Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
125. Permintaan Senja


__ADS_3

Mobil keluarga besar Dirgantara tampak memasuki gerbang rumah keluarga Andika Wijaya. Malam ini akan diadakan pertemuan antar dua keluarga untuk membahas tentang pernikahan Bumi dan Senja. Sesampainya disana, keluarga Dirgantara disambut dengan hangat oleh keluarga Wijaya.


Saat ini mereka berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan hal tersebut. Tapi Senja belum terlihat berada disana. Bumi dari sejak sampai tadi sudah mengarahkan matanya kesana sini mencari keberadaan Senja, tapi yang dicari belum muncul juga.


Liliana yang mengerti gelagat Bumi langsung menyusul Senja ke kamarnya. Saat mereka berdua turun, Bumi nyaris tak berkedip melihat Senja yang berdandan sangat cantik malam itu.


Senja pun duduk di antara Andika dan Liliana. Ia duduk tepat di seberang Bumi. Saat Senja mendongakkan kepalanya melihat ke arah Bumi, pria itu langsung tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Senja kembali menunduk sambil menggosok-gosok hidungnya. Ia rasanya ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Bumi yang semakin hari semakin aneh seperti itu.


Kemudian, Tuan Dirgantara pun mulai membuka pembicaraan dengan mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang ke kediaman keluarga Andika Wijaya.


“Baiklah, sesuai yang sudah kita ketahui bersama, kedatangan kami kesini untuk membahas tentang pernikahan kedua anak kita, Bumi dan Senja. Menurut rencana awal, mereka akan menikah dua minggu dari sekarang. Apa ada hal lain yang perlu disampaikan lagi? Atau mungkin dari Senja menginginkan sesuatu sebagai hadiah pernikahan? Silahkan disampaikan saja, kami dari pihak calon pengantin laki-laki akan berusaha memberikan yang terbaik untuk calon pengantin wanita,” kata Tuan Dirgantara.


“Sebelumnya kami ingin mengucapkan terimakasih kepada Tuan dan keluarga. Mengenai hal ini, saya serahkan kepada anak saya, Senja. Dia yang lebih berhak menentukan bagaimana pernikahannya nanti akan diadakan,” jawab Andika.


“Bagaimana Senja? Apa kamu sudah memikirkan sesuatu yang kamu inginkan? Katakan saja, tidak perlu sungkan,” tanya Tuan Dirgantara.


Kali ini wajah Senja tampak serius meskipun ia masih memasang senyuman di wajahnya. Sepertinya memang ada sesuatu yang diminta darinya.


“Senja setuju dengan jadwal pernikahan dan konsep yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Tapi ada satu hal lagi yang Senja ingin minta sebelum pernikahan kami dilaksanakan,” ucap Senja.


“Katakan saja, apapun yang kau minta akan aku penuhi,” sahut Bumi yang penasaran.


“Senja...” Senja terdiam sejenak menatap orang-orang di depannya.


“Senja minta Kak Nesya dibebaskan dari tempatnya sekarang,” jawab Senja yang membuat orang-orang disana terkejut. Mereka tak menyangka hal itu yang akan Senja minta.


“Kenapa harus itu yang kau minta? Dia sudah menyakitimu. Dia sudah membuat kita menderita. Lagipula tempatnya memang disana, dia pantas berada disana,” ucap Bumi dengan menggebu-gebu.


“Bumi, aku tau dia sudah pernah melakukan suatu kesalahan. Dan aku rasa selama tiga bulan lebih dia berada disana, dia sudah cukup menerima hukumannya. Sekarang dia sudah berubah. Aku tau dia sudah sembuh tapi dia tidak dibenarkan keluar disana. Aku juga sangat kecewa saat tau dia berniat jahat padaku dan membuat kita menderita selama dua bulan lamanya. Tapi dia juga berhak mendapat kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan menahannya disana bukan hanya dia saja yang tersiksa, tapi ada seorang ayah dan seorang ibu yang tiap malam selalu menangisi putri semata wayang mereka. Dan ada seorang kekasih yang setiap hari selalu menaruh harap kapan wanita yang dicintainya akan sembuh dan terbebas dari sana. Jujur, aku tidak tega membiarkan anggota keluargaku ada yang menderita sementara aku sendiri berpesta bersuka cita tanpa mempedulikannya,” jelas Senja panjang lebar.


“Apa kau tidak sadar kesalahan yang dia lakukan sangat fatal? Dia hampir membuat kita terpisah selamanya, Senja.” Bumi masih belum bisa menerima permintaan Senja begitu saja.

__ADS_1


“Tapi aku sekarang baik-baik saja. Kita sudah kembali lagi bersama. Sampai kapan dia akan terus ditahan disana? Dia masih muda, perjalanan hidupnya masih panjang. Aku mohon, aku sangat memohon padamu dan pada Tuan Dirgantara, tolong biarkan Kak Nesya bebas dari sana. Aku tau dia sudah sembuh. Aku mohon bebaskan dia,” pinta Senja dengan airmata yang sudah lolos membasahi pipinya.


Suasana yang tadi hangat menjadi tegang seketika. Melihat Senja sudah berurai airmata membuat Bumi bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia belum bisa memaafkan Nesya begitu saja. Tapi di sisi lain, ia mana tega melihat Senja sedih seperti itu.


Tuan Dirgantara pun jadi serba salah. Apalagi yang meminta Nesya tetap ditahan disana meski sudah sembuh adalah dirinya langsung. Saat itu ia memang sangat geram dan marah atas apa yang Nesya lakukan. Untuk itu ia meminta pihak rumah sakit tetap menahannya disana meski ia sudah sembuh.


“Aku hanya minta itu sebelum kita melangsungkan pernikahan kita. Jika kau tak bisa mengabulkannya, aku rasa lebih baik pernikahan kita ditunda saja.”


Deg.


Bumi tak dapat berkutik lagi dengan kalimat terakhir Senja. Kalau sudah begini, dia bisa apa selain memenuhi permintaan Senja. Ia sudah tak sabar ingin segera melangsungkan pernikahan dengan Senja. Ia sudah tak bisa lebih lama lagi menunda pernikahan mereka.


“Untuk hal itu, saya menyerahkan semuanya kepada Bumi saja,” ucap Tuan Dirgantara lalu menoleh ke arah Bumi.


Bumi makin merasa pusing saja. Ayahnya bukan membantunya malah menyerahkan keputusan kepadanya. Bumi pun kembali melihat ke arah Senja. Ia menatap mata Senja yang sudah basah karena menangis demi meminta kebebasan Nesya. Haruskah ia penuhi permintaan calon istrinya itu?


Semua jadi terdiam sejenak menunggu keputusan Bumi. Senja terus menatap Bumi dengan penuh harap agar Bumi mau mengabulkan permintaannya.


“Baiklah, demi kamu, calon istriku, aku akan mengabulkan permintaanmu. Besok aku akan meminta Jefri untuk mengurusnya,” jawab Bumi.


Jefri pun mengangguk menyanggupi perintah tuannya.


Barulah senyuman kembali terlukis di wajah Senja. Bukan hanya Senja, tapi juga yang lainnya yang ada disana. Melihat Senja kembali tersenyum membuat Bumi kembali lega. Ia tak bisa melihat Senjanya berwajah sedih seperti tadi.


Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan tentang pernikahan sampai semua dirasa jelas dan tinggal dilaksanakan saja.


***


Saat ini Bumi sudah kembali ke rumahnya. Ia bahkan sudah bersiap-siap untuk tidur. Lalu tiba-tiba suara pesan masuk di handphone-nya membuatnya kembali duduk dan membaca pesan yang ternyata datang dari Senja.


“Terimakasih sudah memenuhi permintaanku. Aku tidak menyesal menerimamu sebagai calon suamiku.” Isi pesan Senja yang ditambah dengan emoticon senyum di belakangnya.

__ADS_1


Bumi pun dengan cepat membalas pesan itu.


“Tentu saja itu tidak gratis, Senjaku. Ada harga yang harus kau bayar untuk itu,” balas Bumi dengan sebuah rencana di kepalanya.


“Ternyata kau tidak ikhlas, ya? Memangnya kau mau aku bayar dengan apa? Apa cukup dengan sebuah proyek kerjasama dari keluarga Wijaya?” tanya Senja penasaran.


Bumi senyum menyeringai. Ia pun kembali membalas pesan Senja.


“Aku tidak butuh proyek. Aku butuhnya kamu.”


“Dasar gombal!” balas Senja dengan cepat.


Bumi pun terkekeh membaca pesan dari Senja. Ia pun kembali membalasnya.


“Aku tidak main-main dengan ucapanku, Senja.”


“Baiklah Tuan Muda, terserah kau saja.”


“Bagus. Jadilah istri yang menurut pada suami,” balas Bumi disertai emoticon senyum smirk yang berkacamata hitam.


“Sudahlah, aku mau tidur dulu. Selamat malam, Bumiku, Langitku, Dirgantaraku. Mimpikan aku ya,” balas Senja disertai emoticon cium yang ada tanda love nya.


Bumi pun terbahak melihat Senja mengirim emoticon seperti itu. Ia tau Senja sengaja balas menggodanya.


“Selamat malam, Senjaku. Baiklah, aku akan memimpikanmu malam ini.”


Senja pun tak membalas lagi. Ia hanya senyum-senyum sendiri membaca pesan dari calon suaminya itu. Begitupun dengan Bumi. Ia terus melihat emoticon terakhir yang Senja kirim kepadanya dengan perasaan bahagia.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2