
Kriiinnnggg.....kriiinggg.....
Senja membuka matanya saat mendengar suara alarm yang ia pasang di handphone-nya. Ia pun segera mencari dimana benda pipih itu untuk menghentikan suaranya. Setelah berhasil mematikan alarm itu, Senja baru sadar, suaminya sudah tak ada di sampingnya.
“Kemana dia? Apa dia sudah bangun dari tadi? Apa dia sudah berangkat kerja hari ini?” tanya Senja pada dirinya sendiri.
Sebelum turun dari tempat tidur, ia sempat menggerakkan kepala dan tangannya dulu ke kiri dan kanan karena merasa badannya cukup pegal sekali. Bagaimana tidak pegal, tadi malam sang suami mengajaknya olahraga lagi.
Senja pun langsung menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia pun turun ke lantai bawah.
“Selamat pagi, Nyonya Senja,” sapa salah satu asisten rumah tangga disana.
“Selamat pagi, Bi. Bi, apa bibi melihat suamiku?” tanya Senja.
“Tuan Bumi ada di ruang gym nya, Nyonya. Tuan sedang berolahraga,” jawab wanita paruh baya yang bernama Ningsih itu.
“Oh, baiklah, Bi. Kalau begitu aku mau ke dapur, mau menyiapkan sarapan untuk suamiku,” ucap Senja.
“Nyonya tidak perlu repot-repot, biar koki disini yang menyiapkannya. Nyonya tinggal bilang saja mau makan apa,” cegah Bi Ningsih.
“Tidak usah, Bi. Kali ini aku saja yang menyiapkan untuk suamiku. Tidak apa-apa.”
Oh, baiklah, Nyonya. Mari saya antar ke dapur.”
Senja pun pergi ke dapur di antar oleh Bi Ningsih. Para pekerja yang ada di dapur saat itu semua membungkuk memberi hormat pada Senja. Senja pun tersenyum dan meminta mereka tidak memperlakukan Senja dengan berlebihan. Selanjutnya, Senja pun mulai membuatkan sarapan untuk sang suami tercinta.
Setelah membuatkan sarapan, Bumi masih belum terlihat batang hidungnya, akhirnya Senja naik ke atas untuk menjemput suaminya di ruang gym. Sesampainya disana, Senja tertegun melihat sang suami sedang berolahraga mengangkat beban. Bumi tampak berbaring di atas tempat gym nya sambil mengangkat beban dengan kedua tangan kekarnya. Bumi tampak begitu macho di mata Senja.
Senja terus memperhatikan sang suami. Ia tersenyum sendiri karena bisa-bisanya ia malah terkesima dengan suaminya yang tampan itu. Padahal tadi ia mau langsung memanggil sang suami untuk sarapan bersama.
Menyadari keberadaan sang istri disana, Bumi pun menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan kembali beban tadi pada tempatnya lalu menghampiri sang istri.
Cup.
Bumi langsung saja mengecup bibir sang istri.
“Kau rajin sekali berolah raga. Seperti tidak ada capeknya,” ujar Senja.
“Aku suka olahraga, apalagi olahraga sama istriku ini,” ucap Bumi lalu mengecup bibir sang istri sekali lagi.
__ADS_1
“Kau berkeringat, Sayang. Mandilah dulu. Setelah itu kita sarapan bersama. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu.”
“Baiklah. Bisa tolong bawakan sarapan itu ke kamar saja? Aku ingin sarapan dalam kamar saja,” pinta Bumi dengan sebuah rencana di kepalanya.
“Oke. Aku ambil dulu sebentar. Kau mandilah dulu.”
"Oke, Sayang. Aku menunggumu di kamar, ya," ucap Bumi.
Di kamar mandi maksudnya. Tambah Bumi dalam hati.
Senja pun turun ke bawah mengambil sarapan, sementara Bumi masuk ke kamarnya.
Tak lama Senja sudah naik lagi ke atas dengan sarapan di tangannya. Lalu ia menyimpan sarapan itu di atas meja di dekat sofa. Tiba-tiba terdengar suara Bumi memanggilnya dari dalam kamar mandi. Bumi memintanya untuk mengambilkan handuk.
Ketika tangan Senja terulur hendak memberikan handuk pada sang suami, Bumi dengan cepat menarik tangannya agar masuk ke kamar mandi.
“Bumi, aku sudah mandi. Lihat nih, kau membuat bajuku basah!” protes Senja. Bumi tidak mempedulikannya malah membawanya ke bawah guyuran shower. Sementara Bumi sudah memeluknya dari belakang.
“Siapa suruh kau mandi tidak menungguku.” Bukannya minta maaf, Bumi malah menyalahkan Senja.
“Bumi, jangan aneh-aneh deh! Cepat selesaikan mandimu setelah itu kita sarapan,” omel Senja.
“Iya, kau bantu selesaikan tapi ya,” pinta Bumi dengan manja. Tangannya sudah bergerak melepaskan pakaian sang istri.
“Lelah? Apa itu lelah?” Makin aneh saja jawaban dari Bumi.
“Bumi...ayolah...kita sudah berapa kali telat makan setelah me...ni...kah...” Lagi-lagi Bumi membuat signal kesadaran Senja hilang timbul.
Bumi tersenyum senang mendengar istrinya mulai tergoda. Ia membalikkan tubuh Senja lalu menikmati cherry dan strawberry nya sebagai asupan sarapan pagi. Kalau sudah begini, Senja bisa apa selain pasrah dengan kemauan sang suami.
***
Setelah kembali berolah raga di kamar mandi, mereka berdua pun akhirnya benar-benar sarapan di kamar. Yang satu wajahnya tersenyum senang, yang satu wajahnya ditekuk karena kesal. Ia kesal karena dikerjai terus oleh sang suami.
“Sayang, ada makanan yang menempel di sudut bibirmu,” ucap Bumi.
Senja dengan cepat mengambil tissue dan membersihkan seluruh bibir bahkan wajahnya juga. Ia tak mau suaminya mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi.
“Kenapa kau membersihkan sampai ke seluruh wajahmu?” tanya Bumi keheranan.
__ADS_1
“Iya, biar kau tidak membantu membersihkannya lagi,” jawab Senja yang membuat Bumi terkekeh.
“Galak sekali sama suami sendiri,” ucap Bumi sambil menyentuh dagu sang istri dengan telunjuknya.
“Habisnya, kau suka curi-curi kesempatan, sih.”
Tak lama terdengar suara handphone Bumi berdering. Ternyata ada panggilan dari Jefri.
“Hallo. Iya. Oke. Baiklah, segera datang ke rumah sekarang!”
Lalu Bumi menutup panggilan itu.
“Siapa?” tanya Senja sambil makan.
“Jefri.”
“Dia sudah merindukan Tuan Mudanya?” ledek Senja.
Bumi pun menoleh ke arah sang istri lalau mendekatkan wajahnya. “Sekali lagi kau meledekku seperti itu, aku akan membuatmu mandi untuk yang ketiga kalinya.”
Sontak saja Senja langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bisa masuk angin pagi-pagi sudah mandi tiga kali. Bumi pun menarik sudut bibirnya. Ia senang bisa mengerjai Senja lagi.
“Jefri sudah menyiapkan keperluan bulan madu kita. Hari ini juga kita akan berangkat,” ucap Bumi.
“Bulan madu? Hari ini? Memangnya kita mau kemana? Kau tidak bilang apa-apa sebelumnya,” tanya Senja yang tak menyangka akan pergi bulan madu secepat ini.
“Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu,” kata Bumi.
Senja pun mencibirkan bibirnya. “Tiap saat kau memang selalu memberi kejutan padaku.”
“Maksudmu seperti yang di kamar mandi tadi?”
“Sudahlah! Lanjutkan sarapanmu! Jangan bahas lagi!”
“Sayang, tapi aku suka mendengar suara merdumu.”
“Bumi, stop! Kita sedang makan!”
“Memang sedang makan, siapa bilang sedang olahraga,” ledek Bumi lalu mengedipkan sebelah matanya pada Senja sehingga membuat Senja memberi tatapan tajam kepadanya. Bukannya takut, Bumi malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi istrinya.
__ADS_1
.
Bersambung...