
Senja membuka matanya perlahan, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan sang suami yang sedang menatapnya begitu dalam. Rupanya Bumi sudah lebih dulu bangun darinya. Dilihatnya lagi, suaminya itu bahkan sudah bertukar pakaian, tak lagi memakai piyama. Suaminya bahkan sudah mandi, tapi ia tak menyadarinya saking pulasnya ia tidur.
“Selamat pagi, Senjaku,” ucap Bumi yang sedang berbaring di sebelah Senja sambil menahan kepalanya dengan satu tangan agar lebih leluasa melihat wajah istrinya.
“Selamat pagi, Sayang. Kau sudah bangun duluan, ya? Maaf ya, aku ngantuk sekali. Aku tidak sadar kau sudah bangun,” kata Senja tak enak hati.
Bumi mencium bibir istrinya sekilas lalu merapikan rambut Senja yang menutupi sebagian wajahnya. “Tidak apa-apa, Senjaku. Kau memang harus banyak istirahat. Kau pasti lelah setelah acara resepsi kita.”
“Memangnya kau tidak lelah?” tanya Senja.
Bumi menggelengkan kepalanya. “Aku tidak lelah sama sekali. Aku sudah terbiasa banyak bekerja. Jadi bagiku biasa saja.”
“Kau memang pekerja keras,” puji Senja.
“Sebelum menikah sih iya, tapi setelah menikah rasanya aku tidak mau bekerja terlalu keras lagi.”
“Kenapa?” tanya Senja bingung. Bukannya dimana-mana setelah menikah justru malah harus kerja keras, pikir Senja.
“Kalau aku bekerja terus, bagaimana denganmu? Aku kan mau menghabiskan waktu banyak denganmu, Sayang,” jawab Bumi sambil mencium kembali bibir istrinya.
“Bumi, aku belum gosok gigi,” kata Senja malu-malu sambil menutup mulutnya.
“Masa sih? Kok masih harum strawberry? Coba sini aku cium lagi.” Bumi menarik tangan Senja lalu menciumnya kembali.
Senja yang merasa kurang percaya diri karena belum mandi segera mendorong bahu suaminya. “Sayang, biarkan aku mandi dulu,” rengek Senja.
“Oke, baiklah. Aku temani.”
Bumi pun dengan cepat menggendong Senja masuk ke kamar mandi. Meski Senja sudah meminta turun, tapi dia tak mempedulikannya. Awalnya Senja pikir Bumi akan memaksa ingin mandi bersamanya, tapi ternyata ia salah. Bumi langsung keluar setelah Senja memintanya menunggu di luar sebentar. Senja tentu makin senang dengan kepribadian Bumi yang selalu menghargai privasinya.
***
Saat ini mereka sudah berada dalam perjalanan pulang. Bumi berencana langsung mengajak Senja pulang ke rumah yang sudah ia sediakan khusus untuk mereka berdua setelah menikah. Bumi tidak ingin tinggal di rumah Senja atau tinggal di rumah ayahnya. Ia sudah menyiapkan rumah baru khusus untuk mereka. Bumi sangat menjaga privasinya, apalagi setelah berkeluarga. Ia juga ingin Senja nyaman jika berada di rumah sendiri.
“Sayang, ini bukannya arah mau ke rumahku, ya?” tanya Senja saat melihat mobil mereka memasuki kawasan dekat perumahan orang tuanya.
“Sebentar lagi kita sampai, Sayang. Nanti juga kau akan tau,” jawab Bumi sambil menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
Benar seperti dugaan Senja, mobil mereka melewati depan rumah orangtua Senja lalu berhenti tepat di sebelah rumah mereka. Ya, mobil itu pun masuk ke gerbang rumah yang tepat berada di sebelah rumah orangtua Senja.
Bumi menuntun Senja untuk turun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Saat pintu rumah dibuka dari dalam, sudah ada beberapa pelayan yang berbaris menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya Muda,” sapa para pelayan secara bersamaan.
“Terimakasih,” sahut Bumi dengan singkat.
“Senja, mereka ini para asisten rumah tangga yang akan membantu merawat rumah ini. Jadi kau tidak perlu repot-repot mengurus rumah sendirian. Kau hanya perlu meminta bantuan mereka saja,” ucap Bumi pada istrinya yang masih terheran-heran mendapat kejutan seperti ini.
“Kau sudah mempersiapkan semua ini?” tanya Senja nyaris tak percaya.
Bumi mengangguk. “Semua sudah aku siapkan. Ayo kita ke atas sekarang! Ada lagi yang mau aku tunjukkan padamu.” Bumi lalu beralih melihat para pelayannnya. “Dan kalian bisa memulai pekerjaan kalian kembali. Aku harap kalian selalu bersedia membantu istriku ini.”
“Baik, Tuan.”
Bumi pun menarik tangan Senja naik ke atas menuju kamar mereka. Sebelum pergi, Senja sempat tersenyum dulu kepada para pelayannya. Ia masih tidak menyangka suaminya itu akan mempersiapkan segala sesuatunya sampai sedetil ini. Tuan Muda Dirgantara memang tidak diragukan lagi perencanaannya.
Ceklek.
Bumi menggenggam tangan Senja menuju balkon, lalu ia menunjuk sesuatu pada Senja.
“Kau lihat, Sayang. Kau lihat arah rumahmu,” tunjuk Bumi.
“Loh, itu kan jendela kamarku.”
“Kau benar. Itu memang kamarmu.”
Bumi pun memposisikan dirinya di belakang Senja dan memeluk istrinya itu dari belakang.
“Aku sengaja membeli rumah dekat rumah orang tuamu. Jadi kalau kau bosan, kau bisa sering-sering berkunjung menemui Mama. Apalagi kalau aku nanti sedang banyak pekerjaan,” ucap Bumi sambil menghirup wangi rambut sang istri.
Senja berbalik menghadap suaminya. Sepertinya ada pesan tersirat dalam perkataan suaminya tadi.
“Maksudmu aku tidak boleh bekerja lagi ya kalau sudah berumah tangga?” tanya Senja yang kini menatap suaminya.
Bumi mencium kening Senja sekilas lalu memegang kedua pipi istrinya. “Sayang, cukup aku saja yang bekerja. Kau tidak perlu melanjutkan pekerjaanmu lagi. Soal perusahaan Papa, kau tidak usah khawatir, kami berencana akan menggabungkan dua perusahaan nantinya.”
__ADS_1
“Tapi aku bosan kalau hanya di rumah saja,” protes Senja.
“Tidak, Sayang. Aku bukan memintamu duduk diam di rumah saja. Kau masih bisa melakukan kegiatan lain. Keluarga Dirgantara punya yayasan yang sudah membangun banyak panti asuhan dan rumah sakit. Kau bisa sesekali mengadakan kegiatan amal disana. Kau juga punya rumah sakit sendiri kan, kau bisa mengadakan kegiatan disana, membuat acara amal dan sebagainya,” Bumi membujuk istrinya dengan sangat lembut.
“Kau kan suka memasak, suka membuat kue, kau bisa mengajak Mama membuat kue lalu membagi-bagikannya pada anak-anak panti asuhan atau pasien di rumah sakit. Kau bisa lakukan apapun semamumu, tapi tidak dengan bekerja. Itu tugasku, tanggung jawab sebagai suami. Aku hanya ingin kau selalu ada di sampingku. Kegiatan seperti itu kan hanya sesekali saja, tapi kalau bekerja, kau akan sibuk setiap hari, aku tidak ingin kau sibuk memikirkan pekerjaan nanti. Maafkan aku baru bilang sekarang. Aku harap kau mengerti apa maksudku,” sambung Bumi lagi.
Ah, rasanya Senja sangat terharu sekali. Suaminya ini adalah pria yang punya pemikiran yang matang dan perencanaan yang panjang. Ia semakin bangga menjadi istri Tuan Muda Dirgantara.
Senja pun tersenyum lalu berjinjit untuk mencium bibir suaminya. Ia pun setuju dengan apa yang suaminya minta.
“Tidak perlu minta maaf, aku malah senang dengan rencanamu. Aku menyetujuinya,” ucap Senja yang membuat Bumi tersenyum senang.
Bumi pun menunduk dan mencium kening istrinya lalu memeluknya. “Ke depannya, jika ada apa-apa, aku janji akan berdiskusi lebih dulu. Aku akan meminta pendapatmu dan kita memutuskan bersama.”
Senja pun balas memeluk suaminya. “Sayang, kau baik sekali. Di balik sikapmu yang dingin, ternyata kau sangat baik, pengertian dan penyayang,” ucap Senja dengan tulus.
Bumi melepas pelukannya dan menatap kedua bola mata istrinya. “Kau sedang merayuku?” tanya Bumi.
“Bukan. Aku hanya bicara apa adanya. Merayu itu bukan seperti itu.”
“Jadi seperti apa?” tanya Bumi penasaran.
Senja pun menarik tangan suaminya kembali masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Bumi sangat terkejut saat Senja mendorongnya ke atas tempat tidur.
“Senja...” gumam Bumi agak terkejut.
Tanpa aba-aba Senja naik ke pangkuan suaminya lalu mulai mencium bibir sang suami dengan dalam dan menuntut. Mereka saling memagut dengan gelora cinta yang kian membara.
Tak lama Senja menarik wajahnya dan menatap sang suami. “Aku...aku ingin melakukan tugasku sebagai seorang istri,” ucap Senja malu-malu yang membuat Bumi tersenyum bahagia.
.
Bersambung...
.
Yang mau lanjut, yuk ah VOTE dulu 😂✌
__ADS_1