
Adrian tak mau mengulur waktu lebih lama. Dia dan istrinya beserta Nesya dan Marcel langsung mendatangi rumah Andika untuk menjadi penengah antara dirinya dan keluarga Dirgantara.
Andika dan keluarganya tentu saja cukup terkejut mendapat kunjungan dadakan seperti itu. Apalagi Senja, ia tak kalah terkejut melihat Marcel yang juga berada di sana. Dalam hati mereka bertanya-tanya, ada apa yang sedang terjadi dengan keluarga Adrian?
“Kedatanganku kesini mau minta tolong pada Mas Andika supaya menjadi penengah antara keluargaku dan keluarga Dirgantara. Nesya...dia...ingin membatalkan pertuangannya dengan Bumi,” ucap Adrian secara jujur.
“Membatalkan pertunangan? Nesya, apa kamu serius tentang hal ini?” tanya Andika sambil melihat ke arah ponakannya itu.
Nesya pun mengangguk. “Iya, Om.” Hanya itu yang ia ucapkan.
“Tapi kenapa? Kau bertengkar dengan Bumi? Atau ada hal lain?” tanya Andika masih penasaran.
Nesya tampak tertunduk diam. Ia malu untuk menjawab yang sebenarnya. Apalagi disana ada Senja. Pasti nanti ayahnya akan membanding-bandingkannya dengan sepupunya itu.
Melihat Nesya hanya diam saja, akhirnya mau tak mau Adrianlah yang menceritakan semuanya. Tak ada yang ditutup-tutupi oleh Adrian. Dia menceritakan semua sesuai dengan apa yang Nesya dan Marcel katakan sebelumnya.
Andika tampak memijit kepalanya yang mendadak terasa pusing. Ia tak menyangka Nesya akan terjebak dalam pergaulan seperti itu padahal selama ini ia tampak seperti wanita anggun dan baik-baik saja. Senja sendiri memang sudah mengetahui kelakuan Nesya, tapi ia tak menyangka ia akan berkata jujur seperti itu. Mungkin ini yang dikatakan Bumi tadi pagi padanya.
“Baiklah. Kalau sudah begini, tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu lagi. Malam ini juga kita atur pertemuan dengan keluarga Dirgantara,” ucap Andika membuat keputusan yang disetujui oleh yang lain.
***
“Aku senang bisa melihatmu lagi malam ini.” Bumi malah mengirim pesan seperti itu pada Senja saat gadis itu datang bersama keluarga besarnya.
Padahal kedatangan keluarga Wijaya untuk membahas pembatalan pertunangannya. Tapi pria itu seolah tidak merasa ada beban sama sekali. Ia justru menantikan hal tersebut.
“Berhentilah menggangguku. Orang tua kita akan membahas hal serius.” Senja membalas pesan itu sambil curi-curi pandang pada Bumi.
“Aku tidak peduli. Aku hanya peduli pada Cherry dan Strawberry.” Balas Bumi lagi yang membuat Senja mendelik ke arahnya. Tapi Bumi malah mengedipkan sebelah matanya pada Senja.
Dasar! Kenapa dia jadi genit sekali? Umpat Senja dalam hati.
__ADS_1
Tuan Dirgantara yang sudah tau maksud tujuan kedatangan keluarga Wijaya datang ke rumahnya memasang wajah serius dari awal. Tak ada senyum ramah yang menghiasi wajah pengusaha terkaya itu sejak awal kedatangan mereka. Apalagi saat melihat ke arah Nesya, ia semakin kesal saja karena tau bagaimana sifat asli wanita yang pernah bertunangan dengan anaknya itu. Kalau saja Bumi tidak memergoki Nesya, sudah pasti dia akan mempunyai menantu yang mempunyai kebiasaan buruk.
Andika selaku penengah membuka pembicaraan di antara mereka. Pria paruh baya yang sangat bijaksana itu mulai menjelaskan kalau Nesya ingin membatalkan pertunangannya karena merasa tidak cocok dengan Bumi dan juga ia sudah memiliki kekasih lain. Tentu saja ia tak bilang kalau Nesya dan Marcel sudah tidur bersama meskipun Tuan Dirgantara sudah tau kebenarannya.
Hingga pada akhirnya kedua keluarga pun mencapai kesepakatan untuk membatalkan pertunangan ini. Dalam hati, Nesya masih tak rela semua akan terjadi seperti ini, ia masih berharap bisa kembali merebut cinta Bumi. Lain halnya dengan Bumi yang sangat senang dengan pembatalan pertunangannya. Tinggal sekarang ia memberi jeda waktu untuk hubungannya pada Senja sebelum ia resmi melamarnya.
Suasana yang tadi tegang antara dua keluarga sekarang sudah mulai mencair lagi. Andika juga meminta agar hal ini tidak membuat hubungan kerjasama antara perusahaan mereka jadi renggang. Tentu saja Tuan Dirgantara menyetujuinya karena disini juga ada salah Bumi yang tak mau jujur pada perasaannya dari awal.
Di tengah obrolan antara keluarga itu, Senja berpamitan untuk pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba di belakang, Bumi mengikutinya dan menariknya ke salah satu lorong rumahnya yang sepi.
“Hei, kau mau apa?” tanya Senja dengan suara tertahan agar yang lain tak mendengarnya.
“Aku mau Cherry dan Strawberry,” jawab Bumi sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Kau sakit mata, ya?” tanya Senja dengan sewot.
“Iya. Kalau melihatmu, mataku mendadak berkedip-kedip terus. Seperti orang kelilipan,” jawab Bumi yang makin membuat Senja jengkel mendengarnya.
“Kau galak sekali, padahal aku hanya merindukanmu saja. Makanya aku menyusulmu,” ucap Bumi.
“Tadi pagi kan kita sudah bertemu. Aku mau ke toilet sekarang," kata Senja yang takut ketahuan yang lain jika mereka sedang berduaan.
“Tadi pagi hanya sebentar. Aku masih rindu,” ucap Bumi dengan manja.
“Bumi, aku kasih tau, ya. Kau tidak cocok merengek seperti anak kecil begitu. Seperti bukan dirimu saja,” ledek Senja sambil terkekeh.
“Kau yang membuat aku seperti ini.”
“Kenapa aku?”
“Karena aku sudah tergila-gila padamu, Senja. Aku sangat mencintaimu. Semenjak aku jatuh cinta padamu. Aku merasa berbeda,” ucap Bumi dengan serius lalu mengusap pipi Senja dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu. Kau kan tau itu,” ucap Senja malu-malu.
Kemudian Bumi meraih kedua tangan Senja dan mencium punggung tangan itu secara bergantian.
“Bersabarlah sebentar, Senja. Pertunanganku dan Nesya sudah resmi dibatalkan. Setelah ini, aku akan benar-benar melamarmu dan membuatmu selalu di sampingku setiap waktu,” ucap Bumi dengan penuh kesungguhan.
Wajah Senja pun merona merah mendengar kesungguhan Bumi. Ia pun mengangguk malu-malu menyetujui perkataan pria yang dicintainya itu.
"Aku mau langsung melamarmu, tapi aku khawatir kau akan dituduh menjadi orang ketiga di antara kami meskipun kenyataannya ini semua karena kesalahan Nesya."
"Iya, aku mengerti. Tidak usah terlalu terburu-buru."
"Tapi aku tidak sabar."
"Tidak sabar apa?"
"Memakan Cherry dan Strawberry setiap hari."
Senja pun mencubit pinggang Bumi. "Kau ini nakal sekali! Sudah, berhenti membahas itu!"
Tiap kali Bumi membahas itu Senja selalu merasa malu. Tapi Bumi malah makin senang menggoda Senja seperti itu.
Mereka yang asik berduaan sampai tak sadar kalau ada Nesya yang sedang mengintip mereka berdua. Nesya yang tadi mengejar Bumi karena ingin bicara berdua pada pria itu langsung membatalkan niatnya saat melihat Bumi menarik Senja. Kedua mata Nesya kini sudah berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit melihat kemesraan Bumi dan Senja.
Pantas saja kau ingin cepat-cepat membatalkan pertunangan kita. Ternyata kau sudah lebih dulu mencintai Senja. Kalian tega tertawa bahagia di atas penderitaanku. Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja? Tidak! Jangan panggil aku Nesya kalau aku membiarkan kalian bahagia begitu saja. Ucap Nesya dalam hati.
Ia pun menyeka airmatanya dengan kasar lalu meninggalkan mereka berdua dengan rasa sakit hati yang menumpuk di dadanya.
.
Bersambung lagi...
__ADS_1