
Jika pernikahan Bumi dan Senja diadakan secara besar-besaran sampai beritanya memenuhi seluruh media cetak dan media elektronik, lain halnya dengan pernikahan Marcel dan Nesya. Sehari setelah pernikahan Bumi dan Senja, Marcel dan Nesya juga ikut melaksanakan pernikahan yang sangat sederhana di kantor pengurusan pernikahan. Dan itu semua ternyata atas permintaan Nesya.
Cukup mengejutkan bukan? Seorang Nesya yang selalu hidup serba glamour tiba-tiba menikah tanpa resepsi yang megah. Bahkan hanya dihadiri oleh kedua orang tuanya, kedua orang tua Senja dan sahabatnya, Catherine, serta dokter Eka yang banyak membimbingnya di rumah sakit dulu. Nesya sengaja tak mau ada pesta apa-apa. Saat ini baginya ia hanya menginginkan sebuah ikatan yang sah di kata hukum dan agama antara dirinya dan Marcel karena sebelumnya mereka sudah sering berhubungan bersama.
Inilah permintaan Nesya yang sangat sederhana. Saat ini kepribadiannya jauh berbeda dari yang dulu. Ia lebih sederhana dan bijak dalam bersikap. Ia tak lagi mengedepankan egonya melainkan akal dan hati nuraninya.
Dan saat ini, Nesya sudah sah menjadi istri resmi dari seorang Marcel, pria yang setia menemaninya dalam kondisi apapun.
“Selamat ya, Nesya. Tante do'akan pernikahanmu dan Marcel selalu langgeng dan kalian cepat segera punya anak,” ucap Liliana lalu memeluk keponakannya itu.
“Terimakasih do’anya, Tante. Terimakasih sudah merestui pernikahan kami,” balas Nesya yang juga memeluk Liliana.
Selanjutnya Andika juga memeluk Nesya. Saat itu Andika tiba-tiba teringat akan anaknya, Senja. Melihat pernikahan Nesya sangat sederhana tanpa dirayakan seperti ini, sebenarnya hatinya sebagai paman merasa sedih, tapi ia menghargai segala keputusan Nesya dan Marcel.
“Om akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu, Nesya. Om percaya, kau bisa menjadi istri yang baik bagi suamimu dan seorang ibu yang baik bagi anak-anakmu nanti,” kata Andika mendo’akan dengan tulus.
“Terimakasih, Om. Maafkan Nesya pernah berbuat salah pada keluarga Om Andika,” ucap Nesya menyesali perbuatannya.
Andika melerai pelukannya lalu menatap Nesya. “Semua sudah lewat. Kita jadikan itu sebagai pelajaran saja. Ke depannya Om yakin kau akan lebih baik lagi.”
Lalu Andika beralih menatap Marcel yang ada di sebelah Nesya. “Jaga keponakanku baik-baik. Jika kau menyakitinya, berarti kau menyakiti seluruh keluarga Wijaya,” ucap Andika dengan serius.
“Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nesya dengan baik melebihi menjaga diri saya sendiri,” sahut Marcel dengan sungguh-sungguh.
“Jangan panggil Tuan lagi, panggil Om juga,” koreksi Andika.
“Baik, Tuan. Eh, Om. Kalau Uncle saja boleh tidak? Saya agak kaku menyebut Om,” tawar Marcel.
“Terserah kau sajalah,” jawab Andika yang membuat Nesya tersenyum mendengarnya.
Marcel melirik ke arah wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Melihat Nesya tersenyum seperti itu, rasanya Nesya makin terlihat cantik di matanya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Nesya saat melihat Marcel terus menatap dirinya.
“Kau cantik sekali, Baby,” puji Marcel dengan tulus.
Nesya hanya terdiam tersipu malu. Padahal bukan baru kali ini Marcel memujinya. Tapi rasanya ada yang berbeda saja saat Marcel mengatakan itu tadi.
Pernikahan Nesya pun telah selesai. Untuk sementara, Nesya meminta pada Marcel untuk tinggal di rumah orang tuanya beberapa hari sebelum mereka pindah ke apartemen.
Dan malam ini adalah malam pertama mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Saat Marcel sedang mandi, Nesya mengambil baju ganti ganti untuk suaminya itu dan meletakkannya di atas tempat tidur. Ia benar-benar ingin belajar untuk menjadi seorang istri yang baik.
Tak lama Marcel pun keluar dari kamar mandi. Ia melihat Nesya sudah menyiapkan baju ganti untuknya.
“Bajunya sudah aku siapkan,” ucap Nesya.
Marcel mendekat lalu mencium kening Nesya.
“Terimakasih, Baby. Tapi kau seharusnya tidak perlu melakukan hal itu. Aku bisa melakukannya sendiri,” kata Marcel yang tak mau merepotkan istrinya.
Marcel yang tadi baru saja mengambil piyamanya tiba-tiba membuang piyama itu kembali. Lalu ia mendekati istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Tangannya ia letakkan di sisi kiri dan kanan samping Nesya.
“Ada apa?” tanya Nesya kebingungan.
“Aku rasa... aku tidak membutuhkan pakaian itu, Baby,” jawab Marcel sambil memperhatikan wajah sang istri.
“Kenapa? Nanti kau kedinginan, kau bisa masuk angin,” tanya Nesya lagi.
Marcel menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan kedinginan. Kan ada dirimu yang bisa menghangatkanku. Kau bilang tadi akan mengurus segala keperluanku kan, Baby? Termasuk keperluan....” Marcel memutuskan perkataannya lalu tiba-tiba ia menarik Nesya hingga terbaring di atas tempat tidur.
Nesya tentu saja terkejut dan dengan cepat menahan Marcel agar tidak menimpanya.
“Marcel, kau kenapa?” tanya Nesya takut-takut.
__ADS_1
Marcel tersenyum melihat ekspresi wajah Nesya seperti itu. Baru kali ini ia melihat ekspresi seperti itu di wajah Nesya. Ia makin gemas saja rasanya ingin segera melancarkankan serangannya.
“Baby, aku suka sikapmu yang malu-malu seperti ini. Kau membuatku makin tak sabar,” bisik Marcel tepat di kuping Nesya lalu ia pun mencium kuping itu.
“Marcel...kau mau... mau itu, ya?” tanya Nesya ragu-ragu.
“Menurutmu?”
“Tapi...kita belum makan malam,” tolak Nesya.
“Aku tidak mau dengar penolakan, Baby. Aku sudah sangat lama merindukanmu,” ucap Marcel dengan suara serak menahan has-rat.
Kali ini ia tak membiarkan Nesya menjawab lagi. Ia langsung membungkam Nesya dengan ciumannya. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang bagi Marcel dan Nesya. Bedanya kali ini mereka melakukannya dalam sebuah ikatan yang resmi sebagai sepasang suami istri.
Marcel mengecup kening Nesya agak lama setelah ia selesai menuntaskan keinginannya. Lalu ia tersenyum memandangi wajah cantik istrinya itu.
“Terimakasih sudah menjadi istriku yang baik, Nesya. Ke depannya aku harap rumah tangga kita selalu harmonis dan penuh kasih sayang,” ucap Marcel dengan tulus.
Nesya pun mengangguki perkataan suaminya. “Terimakasih sudah setia menungguku sampai aku sembuh. Dan terimakasih sudah mau bertanggung jawab dengan menikahiku. Aku... aku mencintaimu, Marcel.” Nesya langsung meneteskan airmata haru saat mengucapkan itu.
Marcel menyeka airmata Nesya dan mencium kelopak matanya kiri dan kanan secara bergantian. “Aku juga mencintaimu, Baby. Sangat mencintaimu. Aku sudah mulai mencintaimu saat kau masuk rumah sakit. Aku baru sadar, ternyata saat kau tidak ada, aku sangat merindukanmu dan membutuhkanmu kembali di sisiku. Kita dulu mungkin bukan orang yang baik. Tapi ke depan, kita masih bisa sama-sama berubah menjadi lebih baik lagi.”
Nesya sekali lagi mengangguki perkataan suaminya. Marcel pun tersenyum senang atas perubahan sang istri. Ia kembali mencium kening sang istri. Dari kening, turun ke hidung, bibir, dagu, leher, terus turun ke bawah sampai akhirnya mereka melakukannya sekali lagi.
.
Bersambung.....
...****************...
Hai pembaca setiaku 🤗 yang mau gabung group chat ku, kalian bisa kunjungi profile-ku trus ikut gabung disana ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1