
Adrian mengendarai mobilnya dengan cepat setelah mendapat panggilan dari anak buah calon menantunya. Perasaannya tidak tenang saat ini ketika ia dipanggil mendadak untuk bertemu di rumah istri keduanya. Ia tak mengerti, dari mana Bumi bisa tau tentang istri keduanya? Apakah dari Nesya? Rasanya tidak mungkin Nesya senekat itu membongkar aib keluarganya.
“Akh! Sia-lan! Siapa yang berani memberitahu Bumi soal ini?! Bagaimana jika Tuan Dirgantara tau tentang Sonya? Bisa-bisa pernikahan Bumi dan Nesya dibatalkan sepihak oleh mereka karena tidak ingin nama keluarga mereka tercemar,” keluh Adrian sambil terus melajukan mobilnya ke rumah Sonya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Adrian sampai ke rumah itu dan segera masuk ke dalam dengan terburu-buru. Ia bahkan tidak mempedulikan beberapa mobil yang terparkir di depan rumah istri keduanya itu.
***
“Hallo, Tuan. Saya sudah menemukan mobil Nona Senja terparkir di sebuah perumahan. Tapi... tadi saya justru melihat Nona Senja digendong masuk ke dalam mobil lain, Tuan.”
“Mobil lain? Anakku diculik maksudmu?!”
“Sepertinya tidak, Tuan. Karena yang membawa Nona Senja adalah Tuan Muda Dirgantara.”
“Tuan Muda Dirgantara? Yang mana satu maksudmu?”
“Tuan Bumi, Tuan. Bumi Langit Dirgantara.”
Andika tentu sangat terkejut mendengar informasi dari orang suruhannya itu. Ada hubungan apa antara Bumi dan Senja sampai Bumi harus menggendongnya? Apa yang terjadi sebenarnya?
“Bukan cuma itu saja, Tuan. Setelah Nona Senja dibawa keluar oleh Tuan Bumi dari sebuah rumah, tak lama saya melihat Tuan Adrian datang dan masuk ke dalam rumah itu.”
“Adrian? Kau tidak salah lihat?”
“Tidak, Tuan. Yang barusan datang memang Tuan Adrian.”
Andika kembali terkejut. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan segera menghubungi Bumi untuk bertanya tentang putriku.”
“Baik, Tuan.”
Andika terduduk di sofa. Ia memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing akibat informasi yang ia terima barusan. Ia sama sekali tak ada gambaran tentang apa yang sedang terjadi.
“Bagaimana, Sayang? Senja dimana?” tanya Liliana dengan panik saat melihat ekspresi suaminya seperti itu.
__ADS_1
“Tenanglah, Senja baik-baik saja. Dia sedang dalam perjalanan bersama Bumi,” jawab Andika.
“Bumi? Kenapa dia bisa bersama Bumi? Apa Nesya juga ada bersama mereka?” tanya Liliana lagi.
Andika pun menggelengkan kepalanya. “Mereka hanya berdua. Sebaiknya kita tunggu saja sampai mereka pulang.”
Kini Liliana juga ikutan bingung. Ia penasaran sekali apa sebenarnya yang terjadi pada putrinya itu.
***
“Sonya.....Arkan......” teriak Adrian saat masuk ke dalam rumah.
Ia terus masuk mencari Sonya dan Arkan ke setiap ruangan hingga akhirnya ia menemukan istrinya sedang berdiri di samping Arkan dan seorang pria dengan tangan diborgol.
“Sonya? Arkan? Ada apa ini?” tanya Adrian dengan mata melotot.
Baik Sonya maupun Arkan tidak berani bersuara. Mereka hanya menunduk dengan perasaan takut.
Adrian lalu melihat disana juga ada Jefri dan beberapa anak buah Tuan Dirgantara yang lainnya. Adrian yang tersulut emosi melihat anak dan istrinya diperlakukan seperti itu langsung menghampiri Jefri dan mencengkram kerah kemeja pria itu dengan kuat.
“Tuan yakin mereka keluarga Tuan?” tanya Jefri dengan santai tanpa ada emosi sedikitpun.
“Meskipun dia istri keduaku, dia tetap istriku, baji-ngan! Mereka keluargaku!” Adrian semakin emosi saat melihat Jefri yang hanya santai menanggapinya.
“Dia tidak pantas anda sebut sebagai istri, Tuan. Karena dia sudah membohongi Tuan selama belasan tahun. Dan anak yang Tuan anggap anak kandung Tuan, bukanlah darah daging Tuan. Dia adalah darah daging pria itu, kekasih Sonya,” jawab Jefri sambil menoleh ke arah Alan. Jefri tak mau banyak basa-basi. Ia langsung saja menjelaskan secara gamblang apa yang terjadi sebenarnya.
Adrian sontak terkejut dengan jawaban Jefri. Cengkramannya di kemeja Jefri kian mengendur. Ia menarik tangannya dan berbalik menatap tiga orang yang sedang berdiri menunduk seperti menunggu dieksekusi.
“Sonya...” panggil Adrian dengan pelan. “Katakan padaku apa yang dia bilang semuanya tidak benar Sonya,” ucap Adrian dengan lirih sambil menahan sesak di dalam dadanya.
Sonya yang ditanya tak mampu menjawab. Ia terus menunduk dan malah mulai menangis.
Melihat Sonya tidak menjawabnya, Adrian menghampiri Sonya dan mendongakkan dagunya sehingga mereka saling bertatapan.
“Jawab aku, Sonya! Katakan padaku kalau apa yang dibilang Jefri semua salah! Bilang Sonya, bilang kalau Arkan memang anak kandungku!” kata Adrian dengan suara bergetar. Jantungnya ketar ketir menunggu jawaban apa yang meluncur dari mulut istri keduanya itu.
__ADS_1
“Maafkan aku, Tuan Adrian,” ucap Sonya disela isak tangisnya.
Deg.
Jantung Adrian terasa dipukul begitu kuat hingga menyesakkan dadanya. Rongga hidung dan matanya terasa panas sehingga meloloskan cairan bening yang keluar dari sudut mata. Sonya memanggilnya dengan sebutan “ Tuan" saja sudah cukup menjawab semuanya. Mereka bukan lagi sebuah keluarga. Dan apa yang dikatakan Jefri tadi berarti benar adanya.
“Kau membohongiku?” tanya Adrian dengan rasa kecewa yang sudah menjalar di hatinya.
“Maafkan aku, Tuan. Aku terpaksa melakukannya...”
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sonya.
“Hentikan! Jangan sakiti dia!” teriak Alan yang tak terima Sonya ditampar oleh Adrian.
Adrian menoleh ke arah Alan. Ia mencermati wajah itu dan teringat kalau pria itu adalah dokter yang beberapa kali memeriksa Arkan jika Arkan sedang sakit.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Adrian.
“Aku adalah ayah kandung Arkan. Arkan memang bukan darah dagingmu. Sonya sudah hamil lebih dulu sebelum menjebakmu tidur bersamanya,” jawab Alan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Semua itu berawal dari salahku. Aku yang memberi ide pada Sonya untuk menjebakmu karena aku tau Sonya diterima bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan keluarga Wijaya. Kami memang memanfaatkanmu untuk mendapatkan hartamu. Itu semua ideku. Jadi aku mohon, biarkan aku yang menanggung semuanya. Biarkan Sonya bebas agar bisa tetap bersama Arkan,” pinta Alan pada Adrian.
Adrian tentu merasa sangat marah dan kesal karena sudah ditipu belasan tahun lamanya. Ia memandang wajah Alan dengan tatapan penuh amarah. Tanpa banyak bicara Adrian melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Alan.
Bugh. Bugh. Bugh.
Alan yang dalam kondisi tangan terborgol tidak mampu menghindar apalagi melawan Adrian. Mau tidak mau ia hanya pasrah saja menerima luapan kemarahan Adrian hingga akhirnya ia terjatuh di lantai dengan wajah lebam dan bibir yang terluka.
“Karena ulah kalian keluargaku jadi berantakan! Karena kebohongan kalian keluargaku hancur tak menentu! Dan sekarang masih berani kalian minta maaf padaku? Lihat saja apa yang aku lakukan pada kalian nanti! Kalian akan ku pastikan membusuk di penjara!”
Adrian tampak sangat marah dan kecewa. Ia merasa bodoh karena berhasil ditipu bertahun-tahun lamanya. Ia juga merasa sangat bersalah pada keluarganya, terutama sang istri, Tari. Masih teringat jelas dalam kepalanya bagaimana wajah sedih Tari saat mereka bertengkar karena Adrian membela keluarga keduanya. Ia menyesal! Sangat-sangat menyesal! Dia harus meminta maaf pada keluarganya, terutama pada istrinya.
Bersambung...
__ADS_1