
Hari kian berganti dengan cepat. Sampailah pada saatnya kedua keluarga besar saling bertemu kembali untuk membicarakan tentang perjodohan putra putri mereka.
Kediaman keluarga Adrian kembali tampak ramai dengan kedatangan keluarga Dirgantara dan juga keluarga Andika. Tapi sepertinya ada yang belum terlihat disana. Ya, Senja tidak ada di pertemuan kali ini.
“Hari ini tepat satu bulan dari waktu yang kalian minta untuk saling mengenal, jadi bagaimana Bumi? Nesya? Apakah kalian bersedia melanjutkan perjodohan kalian ini?” tanya Tuan Dirgantara sembari menatap secara bergantian ke arah Bumi dan juga Nesya.
Bumi tampak diam. Sementara Nesya sudah tidak sabar mendengar jawaban yang keluar dari mulut Bumi. Tentu saja dia sudah sangat berharap kalau Bumi akan menyetujui perjodohan mereka. Nesya kembali menunggu jawaban Bumi. Bukan hanya Nesya, tapi keluarga yang lain juga. Mereka sangat penasaran kenapa pria itu belum memberikan jawaban apapun.
“Nesya bersedia, Om. Nesya bersedia melanjutkan perjodohan ini,” jawab Nesya lebih dulu saat merasa Bumi terlalu lama memberikan jawaban.
Semua mata tertuju pada Nesya, lalu beralih pada Bumi. Jawaban dari Bumi inilah yang sangat menentukan nasib perjodohan mereka. Yang dilihat malah masih diam. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, semua orang jelas makin penasaran padanya.
Bumi melihat yang lain sedang memperhatikannya. Ia tau ia harus menjawab saat itu juga. Ia kembali melihat sekelilingnya, tapi ia tak mendapati Senja disana. Pandangannya malah terhenti pada Dimas, adiknya. Lalu ia teringat lagi saat dimana Dimas berpelukan dengan Senja. Bumi bingung. Ia bingung pada perasaannya saat ini.
“Bagaimana Bumi?” ulang Tuan Dirgantara lagi.
Bumi menarik nafas dengan berat, barulah akhirnya ia menjawab, “aku juga bersedia melanjutkan perjodohan ini. Tapi biarlah kita bertunangan dulu, karena pekerjaanku masih sangat banyak. Aku harap kalian mengerti.”
__ADS_1
Barulah senyum mengembang di wajah Nesya yang tadi tampak sangat cemas. Akhirnya pria yang selama ini ia idam-idamkan akan jatuh juga ke pelukannya. Yang lain pun ikut senang mendengar jawaban dari Bumi. Dua keluarga besar akan bersatu dalam sebuah ikatan baru.
“Baiklah, kalau itu keputusan kalian. Kami semua tentu sangat bahagia mendengarnya. Jadi kapan kalian akan mengadakan pertunangan kalian?” tanya Tuan Dirgantara lagi.
“Bagaimana kalau minggu depan?” usul Nesya.
“Kenapa minggu depan? Apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Bumi.
“Minggu depankan ulang tahunku. Jadi kalau boleh, aku mau sekaligus merayakan pertunangan kita dan ulang tahunku. Kau juga sudah setuju dengan perjodohan kita bukan? Aku rasa tidak ada salahnya kita bertunangan lebih cepat,” jawab Nesya yang sudah tak sabar ingin menjadi Nyonya Bumi.
“Terserah kau saja,” sahut Bumi pasrah.
Dimas melihat Nesya yang begitu bersemangat menjelaskan konsep pertunangan seperti apa yang dia inginkan, sementara Bumi tampak begitu tidak bersemangat bahkan hanya mengiyakan apa yang Nesya inginkan saja.
Dimas akhirnya menarik diri dari keluarganya yang sedang berkumpul. Ia memilih pergi ke halaman rumah, lalu mengirimkan pesan pada Senja. Ia sangat penasaran kenapa Senja tidak datang hari itu.
“Senja, kau dimana? Kenapa kau tidak datang malam ini?”
__ADS_1
Senja yang tengah duduk sendirian di pantai membaca pesan dari Dimas. Ia tersenyum getir. Bagaimana bisa ia datang ke acara yang membahas pertunangan orang yang dicintainya? Tidak. Dia belum sekuat itu untuk pura-pura acuh disana.
“Bagaimana acaranya? Berjalan lancar?” Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Senja malah bertanya hal lain.
“Mereka setuju untuk mengadakan pertunangan. Pestanya akan diadakan minggu depan, pas saat Nesya berulang tahun,” balas Dimas.
Senja yang membaca balasan dari Dimas meneteskan airmatanya begitu saja. Hatinya terasa semakin berdenyut. Cintanya bahkan harus kandas sebelum berlabuh. Sepertinya ia harus benar-benar menghapus Bumi dari hatinya.
“Kau dimana sekarang? Kau baik-baik saja kan?” balas Dimas lagi saat tak mendapat balasan apapun dari Senja.
“Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir,” balas Senja kemudian.
“Kau dimana?” tanya Dimas lagi.
Kali ini Senja tak lagi membalas pesan Dimas. Ia menggenggam handphone-nya kuat-kuat lalu menangis sendirian dalam sepinya malam. Kuatnya suara deburan ombak di pantai itu menyamarkan suara isak tangisnya yang patah hati karena cintanya akan bertunangan dengan sepupunya sendiri.
Tempat ini dulunya adalah tempat dimana ia menemukan kebahagiaan saat ia dan Bumi menghabiskan waktu bersama menikmati matahari terbenam. Tapi malam ini, tempat itu jadi saksi tangisan pilunya karena harus merelakan Bumi dimiliki oleh orang lain.
__ADS_1
“Ternyata...begini rasanya patah hati,” bisik Senja pada dirinya sendiri.