Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
60. Berita di Media


__ADS_3

Bumi sampai di makam ibunya dengan serangkaian bunga di tangan. Ia meletakkan bunga itu di atas makam sang ibu lalu ia pun berjongkok di samping makam itu.


“Ibu...aku merindukanmu,” ucap Bumi dengan lirih.


Bumi tampak menghela nafasnya dengan berat. Rasanya saat ini ada batu besar berada di atas kepalanya hingga membuatnya berat dalam memutuskan sesuatu. Pertunangannya sudah di depan mata, tapi keraguan dalam hatinya malah semakin besar untuk melanjutkan pertunangan ini.


“Ibu...apa ibu sedang melihatku saat ini? Hanya ibu yang paling mengerti perasaanku.”


“Ibu...tolong bantu aku untuk meyakinkan hatiku kalau jalan yang aku pilih ini adalah yang terbaik. Kalau seandainya aku salah memilih, tolong do’akan aku agar masih diberi kesempatan untuk kembali pada Senjaku.”


Bumi membungkuk lalu mencium nisan sang ibu. Hatinya sedikit lega. Paling tidak, ia sudah mengutarakan isi hatinya pada ibunya. Meskipun ia tau ibunya tak ada disana. Tapi semangatnya masih tersisa.


Bumi pun beranjak meninggalkan makam ibunya dan menuju ke parkiran pemakaman. Disana Jefri sudah menunggunya di dalam mobil.


Tapi ada satu hal yang tak disangka terjadi. Tiba-tiba saja ada beberapa rombongan wartawan yang menghampiri Bumi saat ia turun dari area pemakaman. Para wartawan tersebut sibuk mencari berita mengenai kabar pertunangan pengusaha muda terkaya di negeri itu.


“Tuan Muda, benarkah kabar yang beredar kalau Tuan akan bertunangan dengan putri dari keluarga Wijaya?”


“Tuan Bumi, apakah pertunangan ini karena perjodohan untuk memperbesar bisnis keluarga Dirgantara dan keluarga Wijaya?”


“Tuan, dengar-dengar kabar, putri keluarga Wijaya yang akan bertunangan nanti adalah Nona Nesya, benarkah begitu? Mengapa Tuan tidak memilih Nona Senja saja yang sama-sama seorang pebisnis seperti Tuan?”


Begitulah pertanyaan yang dilontarkan para wartawan kepada Bumi. Tapi bukan Bumi namanya kalau dengan mudah bersuara dan menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mulut wartawan itu. Ia tak berniat sedikitpun untuk menjawab semua pertanyaan yang ditujukan padanya.


Melihat Tuan mudanya dikerubungi para wartawan, Jefri dengan cepat membantu Bumi agar bisa melewati para wartawan itu dengan mudah lalu membuka pintu mobil agar Bumi segera masuk ke dalam.


“Tuan, tolong jawab pertanyaan kami.”


“Kami butuh penjelasan, Tuan.”


“Tenang semuanya! Tuan Muda Dirgantara tidak mau memberi pernyataan apapun saat ini. Silahkan tunggu pernyataan resmi dari pihak keluarga Dirgantara nanti,” kata Jefri menjelaskan pada para wartawan.


Setelah itu Jefri pun ikut masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area pemakaman. Para wartawan tampak kecewa karena tidak mendapatkan berita yang mereka inginkan.


“Apa berita pertunangan ini sudah meluas di media?” tanya Bumi di tengah perjalanan.


“Sepertinya begitu, Tuan. Barusan saya mendapat informasi dari pihak keamanan perusahaan, ada beberapa wartawan yang juga menunggu di depan perusahaan untuk mendapatkan berita tentang pertunangan ini,” jawab Jefri yang membuat Bumi menghela nafas dengan berat.


“Aku mau lihat berita hari ini,” ucap Bumi dengan maksud agar Jefri membukakan TV digital yang terpasang pada mobilnya.


“Baik, Tuan.”


Jefri pun mulai membuka TV dan mencari berita tentang kabar pertunangan bosnya itu. Tapi siapa sangka siaran pertama yang keluar adalah liputan beberapa wartawan yang menunggu di depan sebuah minimarket untuk mendapatkan berita dari salah satu keluarga Wijaya yaitu Senja.


“Senja? Itu Senja kan?” tanya Bumi yang terkejut melihat Senja yang muncul sedang berbelanja di sebuah minimarket. Sepertinya wartawan yang menyiarkan secara langsung itu mengambil gambar dari luar dinding kaca minimarket.


“Iya, Tuan. Itu Nona Senja,” jawab Jefri membenarkan.


“Mengapa mereka mengejar Senja? Senja pasti tidak nyaman jika dikejar-kejar oleh para wartawan,” ucap Bumi dengan kesal. Ia tampak begitu mengkhawatirkan Senja saat ini.

__ADS_1


“Mungkin karena Nona Senja juga berasal dari keluarga Wijaya, Tuan.”


“Kalau begitu susul Senja sekarang. Apa kau tau itu minimarketnya di sebelah mana?”


“Sepertinya saya tau, Tuan.”


“Kita susul kesana sekarang. Aku tidak mau Senja sampai kenapa-napa disana.”


“Baik, Tuan.”


Jefri pun menambah kecepatan mobilnya. Ia berusaha untuk segera sampai di tempat Senja berada sekarang.


***


Senja yang sedang berbelanja di minimarket tidak tau menau sama sekali kalau dirinya sudah ditunggu oleh beberapa wartawan di luar. Ia terpaksa singgah di sebuah minimarket sebelum sampai di kantornya untuk membeli sesuatu yang urgent baginya saat itu. Apalagi kalau bukan pembalut wanita.


Saat dalam perjalanan di mobil tadi, Senja merasa ada yang aneh. Ia mengingat-ingat kembali ternyata benar hari ini sudah jadwalnya datang bulan. Oleh karena itu ia terpaksa menepikan mobilnya untuk membeli pembalut dan mencari toilet terdekat.


Senja tak menyangka, begitu keluar dari pintu minimarket, sudah banyak wartawan yang menyerbunya dengan berbagai pertanyaan seputar pertunangan Bumi dan Nesya.


“Nona, apa benar saudara anda akan bertunangan dengan Tuan Muda Dirgantara?”


“Kapan tanggal pastinya mereka akan bertunangan, Nona?”


“Nona, kenapa bukan anda saja yang dijodohkan dengan Tuan Muda Dirgantara? Apa saat ini anda sudah memiliki kekasih?”


Di tengah-tengah kebingungannya itu, tiba-tiba datanglah seseorang yang masuk menerobos kerumunan para wartawan demi menyelamatkan Senja dari sana. Ya, orang itu adalah Bumi Langit Dirgantara.


Bumi segera menghampiri Senja lalu meraih tangannya. Jefri dengan cepat meminta para wartawan mematikan kamera mereka yang sedang mengambil gambar. Ia juga meminta agar tidak ada satupun yang menyiarkan berita itu sampai ada pernyataan resmi dari keluarga Dirgantara. Mendengar itu, para wartawan hanya bisa pasrah menuruti kemauan keluarga Dirgantara daripada harus bermasalah dengan keluarga pengusaha kaya itu.


Bumi terus menarik tangan Senja dan memintanya masuk ke dalam mobilnya. Senja pun hanya diam mengikuti perintah Bumi. Yang penting ia dapat terhindar dari kerumunan para wartawan. Setelah mereka masuk, mobil Bumi pun bergerak meninggalkan minimarket tersebut.


“Mobilku masih disana,” ucap Senja sambil melihat ke belakang.


“Berikan saja kunci mobilmu. Nanti biar orangku yang mengambilnya,” kata Bumi sambil melihat ke arah Senja.


Senja beralih melihat Bumi yang sedang melihatnya. Kedua pasang mata itu kembali bertemu. Ada yang berdesir di hati keduanya. Ada rasa rindu yang sama-sama mereka pendam dalam hati.


“Kau...kehabisan kemeja?” tanya Senja memecah kesunyian di antara mereka. Tak biasanya Senja melihat Bumi berpakaian seperti itu.


“Aku dari makam ibuku,” jawab Bumi.


Senja pun mengangguk. Pasti Bumi meminta restu pada ibunya untuk bertunangan, pikir Senja.


Senja pun menunduk dan terdiam. Ah, kalau mengingat pertunangan Bumi dan Nesya, selalu berhasil membuat hatinya terasa sedih dan pilu.


“Kau tidak tanya kenapa aku bisa tau kau disana?” tanya Bumi pula.


“Tidak. Kau kan dari dulu memang suka datang tiba-tiba,” jawab Senja dengan enteng. Bumi hanya tersenyum mendengar jawaban Senja.

__ADS_1


“Kau beli apa disana?” tanya Bumi lagi sambil melirik tas Senja yang terlihat menggembung karena diisi oleh sesuatu.


“Rahasia. Ini urusan wanita.”


“Kau tidak kenapa-napa kan?” Bumi mulai khawatir.


“Kau ini banyak tanya sekali. Kau biasanya selalu diam. Kenapa sekarang tidak diam saja?”


“Kau kenapa Senja? Apa yang kau beli?”


“Aku bilang ini urusan wanita.”


“Katakan padaku!” Nada Bumi kali ini sudah seperti seorang atasan memerintah bawahan saja sehingga membuat Senja merasa jengah. Padahal Bumi sangat khawatir Senja menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.


“Aku beli pembalut. Sudah? Puas?”


“Pembalut? Kau terluka?” tanya Bumi lagi yang membuat Senja menepuk jidatnya. Sementara Jefri di depan berusaha keras menahan tawanya agar tidak meledak mendengar pembicaraan dua orang itu.


“Kau ini...” gumam Senja dengan geram.


“Makanya sekali-sekali bergaul dengan makhluk lain selain Jefri. Aku beli pembalut karena sedang datang bulan!” jawab Senja setengah berteriak.


“Datang bulan?” ulang Bumi seraya mengerutkan keningnya.


“Ya Tuhan...kau coba googling sendiri sana!” ucap Senja dengan kesal sambil mengalihkan pandangan ke jendela mobil di sampingnya.


Bumi pun segera membuka handphone-nya dan mencari tau apa yang Senja maksud. Matanya terlihat sempat melebar sekejap membaca penjelasan dari internet. Ia paham mengapa Senja begitu sewot padanya saat ditanyai soal itu.


“Maafkan aku,” ucap Bumi sambil mengacak rambut Senja.


Senja menoleh ke arah Bumi lalu mencibirkan bibirnya. “Makanya jangan suka memaksa!”


“Iya. Aku minta maaf,” ucap Bumi lagi.


“Baiklah, lupakan saja.”


“Senja,” panggil Bumi.


“Apa?”


“Nanti sore kita lihat kembaranmu lagi, ya?”


Senja tau maksud Bumi adalah matahari terbenam. Awalnya Senja ingin menolak, tapi karena hari ini Bumi sudah menolongnya, ia pun tak kuasa untuk menolak permintaan Bumi ini. Lagipula ia juga sudah rindu menyaksikan matahari terbenam bersama.


“Baiklah, kita bertemu disana,” jawab Senja yang membuat Bumi mengembangkan senyuman di wajahnya. Senyuman yang jarang sekali terlihat menghiasi wajah Bumi.


Biarlah aku menjadi egois saat ini sebelum Bumi resmi bertunangan dengan Kak Nesya. Lirih Senja dalam hati.


 

__ADS_1


__ADS_2