
Pagi ini Adrian sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Biasanya setelah berpakaian rapi, ia langsung turun ke bawah untuk sarapan. Tapi pagi ini ia malah berdiri di depan balkon kamarnya sambil memikirkan perkataan Tuan Dirgantara tadi malam.
Sebelum Adrian pulang ke rumahnya, Tuan Dirgantara sempat berbicara empat mata dulu dengannya.
“Jadi, setelah ini apa Tuan Adrian akan menikahkan Nesya secepatnya dengan pria bernama Marcel itu?” tanya Tuan Dirgantara yang membuat Adrian cukup terkejut.
“Soal itu...saya memang punya rencana seperti itu. Tapi saya harus mempersiapkan semuanya matang-matang, Tuan. Saya juga harus menanyakan ini pada Nesya dan juga Marcel,” jawab Adrian.
“Jujur saja, saya tidak mau nanti ke depannya orang-orang akan mengira putusnya pertunangan ini adalah karena kesalahan Bumi. Bagaimanapun juga saya harus menjaga nama baik keluarga saya. Anda tau sendiri, selama ini saya dan keluarga selalu bisa menjaga nama baik keluarga kami,” ucap Tuan Dirgantara.
“Tuan tidak perlu khawatir. Saya akan bertanggung jawab soal itu, Tuan. Saya jamin, nama baik keluarga Tuan tidak akan tercoreng karena pembatalan pertunangan ini, Tuan,” kata Adrian berusaha meyakinkan ayah Bumi.
“Baiklah. Saya percaya pada anda, Tuan.”
Sebenarnya Tuan Dirgantara punya maksud sendiri bertanya soal itu pada Adrian. Kalau Nesya lebih dulu menikah dengan pria lain, maka Bumi tidak akan disalahkan atas pembatalan pertunangan ini. Dan jika hubungan Bumi dan Senja diketahui oleh orang lain, maka Senja tidak akan disalahkan dalam hal ini. Tuan Dirgantara tidak rela jika gadis sebaik Senja harus menjadi korban bully dari orang-orang yang tidak tau cerita sebenarnya.
“Sayang, kenapa belum turun?” tanya Tari yang menyusul Adrian karena belum turun juga dari kamarnya.
“Aku masih memikirkan tentang Nesya. Aku rasa...kita sudah seharusnya menikahkan Nesya dengan Marcel. Apalagi mereka sudah tidur bersama. Aku malah khawatir kalau sampai Nesya hamil duluan,” jawab Adrian dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
Tari pun mengangguk setuju. “Aku juga berpikir seperti itu. Marcel juga sepertinya pria yang bertanggung jawab. Sudah seharusnya kita menikahkan mereka.”
“Kalau begitu aku akan bicara pada Nesya sekarang.”
“Jangan sekarang, Sayang. Nanti malam saja setelah pulang dari kerja. Ini masih pagi. Jangan berdebat dulu dengan anak kita,” cegah Tari.
“Aku justru tidak bisa konsentrasi dalam bekerja kalau masih kepikiran tentang ini,” bantah Adrian.
“Baiklah. Terserah kau saja. Nesya ada di meja makan. Dia sedang sarapan.”
“Kalau begitu kita turun sekarang.”
“Nesya, ada yang Papa ingin sampaikan padamu. Ini tentang dirimu dan Marcel,” ucap Adrian secara tiba-tiba.
Nesya langsung menghentikan makannya dan menatap sang ayah.
“Apa maksud Papa?” tanya Nesya curiga.
“Papa dan Mama berencana mau menikahkanmu dan Marcel dalam waktu dekat,” jawab Adrian yang membuat Nesya tercengang.
__ADS_1
“Pa, kenapa mendadak sekali?” protes Nesya.
“Tidak ada yang mendadak, Nesya. Kalian sudah tidur bersama. Papa tidak mau kau hamil duluan sebelum menikah dengannya. Karena itu kalian harus menikah secepatnya,” jawab Adrian.
“Benar apa kata Papamu, Nesya. Jangan sampai kau hamil dan itu akan menjadi aib bagi keluarga kita,” bujuk Tari kemudian.
“Tapi aku tidak mau menikah secepat ini,” sanggah Nesya.
“Kenapa tidak mau? Kalian saling mencintai bukan? Pertunanganmu dan Bumi sudah dibatalkan. Apalagi alasan kalian menunda pernikahan? Kalian hanya mau berhubungan tanpa menikah? Begitu? Kau mau membuat keluargamu malu?” tanya Adrian dengan nada suara yang sudah lebih tinggi dari sebelumnya.
“Bu-bukan begitu, Pa. Tapi...ini...aku rasa terlalu cepat. Biarkan aku berpikir dulu. Aku butuh membicarakan ini pada Marcel,” jawab Nesya gelagapan. Kalau sudah begini dia tak bisa mengelak lagi.
“Panggil Marcel kesini besok. Papa mau bicara langsung padanya. Dan Papa kasih kalian waktu satu minggu untuk berdiskusi tentang pernikahan kalian. Setelah itu, pernikahan kalian harus dilaksanakan,” ucap Adrian tanpa ingin dibantah.
Nesya menghembuskan nafas dengan kasar. Ia merasa geram karena tak bisa menghindar lagi. “Baik, Pa. Aku akan bilang pada Marcel,” sahutnya dengan terpaksa.
.
Bersambung...
__ADS_1