Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
49. Cinta Dalam Hati


__ADS_3

“Dimas, dimana kakakmu?” tanya Tuan Dirgantara pada Dimas saat sedang di meja makan.


Biasanya Bumi tidak pernah terlambat untuk makan malam jika sudah pulang ke rumah. Tapi kali ini di meja makan itu hanya ada Tuan Dirgantara, istrinya, dan Dimas.


“Mungkin masih di kamarnya, Ayah. Sebentar aku panggil dulu,” jawab Dimas.


“Tidak perlu,” kata Bumi yang sudah berjalan menuju ke meja makan. Ia menarik kursi dan duduk di tempat dimana ia biasa duduk dengan wajah datarnya.


“Baiklah, kalau begitu ayo kita makan! Semua sudah berkumpul,” kata Tuan Dirgantara pada keluarganya.


Sepanjang makan suasana terlihat sangat hening. Tidak ada yang bersuara kecuali bunyi piring dan sendok yang berdenting.


“Mau tambah lagi? Kau makan sedikit sekali malam ini,” tanya ibu sambung Bumi pada Bumi.


Bumi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangannya saja. Wanita itupun tidak berani menawarkan apa-apa lagi. Hal itu tidak luput dari perhatian Tuan Dirgantara.


“Ngomong-ngomong bagaimana kerjasama kita dengan keluarga Wijaya? Kau dan Senja.....”


“Kita sedang makan, Ayah. Kita bisa bicara soal bisnis nanti,” potong Bumi sebelum ayahnya sempat melanjutkan perkataannya. Tuan Dirgantara kembali melanjutkan makannya dan tak lagi bersuara.


Suasana di meja makan itu terasa semakin tegang. Dimas sendiri tak berani bersuara kalau sudah begitu. Kakaknya itu baginya lebih menakutkan daripada ayahnya.


Bumi sudah menyelesaikan makannya. Begitu pula dengan Tuan Dirgantara dan yang lainnya. Baru saja Bumi berdiri dari duduknya, Tuan Dirgantara sudah menahannya.


“Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang perjodohanmu dan Nesya,” kata Tuan Dirgantara.


Bumi terdiam sejenak. Tapi ia tetap berdiri dan tak kembali duduk.


“Lanjutkan saja,” jawab Bumi singkat.


“Apanya?” tanya Tuan Dirgantara.


“Perjodohanku dan Nesya,” jawab Bumi lalu pergi masuk ke kamarnya.


Mereka bertiga saling menatap kebingungan dengan jawaban Bumi, lalu mereka menatap aneh pada anggota keluarga mereka yang satu itu. Semudah itukah ia membuat keputusan? Atau mereka yang salah dengar?

__ADS_1


“Ayah, itu artinya Kak Bumi setuju dia dijodohkan dengan Nesya?” tanya Dimas tak percaya.


“Kau dengar sendiri kan tadi kakakmu bilang apa?”


“Apa dia sudah yakin, Ayah?” tanya Dimas lagi.


“Kenapa tampaknya kau yang ragu?”


“Ayah, aku sedang bertanya, kenapa ayah malah bertanya balik?” gerutu Dimas.


“Kalau kakakmu sudah bilang begitu berarti dia sudah memutuskan hal itu,” jawab Tuan Dirgantara.


“Secepat itukah dia memutuskan hal penting seperti ini? Aku bahkan tidak pernah melihat dia berduaan bersama Nesya,” ucap Dimas.


“Kau tau seperti apa kakakmu kan? Kalau dia berani memberi jawaban, artinya jawaban itu sudah dia pikirkan matang-matang,” kata Tuan Dirgantara.


Dimas pun tak bertanya lagi, ia hanya mengangguk-angguk saja. Dalam hatinya ia masih tidak percaya dengan perkataan Bumi. Apalagi setelah ia mendengar cerita Senja tadi sore. Sungguh, ia merasa ada yang janggal disini. 


***


Dimas masuk ke kamar lalu merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia melipat satu tangannya ke belakang untuk menyangga kepalanya.


“Sudahlah, jangan menangis. Aku ada disini kalau kau butuh teman untuk berbagi cerita,” bujuk Dimas pada Senja.


Senja menarik diri dari dekapan Dimas, lalu ia menyeka airmatanya yang sudah menyebabkan pipinya basah.


“Aku tidak bisa menceritakan hal ini padamu, Dimas,” tolak Senja.


“Kenapa? Aku lihat kau sangat tertekan saat ini. Kau butuh seseorang untuk saling berbagi cerita. Percaya padaku, aku akan menjaga rahasiamu,” bujuk Dimas lagi.


“Senja, aku tau mungkin aku tidak bisa membantu menyelesaikan masalahmu, tapi setidaknya kau akan merasa sedikit lega dengan bercerita padaku. Dan siapa tau aku bisa membantumu mencari jalan keluar dari masalahmu itu kan?” Dimas kembali berusaha meyakinkan Senja.


“Ini tidak semudah yang kau kira, Dimas. Karena ini masalah hati,” jawab Senja dengan tatapan sendu.


Hati? Apakah Senja sedang jatuh hati kepada seseorang? Tanya Dimas dalam hati.

__ADS_1


“Kau...suka pada seseorang?” tanya Dimas penasaran.


Senja mengangguk. “Dan orang itu adalah...kakakmu, Bumi.”


Dimas langsung terperanjat. Ia tak menyangka bahwa pria yang berhasil menaklukkan hati Senja adalah kakaknya, Bumi, pria yang dingin dan sangat irit berbicara.


“Kau menyukai Kak Bumi?” tanya Dimas hampir tak percaya.


“Bukan hanya suka. Tapi aku mencintainya,” jawab Senja dengan yakin.


“Tapi aku hanya mencintainya dalam hatiku. Dan aku rasa selamanya akan terus begitu,” tambah Senja lagi. Ada kegetiran yang terselip dalam setiap perkataannya. Ia sadar, Bumi hanya akan menjadi cinta dalam hatinya, karena Bumi sudah dijodohkan dengan orang lain saat ini.


“Kalau kau memang mencintainya kenapa kau tidak perjuangkan cintamu? Kak Bumi saat ini belum terikat dengan siapapun.”


Meskipun Dimas cukup kecewa ternyata Senja mencintai orang lain, tapi dia tetap akan mendukung Senja untuk bahagia.


“Dia sudah terikat perjodohan dengan Kak Nesya,” jawab Senja.


“Belum diresmikan, baru direncanakan. Kau masih punya waktu untuk jujur padanya.”


“Tidak, Dimas. Kak Nesya sudah sangat berharap bisa menikah dengan Bumi. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka.”


“Lalu kau akan selamanya menyimpan namanya di hatimu saja tanpa mengatakan padanya?”


Senja mengangguk lemah. “Aku tidak punya pilihan lain,” jawab Senja dengan pasrah.


Dimas menatap wajah Senja dengan penuh rasa kasihan. Gadis di depannya ini terlihat sangat rapuh sekarang dan semua itu karena cintanya pada Bumi yang ia pendam sendiri.


Dimas merasa kasihan pada Senja. Ia pun kembali menarik Senja dalam dekapannya. Ia dapat merasakan kesedihan Senja sekarang. Ia juga sebenarnya sedih karena hati Senja sudah diisi oleh orang lain, bukan dirinya. Tapi ia tak terlalu sakit karena mungkin cintanya belum sebesar cinta Senja pada Buminya.


“Senja, satu hal yang perlu kau ingat, jika kau butuh teman, maka aku akan selalu bersedia saat kau butuhkan,” ucap Dimas berusaha menyemangati Senja.


“Terimakasih, Dimas. Hal pertama yang aku minta darimu, tolong rahasiakan ini dari siapapun, termasuk dari Bumi,” balas Senja.


“Baiklah, aku akan merahasiakannya untukmu.”

__ADS_1


Senja masih berada dalam dekapan Dimas. Rasanya sangat berbeda saat ia berada dalam dekapan Bumi. Kehangatannya berbeda. Jika bersama Bumi, rasanya ia ingin waktu berhenti berputar agar bisa lebih lama dalam dekapannya.


Tapi sekarang sampai nanti entah kapan, ia tak bisa lagi merasakan dekapan hangat itu. Ia akan kehilangan malaikat pelindungnya. Ia bahkan sudah berencana menghindar dari Bumi sebisa yang ia mampu. Karena setiap kali bertemu Bumi, ia tak akan kuat menahan rindu. Tapi dia tak boleh lagi begitu, malaikat pelindungnya itu kini sudah bertukar menjadi cinta dalam hatinya. Ya, cukup dalam hatinya saja.


__ADS_2