Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
61. Menanti Sebuah Jawaban


__ADS_3

Bumi sampai di kantornya dengan hati yang cerah. Bertemu Senja di pagi hari sangat menyejukkan hatinya. Bahkan lebih menyejukkan dari tetesan embun di rerumputan. Senja, seperti energi yang memberinya kekuatan untuk menjalani harinya.


Bumi masuk ke dalam ruang kerjanya diikuti Jefri yang membawakan satu set lengkap pakaian kerjanya mulai dari kemeja, jas, dasi, hingga celana. Bumi sudah siap bertugas kembali menjadi seorang CEO di perusahaannya.


“Jef, alihkan sebagian pekerjaanku hari ini pada Dimas. Aku lihat dia terlalu santai dalam bekerja,” titah Bumi mengandung sindiran pada Dimas.


“Baik, Tuan. Saya Permisi,” sahut Jefri seraya membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan itu.


Bersiaplah Tuan Dimas, kau bermain dengan orang yang salah. Batin Jefri yang saat ini sedang melangkahkan kakinya ke ruangan Dimas.


Jefri pun masuk ke ruangan Dimas dan memberitahu apa saja yang harus dikerjakan hari ini. Tentu saja Dimas terkejut mendapat tambahan pekerjaan sebanyak itu. Apalagi Jefri bilang kalau semua pekerjaannya harus selesai hari ini juga. Tidak peduli jika ia harus bekerja sampai larut malam.


“Apa-apaan ini? Kak Bumi mau balas dendam apa padaku?” tanya Dimas tak terima.


Jefri hanya mengangkat bahunya saja membuat Dimas menghela nafas dengan berat.


“Kalau tidak selesai bagaimana? Apa aku akan dihukum? Seperti anak kecil saja,” gerutu Dimas.


“Tuan Bumi biasanya selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu,” ucap Jefri.


“Iya, itu kan dia. Aku juga masih banyak pekerjaan lain. Dia pasti mau balas dendam padaku.”


Dimas yakin betul kali ini Bumi pasti ingin menghukumnya karena sudah dua kali Bumi memergokinya di luar perusahaan saat jam kerja.


“Jadi, Tuan menolak perintah Tuan Bumi?” tanya Jefri.


“Tidak! Aku tidak bilang begitu,” bantah Dimas dengan cepat. Mana berani dia menolak perintah kakaknya itu. Di mata Dimas, Bumi bahkan lebih menakutkan dari ayahnya, Tuan Dirgantara.


Dimas mengacak rambutnya dengan frustasi. Kalau begini dia bisa lembur sampai larut malam.

__ADS_1


“Baiklah, aku kerjakan semuanya,” kata Dimas dengan terpaksa.


Jefri pun menarik sudut bibirnya. “Selamat bekerja keras, Tuan.”


Dimas mencibirkan bibirnya. Dia tau Jefri sedang meledeknya. Setelah Jefri keluar dari ruangannya barulah Dimas mengutuk Bumi karena memberinya banyak pekerjaan.


“Dia kira aku robot seperti dia apa?! Yang kerjanya hanya kerja, kerja, dan kerja! Aku bisa jomblo seumur hidup kalau mengikuti gaya kerjanya,” umpat Dimas dengan kesal.


Bumi ada alasan lain mengapa dia meminta Dimas untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya. Sore ini dia sudah membuat janji pada Senja untuk bertemu di pantai tempat biasa. Ia tak mau terlambat kesana karena hambatan pekerjaan yang belum selesai. Selain itu, ia juga tak ingin Dimas mengganggu Senja sore ini. Jadi, biarlah Dimas bekerja sampai larut malam agar tak ada yang mengganggu mereka menikmati matahari terbenam bersama.


***


Setelah bekerja sehari penuh, Bumi tentu tak lupa akan janjinya untuk bertemu Senja sore ini. Semua pekerjaan yang urgent sudah ia limpahkan pada Dimas. Ia tak mau pertemuannya sore ini dengan Senja menjadi batal. Karena sebenarnya ada sesuatu yang penting yang ingin ia tanyakan langsung pada Senja. Ia akan bertanya langsung pada Senja tentang perasaan gadis itu pada dirinya.


Sebuah jawaban yang keluar dari mulut Senja nanti akan jadi penentuan, apakah pertunangannya ini akan ia lanjutkan atau tidak. Sebelum pihak keluarga Dirgantara mengeluarkan pernyataan resmi terkait pertunangannya, ia mau memastikan kembali perasaannya dan juga perasaan Senja tentunya.


Bumi bukanlah pria yang terlalu peka dan menyimpulkan sepihak bagaimana perasaan seseorang terhadapnya. Ia tak mau banyak menduga lalu malah membuatnya berharap lebih. Ia butuh kepastian! Dan ia mau mendengarkannya sendiri dari mulut Senja. Meski tak dipungkiri, ia merasa Senja juga memiliki perasaan padanya, tapi ia tak mau menduga-duga. Kalau memang ada rasa, maka biarlah mereka saling terbuka.


Dan sekarang disinilah Bumi berdiri di ujung jembatan menunggu Senjanya. Dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya, ia memandang ke depan pada laut yang menghampar luas tanpa batas. Angin sore itu begitu syahdu. Tak terlalu kencang, namun tetap dingin menusuk tulang.


Tak lama, seseorang yang ia nantikan pun tiba.


“Bumi....” teriak Senja dari ujung jembatan yang membuat Bumi menarik segaris senyum di wajahnya.


Hahhh, mendengar suara itu memanggil namanya saja sudah membuat hatinya bergetar dengan hebat.


Bumi pun berbalik menoleh pada Senja. Senja melambaikan tangannya dengan senyum cerianya lalu berlari ke arah Bumi. Bumi menggelengkan kepalanya. Tidak seharusnya ia berlari seperti itu kan.


“Hahhhh, sampai juga,” ucap Senja dengan nafas terengah-engah sehabis berlari. Ia berhenti tepat di depan Bumi dengan kedua tangan di pingganggnya.

__ADS_1


“Kau tidak perlu berlari. Kalau jatuh bagaimana?” Dari nada suaranya, dapat dipastikan Bumi sedang mengkhawatirkan Senja.


“Kalau jatuh ya bangun,” jawab Senja sambil terkekeh.


Bumi hanya geleng-geleng kepala dengan jawaban Senja. Tangannya lalu terulur membenarkan anak rambut Senja yang berantakan. Ia menyelipkan rambut itu dibalik telinga Senja. Senja sempat terkejut dengan perlakuan Bumi. Tapi ia tak mencegahnya.


“Rambutmu halus,” ucap Bumi.


“Memangnya rambutmu kasar?” tanya Senja sembarangan.


Yang ditanya malah menunduk dan mendekatkan rambutnya ke arah Senja.


Eh? Apa maksudnya? Tanya Senja dalam hati.


“Coba pegang,” kata Bumi.


Senja awalnya ragu-ragu memegang rambut Bumi. Rambut pria itu meskipun lebat tapi terasa lembut di tangan. Tak cukup hanya menyentuhnya, Senja malah mengelus-elus rambut itu. Senja juga tak segan mendekatkan hidungnya dan menghirup aroma shampoo dari rambut Bumi. Harum dan menenangkan.


Bumi yang merasa terlalu lama menunduk kini mengangkat kepalanya. Saat ia menggerakkan kepalanya ke atas, tak sengaja membuat hidungnya dan hidung Senja saling bersentuhan.


Deg.


Mereka sama-sama tertegun dan terdiam sejenak dalam jarak yang sangat dekat. Mereka saling menatap satu sama lain dengan degupan jantung yang berdetak begitu hebat. Oh, rasanya Bumi ingin sekali waktu berhenti bergerak saat ini agar dia bisa lebih lama menikmati kebersamaan bersama Senja. Entah kenapa ada rasa nyaman dan tenang di hatinya serta rasa yang menggetarkan jiwa saat berdekatan dengan Senja. Apakah ini getaran cinta? Sehingga saat kau bersama orang yang tepat, kau tak ingin waktu memisahkan kebersamaanmu dengannya.


Senja yang tersadar lebih dahulu, ingin menarik dirinya mundur, tapi dengan cepat Bumi meraih pingganggnya dan membuat jarak mereka semakin dekat.


“Bumi, aku....”


“Senja...” sela Bumi yang membuat Senja tak jadi melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Apakah kau mencintaiku?”


__ADS_2