanti sore bagaimana kalau kita melihat matahari terbenam bersama?”


“Senja, matahari terbenam hari ini sangat indah. Sayang sekali kau melewatinya. Besok apa kau mau melihatnya bersamaku?”


Begitulah kurang lebih pesan yang terus Bumi kirimkan beberapa hari ini, tapi sayangnya tak ada satupun pesan darinya yang mendapat balasan dari Senja.


Hari ini sudah masuk hari keempat tak ada kabar dari Senjanya. Bumi yang sedang berdiri sendiri di ujung jembatan tempat ia biasa menanti matahari terbenam bersama Senja, merasa ada sesuatu yang janggal pada Senja. Ia yakin Senja sengaja menghindarinya.


Bumi menatap lurus ke depan. Ia melihat matahari perlahan turun semakin hilang ditelan lautan.


Bumi tampak menghela nafas nafas dengan berat. Indahnya cahaya jingga yang ia lihat tak mampu mengalahkan indahnya senyuman yang terlukis di wajah Senjanya. Akhirnya Bumi pun berbalik lalu meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa.


Bumi sampai di rumah lalu berpapasan dengan Dimas yang baru saja menuruni tangga. Dimas yang tak tau suasana hati sang kakak sedang gundah menyapa dengan ramah.


“Eh, Kak Bumi sudah pulang. Kebetulan sekali, aku dan yang lain baru saja mau makan malam bersama. Ayo kak, kita makan!” ajak Dimas.


“Kau saja,” jawab Bumi tanpa menoleh ke arah Dimas.


“Tapi kak......ng......tidak jadi.” Cepat-cepat Dimas menghentikan perkataannya setelah mendapat tatapan tajam dari Bumi.


Tatapannya mengerikan sekali. Badanku terasa tersayat-sayat hanya dengan ditatapnya seperti itu. Umpat Dimas dalam hati. Ia pun tak mau berurusan dengan kakaknya lagi. Lebih baik ia pergi ke ruang makan saja sendiri.


Wajah Bumi tampak kusut dan muram. Sesampainya di kamar ia melempar jasnya sembarangan. Ia lalu duduk di sofa dan membuka kembali handphone-nya. Lagi-lagi tak ada pesan yang dibalas oleh Senja. Yang ada malah pesan dari Nesya yang mengajaknya jalan-jalan ke mall.

__ADS_1


Mengajak Bumi jalan-jalan ke mall? Yang benar saja! Namanya bisa berubah jadi Merkurius kalau ia mau menerima tawaran itu.


Lalu tiba-tiba Bumi teringat sesuatu. Ia membuka catatan pada handphone-nya lalu ia tampak tersenyum melihat catatan itu. Di situ tertulis, besok ada jadwal meeting dengan perusahaan Wijaya. Akankah besok Bumi bertemu Senja?


***


Pagi ini tak seperti biasa, saat yang lain sudah mulai sarapan pagi, Bumi masih belum juga nampak batang hidungnya. Jefri yang sudah dari tadi menunggu di depan terpaksa masuk untuk memeriksa tuannya.


Jefri mengerutkan kening saat melihat Bumi tak ada di meja makan, sedangkan yang lain sudah hampir menyelesaikan sarapan pagi mereka.


“Selamat Pagi Tuan, Nyonya,” sapa Jefri dengan ramah.


“Pagi. Kau sudah sarapan? Makanlah dulu kalau belum. Sepertinya tuanmu kesulitan mengikat tali sepatunya sampai terlambat turun untuk sarapan,” kata Tuan Dirgantara sambil tersenyum meledek putranya sendiri.


“Terimakasih, Tuan. Saya sudah sarapan. Kalau begitu saya ijin langsung ke atas memeriksa Tuan Muda. Permisi, Tuan,” ucap Jefri yang membungkukkan badannya sekilas lalu pergi menyusul Bumi ke atas.


“Ada apa dengan kakakmu, Dimas? Tumben dia tidak turun sarapan bersama,” tanya istri Tuan Dirgantara.


Sementara itu di dalam kamar, Bumi belum juga selesai berpakaian. Dari tadi ia bergonta-ganti kemeja dan jas lalu bercemin di depan kaca. Hari ini ia akan bertemu dengan Senja pada saat meeting nanti, ia ingin berpenampilan yang bagus saat bertemu Senja.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Ia tau itu pasti Jefri. Ia pun meminta Jefri untuk masuk ke dalam.


Alangkah terkejutnya Jefri saat melihat tuannya itu baru memakai celana panjang dan kaos dalam saja. Di atas tempat tidur berserak beberapa potong kemeja beserta jas. Selama ia mengabdi pada Bumi, baru kali ini Jefri melihat kamar Bumi berserak dengan pakaian seperti itu.


“Tuan, belum berpakaian? Apa yang terjadi Tuan? Lemari Tuan ada rayapnya?” tanya Jefri dengan heran.


“Ck! Aku sedang memilih pakaian yang pas. Menurutmu aku bagusnya pakai kemeja warna apa?” tanya Bumi yang membuat Jefri membelalakkan matanya.


Jefri jadi tidak yakin yang di depan matanya ini adalah Bumi Langit Dirgantara, bosnya.


“Tuan cocok pakai kemeja apa saja. Kita sudah hampir terlambat meeting Tuan. Sebaiknya Tuan cepat berpakaian lalu kita berangkat ke perusahaan Wijaya,” jawab Jefri.

__ADS_1


“Iya, sabar. Kau ini tidak sabaran sekali. Kau tunggu dibawah saja sana!” ucap Bumi dengan nada sewot.


“Baik, Tuan," sahut Jefri dengan pasrah lalu kembali turun ke bawah.


Tuan Bumi kenapa? Apa dia salah makan tadi malam? Heboh sekali memilih baju seperti mau berkencan saja. Padahal dia kan mau meeting pagi ini. Umpat Jefri dalam hati.


Akhirnya Bumi pun segera berpakaian dan memilih kemeja berwarna biru muda untuk ia kenakan. Setelah itu ia pun pergi ke perusahaan Wijaya. Jefri menawarinya untuk sarapan terlebih dahulu tapi ia menolaknya. Ia sudah tak sabaran sekali rasanya ingin bertemu Senja. Jefri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh tuannya. Sepanjang perjalanan wajahnya terus tersenyum bahagia.


Begitu sampai disana mereka langsung masuk ke ruang meeting. Tapi mereka justru tak mendapati Senja ada disana. Kali ini mereka malah bertemu dengan Andika.


“Selamat datang, Tuan Bumi. Mulai hari ini sampai seterusnya, saya yang akan langsung turun tangan dalam kerjasama perusahaan Wijaya dan Dirgantara,” ucap Andika dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.


Bumi tentu saja terkejut dengan perkataan Andika. Wajahnya yang cerah berubah mendung seketika. Ia kecewa. Sangat-sangat kecewa. Hari ini ternyata ia tak dapat bertemu lagi dengan Senjanya.


"Boleh saya tau apa alasannya?" tanya Bumi yang sudah memasang wajah datarnya seperti biasa.


"Oh, tidak ada masalah apa-apa. Nona Senja sedang sibuk menangani proyek lain yang sudah lebih dulu ia tangani sebelum menangani proyek dengan perusahaan anda, Tuan. Jadi saya memintanya untuk fokus pada satu proyek itu dulu sampai selesai. Mengenai proyek dengan perusahaan anda, biar saya yang meneruskannya," jawab Andika masih dengan tenang.


"Nona Senja sudah terbiasa menangani proyek ini. Saya yakin dia bisa membagi waktunya menangani dua proyek sekaligus," kata Bumi yang tak rela Senja diganti begitu saja.


"Apa anda keberatan jika saya menggantikannya, Tuan?" tanya Andika mulai memasang wajah serius.


"Bagaimana kalau saya jawab iya?" Bumi balik bertanya dengan tak kalah serius.


"Nona Senja tetap tidak akan mengurusi proyek ini lagi. Bahkan jika anda ingin proyek ini dibatalkan dan saya harus mengganti kerugian yang anda alami, maka saya bersedia," jawab Andika dengan sungguh-sungguh.


Karena saya akan memenuhi permintaan putri kesayangan saya untuk membantunya agar bisa menghindar dari anda, Tuan Muda. Tambah Andika dalam hati.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2