Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
105. Jangan Ambil Senjaku!


__ADS_3

Menyetir mobil sambil menerima panggilan dari Nesya membuat Senja kehilangan fokusnya. Ditambah lagi derasnya hujan dan gelapnya malam yang mengaburkan pandangannya, Senja sampai tak menyadari ada sebuah mobil yang melintas di depannya dari arah persimpangan jalan.


Senja yang tengah menambah kecepatan mobil dengan cepat membanting stir mobil ke arah lain untuk menghindari tabrakan tersebut.


Ciiiiiiiiiiiiittttttttttttt........


Suara ban mobil yang berdecit tak mampu berhenti mendadak begitu saja. Kondisi jalan yang basah karena hujan membuat mobil Senja justru terpelanting saat menabrak pembatas jalan.


Braaaakkkkkkkk!!!


Mobil Senja pun terbalik seketika. Senja tampak langsung tak sadarkan diri di dalam mobil yang kondisinya terbalik itu. Darah segar pun mulai mengalir dari kepalanya hingga membasahi wajahnya. Kondisi Senja tampak sangat mengenaskan akibat kecelakaan yang baru dialaminya itu.


***


“Senja....Senja.....” pekik Nesya dari balik handphone-nya.


Tangannya bergetar hebat melihat layar handphone-nya yang sudah tak tersambung lagi dengan Senja. Ia sempat mendengar teriakan Senja disusul dengan bunyi dentuman yang sangat keras. Satu hal yang muncul di kepalanya saat ini adalah Senja mengalami kecelakaan.


“Bagaimana, Nona? Apa yang terjadi?” tanya pria yang sudah disewa oleh Nesya untuk mencelakai Senja.


Nesya menggelengkan kepalanya. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia jadi takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Senja. Dan kalau itu benar, maka dialah yang menjadi penyebabnya. Ia hanya berencana melecehkan Senja saja agar Bumi tak lagi suka padanya, tapi bukan sampai menghilangkan nyawanya.


“Nona, bagaimana? Kita sudah lama menunggu disini. Apakah wanita yang Nona akan jebak jadi datang kesini?” tanya pria itu lagi yang melihat Nesya malah bengong duduk di tepi ranjang.


“Di...dia...dia sepertinya mengalami kecelakaan,” ucap Nesya dengan terbata.


“Apa? Kecelakaan? Lalu bagaimana dengan rencana Nona?” tanya pria itu lagi.


“Ak-aku tidak tau. Aku tidak membunuhnya. Aku tidak bermaksud membunuhnya. Bukan. Bukan aku yang membunuhnya,” ucap Nesya yang meracau seperti orang hilang akal. Tangannya tampak bergetar ketakutan. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada Senja.


Sepertinya aku harus pergi dari sini. Aku juga tidak mau disalahkan jika memang terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Ucap pria tersebut dalam hati.


Karena Nesya masih terlihat kebingungan, kesempatan itu dimanfaatkan oleh sang pria untuk kabur dari hotel itu secepatnya. Ia tak mau terlibat jauh sehingga membahayakan dirinya. Ia pun pergi dan meninggalkan Nesya yang dihantui rasa takut dan bersalah seorang diri disana.


***


Praaaannggggg!


Mangkuk yang berisi sup tak sengaja terlepas dari tangan Liliana sehingga mangkuk itu pecah berderai di lantai. Disusul suara petir menggelegar yang membuat Liliana langsung teringat akan putrinya.


“Senja...” lirih Liliana.


“Ada apa, Sayang?” tanya Andika yang menyusul istrinya ke dapur saat mendengar suara pecahan kaca.


“Sayang...” lirih Liliana sambil memegang kedua tangan suaminya.


“Iya, ada apa, Sayang? Bi, tolong bersihkan lantainya, ya,” kata Andika pada salah satu pelayan di rumahnya.


“Baik, Tuan.”


Andika pun menarik tangan Liliana membawanya menjauh dari pecahan kaca itu.


“Ada apa?” tanya Andika lagi.


“Senja... Aku tiba-tiba khawatir pada Senja. Di luar hujannya sangat deras. Tadi juga Bumi menelepon menanyakan Senja. Kita juga tidak tau Senja dimana sekarang,” jawab Liliana dengan raut penuh kekhawatiran. Wajahnya bahkan tampak gelisah sekali.


“Sabar, Sayang. Aku akan meminta anak buahku mencarinya. Kau tenang dulu, ya. Tidak perlu panik. Kita do'akan Senja baik-baik saja saat ini,” kata Andika berusaha menenangkan istrinya dan mengusap-usap punggung istrinya agar lebih tenang.

__ADS_1


***


Bumi mencoba menghubungi handphone Senja lagi, tapi kali ini nomornya sudah tidak aktif, tak dapat dihubungi. Tentu saja Bumi sangat risau dengan situasi seperti ini. Akhirnya ia pun mengambil coat nya dan berencana ingin keluar mencari Senja.


“Kau mau kemana hujan-hujan begini, Bumi?” tanya Tuan Dirgantara yang melihat anaknya tergesa-gesa menuruni anak tangga.


“Aku harus keluar mencari Senja, Ayah. Dia pergi dari rumahnya menyetir sendirian dan tidak ada yang tau dia pergi kemana,” jawab Bumi yang sudah berada di lantai dasar rumahnya.


“Sudah minta anak buahmu mencarinya?” tanya Tuan Dirgantara.


“Sudah, Ayah. Tapi belum ada kabar dari mereka. Aku sangat khawatir padanya. Aku harus mencarinya sekarang juga,” jawab Bumi.


“Apa Kak Bumi mau aku menghubungi Viona temannya? Barangkali dia sedang sama Viona sekarang,” tawar Dimas.


“Tidak. Aku rasa ada hal penting yang membuatnya pergi saat hujan begini. Kalau dia bersama Viona, tidak mungkin dia tidak menjawab panggilanku. Bahkan sekarang nomor handphone-nya sudah tidak aktif,” tolak Bumi.


Tuan Dirgantara, istrinya beserta Dimas juga ikut khawatir tentang keberadaan Senja. Apalagi di luar memang sedang hujan deras.


“Baiklah, aku pergi dulu sekarang,” pamit Bumi.


“Tuan....”


Suara panggilan dari Jefri yang berjalan dengan tergesa-gesa membuat semua orang menoleh ke arahnya. Jefri terlihat sangat panik saat itu. Melihat Jefri seperti itu, tentu saja membuat jantung Bumi berdetak lebih cepat seolah takut mendengar sesuatu yang tak diharapkannya.


“Tuan, Nona Senja...” ucap Jefri terputus.


“Cepat katakan ada apa dengan Senja!” desak Bumi dengan suara meninggi karena panik.


“Mobil Nona Senja...” Jefri menghela nafas sebentar. “Mobil Nona Senja ditemukan terbalik dan melewati pembatas jalan, Tuan.”


Duaarrrrrrr!


“Terbalik bagaimana maksudmu? Lalu bagaimana kondisi Senja sekarang?” tanya Tuan Dirgantara tak kalah panik.


“Nona Senja mengalami kecelakaan, Tuan. Mobilnya terbalik. Dan Nona Senja sendiri sedang dalam perjalanan di dalam ambulance menuju ke rumah sakit milik keluarga Dirgantara, karena rumah sakit itu yang paling dekat dengan lokasi kejadian,” jawab Jefri dengan berat hati.


Mata Bumi sudah mulai memanas. Hidungnya terasa sesak hingga kesulitan bernafas dengan benar. Bulir-bulir airmata mulai menggenang di pelupuk matanya.


“Jef, katakan padaku. Apa Senja....”


“Tuan, mari kita ke rumah sakit sekarang! Biar kita pastikan sendiri dengan mata kepala kita sendiri, Tuan,” potong Jefri.


Jefri menepuk pundak tuannya yang ia tau sedang terpukul itu. “Tuan pasti kuat! Nona Senja membutuhkan dukungan dan do’a dari Tuan saat ini,” ucap Jefri dengan mata yang mulai memerah.


Tes.


Airmata Bumi lolos begitu saja tanpa mampu ia tahan. Betapa pilunya hati pria itu saat ini mengetahui gadis yang dicintainya mengalami kecelakaan dan dia tidak ada di sampingnya saat itu untuk menolongnya.


“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Bumi.


Lalu mereka semua pun pergi ke rumah sakit dimana Senja dibawa. Dalam perjalanan, Tuan Dirgantara segera menghubungi keluarga Andika dan memberitahu apa yang terjadi pada Senja.


Liliana langsung menangis histeris saat tau putrinya mengalami kecelakaan. Andika sampai sedikit kewalahan menenangkan seorang ibu yang tau anaknya dalam keadaan tidak baik-baik saja itu. Andika dan Liliana pun ikut menyusul ke rumah sakit saat itu juga.


Sepanjang perjalanan, Bumi tampak diam tak bicara sepatah katapun. Tapi airmatanya terus menerus mengalir tanpa bisa ia tahan. Hatinya diselimuti rasa ketakutan yang luar biasa. Ia takut mendengar kabar yang mungkin akan menggores hatinya.


“Senja itu tidak lama, hanya sementara. Sesingkat itu bukan?”

__ADS_1


“Biar semesta yang menentukan berapa lama hidupku di dunia ini.”


“Kalau panjang umur, tahun ini masuk 23 tahun.”


“If you miss me, you can see the sunset, my twin.”


Kata-kata yang diucapkan Senja terus terngiang di kepalanya sehingga membuatnya merasa makin takut kehilangan. Bumi menggelengkan kepalanya mengusir suara-suara yang terus mengganggunya. Tuan Dirgantara yang melihat hal itu menepuk pundak Bumi dan mengusap-usapnya.


“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja,” ucap Tuan Dirgantara.


Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit. Senja saat ini sedang berada di instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Bumi keluar dari mobil dengan berlari sekuat mungkin untuk segera sampai menemui Senja. Yang lain pun menyusul Bumi dari belakang.


Bumi berusaha untuk menerobos masuk ke dalam ruangan itu tapi untungnya Jefri dan Dimas berhasil mencegahnya. Bahkan ada beberapa petugas rumah sakit juga yang berusaha membantu mencegah Bumi yang terus mendesak ingin masuk ke dalam.


Tuan Dirgantara yang baru sampai langsung menenangkan Bumi dan memeluk putranya yang kini lebih tinggi darinya.


“Tenang, Bumi. Kau harus tenang! Biarkan dokter yang memberi pertolongan pada Senja. Kau harus tenang dulu!” ucap Tuan Dirgantara menenangkan anaknya. Bumi terdengar menangis terisak dalam pelukan sang ayah.


Tak lama Andika dan Liliana juga sampai disana. Liliana tak mampu bicara apa-apa lagi. Ia hanya mampu menangis di pelukan suaminya. Andika pun hanya bisa diam bersabar menunggu hasil dari dokter.


Sementara di dalam ruangan itu, Senja sedang berjuang untuk melawan maut. Matanya tertutup rapat tak sadarkan diri. Beberapa alat tampak terpasang di dirinya.


“Cek denyut jantungnya!”


“Denyut jantungnya melemah, Dokter.”


“Tekanan darahnya semakin turun.”


“Tambahkan daya untuk kejut jantungnya. 3..2..1..”


Deg.


Senja hanya meresponse sedikit sekali setelah mendapat kejut jantung itu.


“Tambah daya lagi! 3...2...1...”


Deg.


Bukan makin kuat, responsenya malah semakin melemah.


Di luar ruangan itu semua orang menunggu dengan perasaan yang campur aduk. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa selain pasrah dengan keputusan Tuhan nantinya.


Bumi bersandar pada dinding rumah sakit sambil terus melihat ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Ia berharap ketika pintu itu terbuka, maka hanya kabar baik yang akan ia dengarkan.


Tuhan, aku memohon padamu dengan segala kerendahan hati. Tolong...beri kesempatan pada orang sebaik Senja untuk lebih lama hidup di muka bumi ini. Aku mohon...jangan ambil Senjaku! Jangan ambil Senjaku! Batin Bumi.


Tak lama pintu ruangan itu pun terbuka. Tampak seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan itu. Mereka semua sontak mendekat ingin tau tentang keadaan Senja.


“Bagaimana, Dokter? Bagaimana keadaan anak saya?” tanya Andika dengan panik.


Dokter itu tampak berat menjawabnya. Apalagi melihat wajah-wajah mereka yang tampak sangat terpukul saat itu. Bahkan sang pemilik rumah sakit, Tuan Dirgantara juga ikut datang langsung kesana.


“Bagaimana, Dokter?” ulang Tuan Dirgantara dengan tidak sabaran. Sementara jantung Bumi sudah tak karuan lagi detakannya saking deg-degan menunggu jawaban dari dokter.


“Kami...sudah berusaha semaksimal mungkin...”


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2