
“Sayang, itu Viona bukan?” Liliana menunjuk pada Viona yang baru saja tiba di acara tersebut.
Andika pun ikut melihat ke arah yang istrinya maksud. “Iya, itu Viona,” jawab Andika membenarkan.
“Lah, trus kemana Senja? Kenapa mereka tidak datang bersama?” tanya Liliana yang keheranan karena anaknya belum menampakkan batang hidungnya.
Belum sempat Andika menjawab, istrinya sudah lebih dulu pergi menghampiri Viona. “Aku akan bertanya langsung pada Viona.”
Baru saja Andika ingin menyusul istrinya, sudah ada rekan bisnis lain yang menyapanya. Ia pun membatalkan niatnya itu dan mengobrol dengan rekan bisnisnya.
“Vio...” panggil Liliana.
“Tante Lili, maaf Tante aku terlambat. Acaranya sudah mulai dari tadi ya, Tante?” ucap Viona sambil memeluk Liliana sebentar.
“Iya. Mereka bahkan sudah pasang cincin. Kalian darimana saja? Kenapa baru sampai?” tanya Liliana penasaran.
“Kalian?” ulang Viona kebingungan.
“Iya, kalian. Kamu dan Senja. Dimana Senja? Kenapa malah tidak kelihatan? Jangan bilang kalian tidak datang bersama-sama kesini?!” Liliana langsung curiga pada mereka.
Jadi Senja bilang ke orang tuanya akan pergi bersamaku? Kenapa dia berbohong seperti itu? Aku harus jawab apa ini? Gumam Viona dalam hati.
“Oh...Senja ya, Tante? Dia...itu, Tante. Dia masih di toilet. Sebentar lagi pasti kesini,” jawab Viona berbohong.
“Ke toilet? Baru sampai sudah ke toilet?” Liliana setengah tak percaya pada jawaban Viona.
“Iya, Tante. Tadi sebelum datang kesini kami sempat minum jus. Jus jeruk asam, Tante. Jadi mungkin perutnya masih mules.” Makin kemana-mana saja jawaban Viona. Ah, masa bodohlah! Yang penting Liliana tak curiga lagi kalau Senja tidak datang bersamanya.
“Ya ampun, kalian ini aneh-aneh saja! Ya sudah, nanti kalau Senja sudah kesini, tolong bilang Tante mencarinya, ya.”
“Oke, Tante.”
Setelah Liliana pergi untuk bergabung bersama keluarganya yang lain, barulah Viona bisa bernafas lega. “Hufffttt...Aku harus cari tau Senja dimana sekarang. Bisa gawat kalau sampai dia tidak datang ke acara pertunangan sepupunya sendiri. Lagian dia kenapa bawa-bawa namaku? Apa dia mau menghindar dari acara ini? Tapi kenapa?”
Saat Viona tengah berdialog dengan dirinya sendiri tiba-tiba dari belakang Dimas menghampirinya.
“Jadi, kau tadi berbohong? Senja tidak datang bersamamu?” tanya Dimas.
__ADS_1
Viona menoleh ke sumber suara. Pria ini sepertinya pernah ia lihat. Tapi lupa dimana.
“Kau siapa? Kau menguping pembicaraanku? Menguping itu tidak sopan tau!” ketus Viona.
Dimas menarik sudut bibirnya. Gadis di depannya ini sama galaknya dengan Senja. Dimas pun mengulurkan tangannya dan Viona menyambutnya sekejap lalu ia lepaskan lagi.
“Aku Dimas, adik Kak Bumi.”
“Oh...ya, ya, ya, aku baru ingat. Pantas saja sepertinya aku pernah melihat wajahmu. Mungkin di TV atau majalah. Aku Viona, sahabat Senja.”
“Namamu bagus.”
“Dih, gombal! Kau beda sekali dengan kakakmu.”
“Baiklah, aku cuma basa-basi. Jadi, apa benar Senja tidak datang bersamamu?” tanya Dimas kembali.
Viona menghembuskan nafas dengan kasar lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tau dia dimana sekarang. Dia tidak bilang padaku akan pergi bersama. Tadi aku terpaksa berbohong supaya Tante Lili tidak khawatir,” jawab Viona jujur.
“Kemana dia, ya? Apa kau sudah coba menghubunginya?” tanya Dimas lagi.
Dimas dan Viona kini tampak sangat risau dengan keberadaan Senja. Viona sendiri tidak mengerti kenapa Senja malah tidak datang ke acara itu. Sementara Dimas bisa menebak Senja pasti sedang sedih saat ini, tapi ia tidak menyangka kalau Senja akan tidak hadir di acara tersebut.
“Ya sudah, kau kan baru datang, minumlah dulu. Istirahat dulu, nikmati pestanya. Kita tunggu sebentar lagi. Kalau tidak ada kabar, aku akan meminta anak buah ayahku mencarinya,” saran Dimas.
Viona pun mengangguk. “Baiklah. Aku setuju. Aku juga sangat haus.”
“Bukannya tadi kau sudah minum jus jeruk asam?” ledek Dimas.
Viona yang merasa disindir hanya memutar bola matanya dengan malas. Lalu ia pergi ke tempat minuman dan meninggalkan Dimas yang terkekeh melihat tingkahnya.
***
Satu per satu para tamu undangan memberikan ucapan selamat pada Bumi dan Nesya. Dari tadi senyum bahagia tak pernah surut dari wajah Nesya. Berbeda dengan Bumi yang hanya diam tanpa ekspresi. Entah dia senang atau tidak suka, orang lain akan sulit menebaknya.
Hari ini dia memang sudah menjadi tunangan Nesya, tapi hatinya sudah lama menjadi milik wanita lain. Siapa lagi kalau bukan Senja. Wanita yang sudah dari tadi ia tunggu kedatangannya. Sampai saat ini, ia bahkan tak melihat Senja walau sekedar bayangannya saja.
Kau dimana Senja? Mengapa kau tidak datang kalau kau tidak memiliki perasaan padaku? Apa saat ini kau sedang baik-baik saja? Atau saat ini kau malah sedang terluka? Jangan membuatku cemas Senja. Aku ingin sekali keluar dari gedung ini dan pergi mencarimu kalau seperti ini.
__ADS_1
Bumi terus melihat ke arah para tamu dan pintu masuk ruangan itu. Ia berharap Senja akan segera datang kesana. Meskipun saat Senja datang dia tak bisa berbuat apa-apa, setidaknya dia hanya ingin memastikan kalau Senjanya dalam keadaan baik-baik saja.
Tak lama seorang gadis dengan balutan gaun panjang berwarna biru muda masuk ke dalam ruangan itu hingga mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya. Ia adalah Senja yang tampil sangat anggun dan cantik dengan riasan sederhana di wajahnya.
Senja berjalan perlahan sambil menebar senyuman kepada setiap tamu yang menyapanya. Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan saat ini meskipun rasa sakit di hatinya masih terasa perih hingga ke tulang. Ia akan tetap tegar. Ia tak mau orang lain akan mencurigainya kalau ia tak hadir ke acara itu.
Sementara di depan sana , sudah ada pria yang dari tadi telah menunggunya. Pria yang hampir tak mengedipkan matanya saat pandangan itu terkunci pada Senja sejak pertama kali gadis itu menampakkan wajahnya. Jika dari tadi wajahnya selalu datar seperti biasa, maka dengan melihat Senja barulah ada seulas senyum terukir di bibirnya. Ia senang karena Senja terlihat baik-baik saja.
Senja terus berjalan maju, tiba-tiba di tengah datanglah Dimas yang menyambutnya dan mengulurkan sikunya untuk digandeng.
“Aku tau perasaanmu. Tenanglah, ada aku disini,” ucap Dimas yang masih memberikan sikunya.
Senja pun tersenyum lalu menggandeng Dimas tanpa ragu. Hal itu tentu tak luput dari perhatian orang-orang yang ada disana. Senja dan Dimas tampak seperti pasangan muda yang sangat serasi. Bahkan ada yang berspekulasi bahwa sebentar lagi, akan ada perjodohan susulan antara dua keluarga besar itu. Dimas pun menuntun Senja untuk memberi ucapan selamat pada Bumi dan Nesya.
Senyum di wajah Bumi tampak mulai memudar melihat kebersamaan Dimas dan Senja.
“Selamat ya, Kak Nesya. Selamat atas pertunanganmu,” ucap Senja pada Nesya dengan tersenyum. Ia pun kemudian berpelukan dengan kakak sepupunya itu.
“Terimakasih, Senja. Dari tadi aku mencarimu. Aku pikir kau tidak datang,” balas Nesya juga dengan senyuman yang dari tadi belum pudar, lalu meleraikan pelukannya.
“Tentu aku datang, Kak. Tidak mungkin aku tidak datang ke acara sepenting ini.” Senja masih berusaha sekuat tenaga menahan sesak di dadanya.
“Terimakasih ya sekali lagi. Mudah-mudahan setelah ini kau akan segera menyusulku,” ucap Nesya sambil melirik sekilas ke arah Dimas.
Senja tau Nesya bermaksud menjodohkannya dengan Dimas. Tapi Senja hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. “Kita lihat saja nanti, Kak.”
Setelah itu Senja pun beralih pada Bumi yang berdiri tepat di samping Nesya. Saat ini hanya Tuhan dan dia saja yang tau bagaimana hatinya bergemuruh hebat dalam dada. Ada sesak yang mencekat nafasnya hingga ia susah untuk bicara.
Senja menghela nafasnya dengan berat lalu ia berusaha tersenyum pada pria di depannya.
“Selamat atas pertunanganmu,” ucap Senja dengan suara yang nyaris bergetar sambil mengulurkan tangannya.
Detik selanjutnya siapa sangka kalau Bumi bukan menjawab ucapannya melainkan menarik tangan Senja lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
“Aku merindukanmu,” ucap Bumi sambil berbisik.
Bersambung yaaa... 😝😝😝 Jangan lupa like, comment dan vote nya. Terimakasih 💙
__ADS_1