
Besoknya Nesya mendatangi perusahaan Dirgantara. Perkataan sang ayah tadi malam membuatnya berpikir keras untuk melakukan banyak cara agar bisa lebih dekat dengan Bumi. Lagipula ia memang jarang sekali dapat bertemu dengan Bumi. Ia khawatir juga kalau ada wanita lain yang mendekati Bumi tanpa sepengetahuannya.
Nesya pun sampai di perusahaan Dirgantara lalu menghampiri resepsionis disana.
“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu, Nona?” sapa resepsionis dengan ramah.
“Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan Bumi. Apa dia ada di ruangannya?” tanya Nesya to the point.
Resepsionis itu tampak cukup terkejut mendengar ada yang mencari bosnya dengan menyebut nama Bumi saja tanpa ada embel-embel Tuan di depannya. Ia melihat kembali wanita di depannya itu berpakaian cukup ketat dan seksi. Mungkinkah wanita itu dekat dengan bosnya?
Dengan penampilan Nesya yang menggunakan rok mini yang bahkan tidak menutupi pahanya, lalu blazer yang ketat dengan dalaman seperti kemban yang memperlihatkan lekuk dadanya, rasanya tidak mungkin Tuan Muda Dirgantara bisa memiliki kedekatan dengan wanita seperti itu.
“Maaf, sebelumnya apa Nona sudah ada janji dengan Tuan Bumi?” tanya resepsionis itu.
“Tidak. Saya tidak buat janji. Saya langsung datang kemari untuk bertemu dengannya. Apa dia ada?” Nesya kembali mengulang pertanyaannya.
“Maaf, Nona. Saya sarankan Nona membuat janji dulu untuk bertemu dengan Tuan Bumi. Jadwal beliau sangat padat. Lagipula sekarang Tuan Bumi sedang ada meeting, Nona. Beliau tidak bisa diganggu,” jawab resepsionis dengan ramah.
“Kapan dia selesai meeting? Meeting nya di perusahaan ini kan? Biar saya tunggu di ruangannya saja,” kata Nesya bersikeras untuk tetap bertemu Bumi.
“Maaf, Nona. Nona harus buat janji dulu. Tidak bisa sembarangan bertemu Tuan Bumi. Beliau sangat sibuk,” tolak resepsionis dengan halus.
“Kenapa saya tidak bisa bertemu dengannya? Kau tau siapa saya? Saya ini calon istrinya. Nama saya Nesya Putri Adrian Wijaya. Saya putri keluarga Wijaya. Saya rasa kau pernah mendengar nama keluarga Wijaya bukan? Apa kau masih mau melarangku bertemu calon suamiku sendiri?” tanya Nesya dengan nada mengancam.
Resepsionis itu makin terkejut saja mendengar apa yang disampaikan Nesya padanya. Benarkah wanita di depannya ini calon istri seorang Tuan Muda Dirgantara? Bahkan wanita ini juga berasal dari keluarga Wijaya. Resepsionis itu jadi bingung harus bagaimana.
__ADS_1
“Kenapa diam saja? Kau mau calon suamiku memecatmu? Tunjukkan dimana ruangannya sekarang! Saya mau menunggunya disana,” desak Nesya.
“Ba-baik, Nona.”
Resepsionis itu tak ada pilihan lain. Mau tidak mau ia mengantarkan juga Nesya ke ruangan milik Bumi.
Ruangan Bumi saat itu memang kosong, karena dia sedang mengadakan meeting dengan para manager yang lain. Nesya masuk ke ruangan Bumi dan memperhatikan setiap sudut ruangan itu dengan kagum. Ruangan itu sangat luas dan nyaman. Segala perabotan disana dapat dipastikan adalah barang-barang mahal.
Nesya mendekati meja kerja Bumi lalu mengusap papan nama Bumi yang ada di atas meja dengan jari-jarinya.
“Bumi Langit Dirgantara. Kau hanya milikku. Aku pastikan tidak akan ada wanita lain yang bisa memilikimu selain aku,” ucap Nesya pada dirinya sendiri.
Ia pun berjalan menuju sofa yang ada disana. Dan duduk di sofa itu sambil bermain handphone menunggu Bumi. Ruangan itu terasa sangat nyaman baginya. Dia tak masalah jika harus menunggu lama disana.
***
Setelah meeting selesai, Bumi pun meninggalkan ruangan meeting berniat untuk kembali ke ruang kerjanya.
“Tuan, saya dapat laporan dari resepsionis, Nona Nesya memaksa masuk dan menunggu di ruang kerja Tuan,” kata Jefri pada Bumi yang baru saja keluar dari ruang meeting.
“Kau tau kan aku tidak suka ada orang yang tidak berkepentingan masuk ke ruang kerjaku sembarangan? Aku harap ini yang terakhir. Jangan ijinkan siapapun masuk kesana tanpa seijinku. Siapapun orangnya,” kata Bumi dengan sangat tegas.
“Baik, Tuan. Maafkan kecerobohan kami,” ucap Jefri sambil membungkukkan badan di hadapan Bumi.
Bumi tidak menjawab. Ia meneruskan langkahnya menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Begitu masuk ke ruangannya, ternyata benar, Nesya sudah berada di ruang kerjanya sendirian. Bumi memberi isyarat pada Jefri agar menunggu di luar ruangan. Jefri pun mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.
Mengetahui Bumi sudah datang, Nesya dengan cepat berdiri lalu menghampiri Bumi. Kali ini dia tak mau gagal. Ia harus berhasil mendekati Bumi.
“Kau datang juga akhirnya. Aku sudah menunggumu dari tadi. Meeting mu berjalan lancar?” tanya Nesya berbasa-basi.
Bumi melihat tampilan Nesya yang sangat seksi itu, lalu ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Rasanya ia ingin sekali memarahi Nesya, tapi diurungkannya. Di perusahaannya saja membuat peraturan bagi setiap karyawan wanita untuk tidak berpakaian seksi seperti itu. Sekarang Nesya malah memakai pakaian itu ke perusahaannya.
“Kau tau aku sibuk. Lalu kenapa kau masih datang kesini dan memaksa masuk ke ruanganku?” tanya Bumi tanpa basa-basi.
Nesya berjalan ke hadapan Bumi agar Bumi dapat melihat penampilannya. Mungkin ia pikir Bumi akan tergoda dengan penampilannya saat itu.
“Apa kau sedang marah padaku? Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku kesini hanya ingin mengajakmu makan malam bersama malam ini. Besok kan hari sabtu, kau pasti tidak bekerja bukan? Bisakah kita pergi makan malam bersama?”
“Kau datang hanya untuk mengajakku makan malam? Kalau sekedar itu, kau bisa meneleponku atau Jefri. Dia yang mengurus jadwalku.”
“Aku tidak mau lewat telfon. Kau bisa menolakku dengan sangat mudah. Ayolah Bumi, hanya sesekali saja. Please, mau ya makan malam denganku.”
Nesya ingin meraih tangan Bumi, tapi dengan cepat Bumi menarik tangannya lalu berpaling dari Nesya.
Si*alan! Bisa-bisanya dia menolakku! Jangan panggil aku Nesya kalau aku tidak bisa meluluhkanmu, Bumi. Umpat Nesya dalam hati.
Nesya makin gencar menggoda Bumi. Ia bahkan nekat memeluk Bumi yang sedang membelakanginya itu dari belakang.
“Please...sekali ini saja makan malam denganku. Kau tidak akan menyesalinya,” pinta Nesya dengan suaranya yang mende*sah, bahkan tangannya dengan lancang bergerak mengusap dada bidang milik Bumi.
__ADS_1
Mampukah Bumi bertahan dari godaan Nesya?