
“Senja, apa kau yakin sudah siap sekarang?” tanya Bumi memastikan pada istrinya sembari mengusap perlahan bibir cherry dan strawberry itu dengan ibu jarinya.
Senja pun menjawab dengan mengangguk malu-malu hingga membuat Bumi gemas melihat tingkah istrinya. Dikecupnya lagi bibir sang istri dengan lembut sebentar kemudian ia kembali menatap istrinya.
“Kau benar yakin bukan? Aku mau kita melakukannya karena keinginan bersama, bukan karena terpaksa,” tanya Bumi dengan suara yang sudah berat menahan has-rat.
“Aku yakin. Aku ingin sepenuhnya jadi milikmu,” jawab Senja lalu menggigit bibirnya menahan malu.
Bumi malah makin terpancing melihat tingkah menggemaskan dari istrinya. Dia makin tidak sabar untuk memulainya.
“Baiklah, kalau sudah sama-sama mau..... apa lagi yang harus kita tunggu...” ucap Bumi sambil perlahan membuka kancing depan dress milik Senja. Perlahan tapi pasti Bumi membuka satu per satu hingga membuat Senja makin tertunduk malu.
Melihat Senja masih diam tak bergerak, akhirnya Bumi mengarahkan tangan istrinya untuk sama-sama membuka kancing kemejanya.
Duh, rasanya Senja makin gugup saja dibuatnya. Duduk di pangkuan suaminya seperti itu saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan. Apalagi harus disuruh membuka kancing kemeja, ia sampai kesulitan bernafas dibuatnya.
Tak hanya sampai disitu cobaan Senja. Sesuatu yang terasa mengganjal di bawah juga membuatnya semakin bertambah gugup. Ia berusaha keras menahan rasa aneh dari dalam dirinya.
Kini mereka sudah saling polos tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi. Bumi sungguh sangat takjub melihat mahakarya indah ciptaan Tuhan di depan matanya secara langsung. Senja pun tak kalah takjub melihat tubuh suaminya yang sudah kembali kekar seperti semula. Tapi ia masih sangat malu karena mata sang suami begitu nakal memandangi tubuhnya.
“Senja, kau cantik luar dalam,” bisik Bumi sambil terkekeh.
“Ih....aku kan jadi malu kalau kau seperti itu,” ucap Senja sambil menarik selimut dan menutup tubuhnya.
Bumi menarik selimut itu lalu menjauhkannya dari jangkauan Senja. “Jangan ditutupi, aku menyukainya.”
“Tapi aku malu...” ucap Senja lalu menyilangkan tangannya di depan dada.
Bumi tersenyum melihat istrinya. Ini adalah pengalaman pertama mereka. Tentu saja Senja sangat malu sekali saat ini. Bumi pun menarik tangan Senja perlahan dan mencium apa yang ditutupi oleh istrinya tadi sehingga membuat jantung Senja makin berdetak tak karuan.
“Bumi....” lirih Senja.
Bumi langsung membungkam bibir Senja agar tak lagi berkata-kata. Ia mulai memagut dengan lembut lalu lama-lama makin menuntut sampai Senja terlena dibuatnya. Bumi pun mulai memposisikan dirinya di atas Senja sambil terus memberikan kenikmatan pada sang istri melalui setiap sentuhan bibirnya.
__ADS_1
Ciuman yang tadi di bibir kini sudah semakin turun ke leher jenjang milik istrinya. Bumi pun tak melewatkan diri untuk meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya disana.
Nafas keduanya kian memburu seperti ada sesuatu dalam diri yang harus dituntaskan. Senja kian resah dan makin mengeluarkan suara-suara yang memancing has-rat suaminya. Bumi pun tak kalah menggebu-gebu melihat wajah sang istri yang sudah mulai terbawa suasana. Baru kali ini ia melihat wajah sang istri jadi se-seksi itu. Wajah dengan tatapan sendu yang berkabut gai-rah.
Akhirnya Bumi pun tak menunda lagi. Ia segera melakukan kewajibannya sebagai seorang suami untuk memberikan apa yang seharusnya sang istri dapatkan darinya. Mereka melakukan semua dengan penuh cinta dan kasih sayang atas dasar suka sama suka bukan hanya kepuasan nafsu semata.
***
Mata Senja nampak sayu menatap suaminya yang masih berada di atasnya setelah mereka selesai meraih syurga dunia. Nafasnya masih tersengal karena merasa cukup kelelahan.
Bumi mencium kening sang istri cukup lama lalu kembali melihat wajah istrinya. Wajah Senja tampak semakin menarik di matanya saat seperti ini. Rasanya ia ingin sekali mengulang hal tadi lagi. Tapi ia kasihan pada sang istri. Ini pengalaman pertama baginya. Senja masih harus beradaptasi.
“Terimakasih, Senjaku. Terimakasih sudah mengijinkanku memilikimu seutuhnya,” ucap Bumi lalu mencium kening sang istri lagi.
Senja hanya mengangguk tanpa menjawab apa-apa. Bumi membuatnya sangat lelah karena permainan yang cukup lama. Bumi pun mencubit gemas pipi sang istri karena Senja tampak lelah sekali.
“Kau lucu sekali! Biasanya kau cerewet, ini kau malah diam saja,” ucap Bumi tanpa merasa berdosa.
“Kau yang membuatku jadi begini,” sahut Senja sambil mengerucutkan bibirnya.
Senja pun mengangguk.
“Padahal aku mau lagi,” goda Bumi.
“Jangan sekarang!” cegah Senja dengan cepat. "Bisa tidak tunggu nanti malam saja?” tawar Senja.
Bumi pun terkekeh mendengar jawaban sang istri. “Aku hanya becanda, Sayang. Aku tau kau pasti masih merasakan sakit disitu. Kita bisa mengulangnya lagi kalau kau sudah merasa nyaman,” jawab Bumi yang membuat Senja menghembuskan nafas dengan lega.
“Syukurlah kau pengertian sekali,” puji Senja.
“Tapi katanya harus sering-sering melakukan biar tidak sakit lagi,” ucap Bumi yang membuat Senja mendelik kepadanya.
“Alasan! Itu sih memang maumu!”
__ADS_1
“Ha...ha...ha...serius, Sayang. Aku tidak becanda,” ucap Bumi sambil tergelak.
Senja tidak menjawab lagi. Ia malah memejamkan matanya karena lelah dan ingin beristirahat.
“Sayang, bersihkan diri dulu, baru tidur,” ajak Bumi.
“Aku lelah dan ngantuk sekali,” rengek Senja.
“Ya sudah, aku bantu mandinya.”
“Jangan......”
Terlambat. Bumi sudah lebih cepat menggendong sang istri dan membantunya mandi. Kali ini Bumi tak membiarkan sang istri mandi sendiri. Sesekali ia mulai jahil menyentuh area sensitif bagian atas sang istri sehingga membuat Senja tak henti protes padanya.
“Bumi, jangan nakal! Kalau begini kita mandinya bisa lama.”
“Tidak masalah. Toh kita tidak ada kegiatan apa-apa lagi setelah ini.”
“Aku sudah ngantuk, mau cepat tidur.”
“Iya, nanti kita tidur bersama.”
“Makanya cepat mandi, jangan pegang-pegang lagi!” Senja menepis tangan sang suami.
“Iya, iya.” Mulutnya bilang iya, tapi tangannya malah menyentuh lagi dada sang istri dari belakang.
“Bumi......” teriak Senja dibawah guyuran air.
“Iya, Sayang. Aku di belakangmu tidak perlu khawatir.”
Akhirnya Senja hanya bisa pasrah saja acara mandinya jadi lama. Setelah mandi yang penuh haru hara, kini keduanya tertidur pulas di atas tempat tidur dengan posisi Senja berada di pelukan sang suami.
.
__ADS_1
Bersambung...