
Bumi tersenyum getir mendengar jawaban Andika. Bumi tau Andika sedang tidak memposisikan dirinya sebagai seorang rekan bisnis kali ini, melainkan sebagai seorang ayah yang sedang melindungi anaknya. Tapi yang menjadi tanda tanya di hati Bumi, apa yang telah terjadi sampai Andika rela mengorbankan proyeknya bahkan rela mengganti semua kerugian demi melindungi Senja agar tak berurusan lagi dengannya?
Bumi bisa saja menolak keputusan sepihak itu karena dari awal memang Senja lah yang telah ditunjuk sebagai perwakilan dari perusahaan Wijaya untuk menangani proyek bersama perusahaan Dirgantara. Tapi Bumi tak melakukannya. Ia memilih mengalah dan akan mencari tau sendiri apa penyebabnya.
“Perusahaan Wijaya dan Dirgantara bukan baru kali ini terlibat kerjasama dalam sebuah proyek, Tuan Andika. Saya rasa tidak perlu sampai ada pembatalan kerjasama hanya karena pergantian penanggung jawabnya. Bussiness is bussiness. Jika tidak ada masalah terkait bisnis, maka proyek ini tetap akan kita jalankan siapapun yang menjadi penanggung jawabnya,” balas Bumi dengan sangat profesional.
Andika mengangguk menyetujui perkataan Bumi. Pria di depannya ini meskipun jauh lebih muda darinya tapi sangat profesional dalam berbisnis. Ia bahkan mampu mengelola emosinya dengan baik. Nada bicaranya sangat tenang, wajahnya pun datar tak menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Sulit untuk menebak bagaimana suasana hatinya sekarang.
Selanjutnya mereka pun memulai meeting bersama. Selama meeting Bumi berusaha keras untuk tetap fokus pada penjelasan dari Andika. Padahal hatinya itu sedang rungsing memikirkan Senja. Ia masih penasaran mengapa Senja menghindar darinya.
***
Meeting pun berlangsung lancar. Bumi dan Jefri segera kembali ke perusahaan mereka. Di tengah jalan, Jefri teringat bahwa bosnya itu belum makan apapun dari pagi. Untuk itu, Jefri berusaha menawarkannya.
“Tuan, apa Tuan ingin makan sesuatu dulu sebelum sampai di kantor?” tanya Jefri pada Bumi yang tampak melamun melihat kaca jendela mobil di sampingnya.
“Langsung ke kantor saja,” jawab Bumi dengan singkat.
“Tapi, Tuan belum....”
“Jef.”
“Baik, Tuan,” sahut Jefri dengan patuh. Jefri paham sekali, kalau sudah seperti itu, bosnya tak mau dibantah lagi.
Wajah Bumi yang tadi pagi cerah sebelum pergi meeting ke perusahaan Wijaya, kini kembali dingin seperti sedia kala. Bumi tak bicara sepatah katapun lagi pada Jefri. Ia langsung masuk ke ruangannya dan kembali bekerja seperti biasa.
Detik demi detik berlalu dengan berat bagi Bumi. Di hatinya tersimpan rindu dan kecewa yang menyatu. Tapi semua itu ia pendam rapat-rapat dalam hati. Ia melampiaskan semua kegelisahan di hatinya dengan bekerja sampai malam.
__ADS_1
“Tuan, apa Tuan mau singgah sebentar ke restoran favorit Tuan? Kita bisa makan dulu disana Tuan.” Jefri masih berusaha membujuk Bumi saat di perjalanan pulang ke rumahnya.
Jefri tau, tak ada sesuap nasipun yang masuk ke dalam perut Bumi dari pagi tadi. Bahkan segelas teh hangat yang ada di atas meja kerjanya pun tak tersentuh sama sekali. Jefri jadi khawatir kesehatan tuannya akan terganggu karena tak mau makan apa-apa.
“Langsung ke rumah saja. Aku lelah,” jawab Bumi.
Jefri nampak menghembuskan nafas dengan berat. Ia tak berani lagi membantah tuannya. Eh tunggu, apa tadi yang Bumi katakan? Lelah? Lelah seperti apa yang dia maksud? Bumi tak pernah mengucap kata lelah dalam bekerja.
Saat tiba di rumah, Bumi bukannya makan malah langsung masuk ke kamarnya dan tak keluar lagi dari sana. Keadaan kamarnya sudah kembali rapi. Sudah tak ada lagi tumpukan baju berserak di atas tempat tidurnya seperti tadi pagi. Bumi tersenyum miris mengingat kekonyolannya. Bisa-bisanya ia sibuk memikirkan pakaian padahal kenyataannya bertemu pun tidak dengan yang dinantinya.
Bumi duduk di tepi tempat tidurnya. Lalu ia tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Ya, ia mengeluarkan sapu tangan yang ada tanda bibir Senja disana. Ia pun mulai mencium sapu tangan itu cukup lama sambil memejamkan matanya.
Senja, harum mu masih melekat di sapu tangan ini. Wajahmu masih melekat di kepala ini. Dan cintaku padamu selamanya akan melekat di hati ini. Lirih Bumi dalam hati.
***
"Apa bosmu itu sengaja menghindariku? Aku ini tunangannya," tanya Nesya dengan kesal.
"Maaf, Nona. Tuan Bumi sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa menemui Nona saat ini," jawab Jefri dengan sabar.
"Ini jam makan siang. Masa tidak ada istirahatnya sama sekali," ketus Nesya.
Nesya pun malas berdebat lagi. Akhirnya mau tak mau Nesya terpaksa meninggalkan kantor Bumi dengan perasaan kecewa. Lagi-lagi ia gagal mengajak Bumi makan bersama. Ia sangat kesal. Bumi tidak.pernah memperlakukannya layaknya seorang tunangan pada umumnya.
Nesya pun pergi ke salah satu restoran seorang diri. Ia memutuskan untuk makan di sebuah restoran sebelum kembali ke butiknya. Siapa sangka disana ia bertemu dengan Marcel lalu akhirnya mereka makan di satu meja yang sama.
“Apa butikmu berada di dekat sini?” tanya Marcel pada Nesya yang tengah memilih menu untuk dipesan.
__ADS_1
“Tidak. Agak jauh dari sini. Tadi aku ke kantor tunanganku. Aku mau mengajaknya makan siang, tapi dia malah sibuk bekerja,” jawab Nesya sembari mengeluh.
“Jadi apa tidak apa-apa aku makan satu meja denganmu? Aku merasa tidak enak makan dengan tunangan orang,” tanya Marcel sambil terkekeh.
“Santai saja. Tidak usah berlebihan.”
“Oh ya, ngomong-ngomong kau jarang sekali terlihat di club setelah bertunangan. Apa tunanganmu itu melarangmu?” tanya Marcel penasaran.
“Tidak. Dia tidak melarang. Aku hanya mengurangi kegiatan yang satu itu. Biasalah, aku harus menjaga nama baik dua keluarga sekarang.”
Marcel tertawa kecil mendengar perkataan Nesya. Wanita itu terdengar seperti sudah insaf saja.
“Aku...jadi merindukanmu kalau kau seperti itu,” ucap Marcel sambil mencondongkan badannya ke arah Nesya.
“Kau menginginkanku?” tanya Nesya seolah menantang Marcel bicara lebih jelas lagi.
“Tidak ada salahnya sekali-sekali mencoba apartemenku.” Marcel mulai memberi kode.
Nesya pun tersenyum miring. “Baiklah, kita lihat weekend nanti.”
Marcel pun langsung sumringah mendengar jawaban Nesya. Lumayan weekend nanti dia tidak perlu mencari wanita lagi untuk menuntaskan has-ratnya.
Mereka begitu asik mengobrol seperti itu sampai tak menyadari dari meja sebelahnya ada seseorang yang sudah merekam percakapan mereka. Dengan satu kali klik, rekaman itu langsung sampai ke handphone Jefri.
.
Bersambung...
__ADS_1