
“Ibu?” gumam Bumi saat melihat sosok sang ibu tengah menyulam di balkon kamarnya.
Bumi pun mendekati ibunya, lalu duduk berjongkok di depan sang ibu sambil menengadahkan kepalanya melihat sang ibu. Matanya pun terasa memanas, rasa rindu dalam jiwanya mendorong airmata lolos begitu saja. Ia pun meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu lalu tangannya memeluk pinggang ibunya.
“Ibu, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku menyayangimu, Ibu. Kau terlalu cepat pergi dariku,” lirih Bumi yang terdengar begitu memilukan.
“Benarkah kau menyayangi ibu?” tanya sang ibu yang kini mengusap rambut anaknya dengan lembut.
“Tentu aku menyayangi ibu. Tak perlu ibu tanyakan lagi tentang itu,” jawab Bumi dengan sungguh-sungguh.
“Kalau kau sayang pada ibu, kenapa tidak mengabulkan permintaan terakhir ibu? Kau tidak memenuhi janjimu,” ucap sang ibu dengan nada kecewa.
Bumi mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah ibunya.
“Apa ibu kecewa padaku?” tanya Bumi.
Ibunya hanya diam tak menjawab apapun.
“Aku tidak menemukan cahaya hidupku bersama Nesya, Bu. Dia hanya teman kecilku. Hidupku kembali berwarna dan bercahaya saat bertemu seorang gadis bernama Senja. Aku menginginkan dia sebagai teman hidupku. Aku....aku mencintainya.”
Setelah mengatakan itu sosok ibunya perlahan menghilang dari pandangannya. Bumi terkejut lalu melihat ke sekelilingnya. Benar, ibunya tidak ada disana.
“Ibu....Ibu....Ibuuuuu.........”
Deg.
Bumi langsung tersadar hingga terduduk di tempat tidurnya dengan nafas memburu. Ternyata itu hanyalah mimpinya.
__ADS_1
“Ibu...” lirih Bumi dengan keringat yang membanjiri keningnya.
“Haruskah aku khianati janjiku padamu ibu?” tanya Bumi pada dirinya sendiri.
Bumi beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil minum di atas meja dan meneguknya. Pikirannya saat ini sangat kacau. Semakin dekat hari pertunangannya dengan Nesya, justru hatinya semakin ragu apakah ia kan melanjutkan pertunangan itu?
***
Saat sarapan pagi, Bumi belum nampak duduk di meja makan. Hanya ada Tuan Dirgantara, istrinya, dan Dimas disana. Pagi itu Bumi turun lebih lambat karena tadi malam ia sulit untuk tidur lagi setelah memimpikan ibunya.
Baru saja Tuan Dirgantara meminta pelayan memanggil Bumi, putranya itu sudah lebih dulu turun dengan menggunakan pakaian serba hitam. Bumi memakai turtle neck sweater berwarna hitam ditambah coat panjang berwarna senada sebagai atasan. Celana yang ia pakai juga sama berwarna hitam. Hal itu tentu mengundang tanda tanya di benak keluarganya.
“Kau tidak ke kantor hari ini?” tanya Tuan Dirgantara saat Bumi sudah duduk di kursinya.
“Setelah dari makam ibu,” jawab Bumi singkat lalu meminum seteguk teh hangat miliknya.
“Kau mau ke makam ibumu? Apa kau merindukan ibumu?” tanya Tuan Dirgantara lagi.
Dimas dan ibunya tak berani bersuara, mereka hanya saling pandang lalu melanjutkan sarapan mereka. Begitu juga dengan Tuan Dirgantara. Ia tak bertanya lagi dan melanjutkan makannya.
Tuan Dirgantara sangat hafal betul akan sifat anaknya itu. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya pastilah ia akan pergi ke makam ibunya. Dia tak pernah bercerita tentang apa yang ia alami atau ia rasakan di hatinya. Ia memilih diam atau bercerita pada batu nisan sang ibu yang tak mampu memberi nasehat apa-apa.
Setelah selesai sarapan, Tuan Dirgantara kembali menahan Bumi sebelum ia pergi.
“Bumi, ada satu hal lagi yang ingin ayah tanyakan padamu,” ucap Tuan Dirgantara.
Bumi mengangguk tanda mempersilahkan ayahnya untuk melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
“Ini tentang pesta pertunanganmu. Bagaimana persiapanmu untuk itu? Apa kau sudah memilih pakaian apa yang mau kau pakai nanti?” tanya Tuan Dirgantara.
“Jefri akan mengurusnya,” jawab Bumi.
“Masalah gedung, dekorasi, tamu yang akan diundang?”
“Tidak perlu khawatir. Jefri tau apa yang harus dia lakukan.”
“Yang mau bertunangan kau atau Jefri?”
“Aku.”
“Lalu kenapa kau terlihat tidak senang dengan pertunanganmu? Kalau kau tidak yakin, kau bisa mundur sekarang sebelum terlambat. Bahkan sekarang saja berita pertunangan kalian sudah tersebar di media."
Bumi menarik nafas dengan berat. Rasanya kepalanya mulai terasa berat jika ditanya soal itu lagi.
“Aku yakin,” jawab Bumi singkat.
“Setelah bertunangan, itu artinya kau tidak dapat mundur lagi, Bumi. Kau tau konsekuensinya.”
“Aku sangat tau, Ayah. Perjodohan ini akan berjalan sesuai keinginan almarhum ibu. Perjodohan ini hanya akan batal kalau ada salah satu di antara kami ada yang berkhianat, tapi bisa aku pastikan bukan aku yang berkhianat. Aku pergi dulu.”
Bumi pun langsung berdiri meninggalkan tempat itu. Sementara Dimas terus melihat ke arah Bumi sampai punggungnya tak terlihat lagi. Dimas tau kakaknya itu sangat keras kepala sekali. Dari jawaban Bumi, ia bisa menangkap bahwa Bumi tak menaruh perasaan apapun pada Nesya.
Apa mungkin Kak Bumi juga mencintai Senja seperti Senja mencintainya? Tapi kenapa dia masih bersikeras melanjutkan pertunangan ini? Sepertinya aku penasaran dan ingin membuktikan sendiri bahwa Kak Bumi memang benar memiliki perasaan pada Senja. Ucap Dimas dalam hati.
***
__ADS_1
Hai semua 🤗 kalau suka dengan novel ini, yuk bantu like, comment, vote dan jadikan favorit ya. Sedih sekali hari ini novel ini tidak dipromosikan lagi. Semoga kalian tetap mau lanjut membacanya ya. Selamat membaca 💙