Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
113. Coffee Shop


__ADS_3

Jefri keluar dari rumah sakit sekitar jam delapan malam. Tadi dia sudah makan malam bersama Andika dan Liliana disana saat Bumi sedang tertidur. Tapi saat ini perutnya terasa lapar kembali. Mungkin karena tadi ia makan tak banyak. Maklum, segan pada Andika dan Liliana.


Akhirnya ia memutuskan untuk membeli roti dan satu cup kopi saja. Ia pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah Coffee Shop bernama “Janji Kita.”


Jefri turun dari mobilnya lalu duduk di salah satu kursi disana. Ia sepertinya akan menikmati kopi sambil duduk disana, tak jadi ia bawa pulang.


“Permisi, Tuan. Mau pesan apa?” tanya salah satu pelayan disana.


“Kopi hitam tanpa gula, tapi nyaman di lambung. Sama sekalian roti yang membuat kenyang tapi tidak kekenyangan,” jawab Jefri yang membuat pelayan itu mengerutkan keningnya.


Pesanan model apa itu? Apa dia tidak bisa membaca menu di depannya? Tanya pelayan itu dalam hati.


“Tuan, Tuan bisa memilih menu yang ada disini, Tuan,” kata pelayan itu sambil menggeser daftar menu yang ada di atas meja pada Jefri.


Jefri yang sedang mengecek pesan masuk di handphone-nya kini mendongak menatap pelayan di depannya. Ia sempat tertegun melihat wajah manis dari gadis yang sedang memegang buku catatan kecil dan pena di tangannya.


Manis juga. Batin Jefri.


Gadis itupun ikut terkesima saat melihat wajah Jefri dengan jelas. Ia tak menyangka pria di depannya ini sangat tampan seperti artis luar negeri baginya.


Dia tampan sekali. Pantas saja menyebalkan. Biasanya yang tampan memang banyak gaya, suka menyebalkan. Tapi tidak masalah, untung ada modal tampan. Umpat gadis itu dalam hati.


Jefri masih menatap wajah gadis itu lalu matanya tertuju pada name tag yang terletak di bagian dada sebelah kiri. Saat membaca nama di name tag itu, mata Jefri langsung membulat sempurna.


Jingga? Namanya Jingga? Tanya Jefri dalam hati.


Gadis bernama Jingga itu dengan cepat menyilangkan tangannya di depan dada saat mata Jefri terlihat membesar memelototi asetnya. Ia mengira Jefri melihat miliknya.


“Tuan, jaga pandangan anda! Disini tempat menjual kopi dan roti, bukan dada!” hardik Jingga.


“Eh, maaf, maaf. Saya tidak bermaksud begitu,” ucap Jefri dengan cepat takut gadis di depannya salah paham.


“Saya hanya terkejut melihat namamu,” sambung Jefri sambil melirik lagi sekilas ke name tag itu lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


Jingga tampak mendengus mendengar jawaban Jefri yang menurutnya mengada-ngada. Memang apa yang salah dengan namanya?


“Kalau Tuan mau memesan kopi, segeralah pesan sesuai menu disini. Jangan pesan yang tidak-tidak!” ucap Jingga setengah kesal.


“Hei, kau jangan kepedean! Aku memang ingin memesan kopi disini, bukan untuk macam-macam. Berikan aku apa yang tadi aku pesan,” kata Jefri yang ikut kesal karena Jingga seolah menuduhnya berbuat macam-macam.

__ADS_1


“Tapi pesanan anda....”


“Buatkan saja apa yang aku minta!” potong Jefri dengan cepat.


Sabar, Jingga. Sabar. Tamu adalah raja. Sabar....ini cobaan saja. Umpat gadis itu dalam hati.


Ia pun pergi dari meja Jefri dan pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan Jefri. Tak lama ia kembali datang dengan pesanan di nampannya.


“Silahkan, Tuan,” ucap Jingga berusaha ramah.


“Hm,” sahut Jefri tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone-nya. Lalu ia mulai meminum kopi dan memakan rotinya.


Jefri asik duduk disana sambil membalas beberapa pesan terkait pekerjaan di perusahaan. Dia harus bekerja lebih keras lagi selama Bumi tidak datang ke perusahaan. Untuk sementara, Tuan Dirgantara dan Dimas yang akan turun tangan memimpin perusahaan Dirgantara.


Tak sadar, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jefri pun baru akan pulang saat Coffee Shop itu sudah mau tutup. Kalau tidak ditegur, mungkin ia tidak sadar dan akan terus duduk disana.


Saat keluar dari sana, ternyata di luar sudah hujan gerimis. Jefri pun segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Gadis bernama Jingga tadi berlarian menyebrang jalan di tengah gerimis menuju ke sebuah halte. Jefri tak sampai hati, ia pun pergi ke halte itu dan menghampiri Jingga.


“Sudah tidak ada bus lagi malam-malam begini,” teriak Jefri dari dalam mobilnya. Ia tak keluar, hanya membuka kaca mobilnya saja.


Eh, itu kan pelanggan menyebalkan tadi? Wah, keren sekali mobilnya. Selain tampan ternyata dia juga kaya. Gumam Jingga dalam hati.


“Kalau pesan ojek online kenapa menunggu di halte gelap begini? Sebaiknya tunggu di depan tempat kerjamu tadi,” ucap Jefri.


“Saya tidak pesan ojek online, menunggu ojek biasa lewat,” kata Jingga sambil memamerkan handphone bututnya yang hanya bisa untuk telepon dan SMS.


Jefri pun menepuk jidatnya. Masih ada ternyata jaman secanggih ini handphone seperti itu.


“Kau tinggal dimana? Biar aku antar malam ini,” tanya Jefri.


“Tidak usah. Saya naik ojek saja. Kita kan tidak kenal. Kalau Tuan menculik saya bagaimana?” jawab Jingga secara terang-terangan.


“Menculik? Apa yang aku ambil darimu? Hp bututmu? Dikasih juga aku tidak mau. Memegangnya saja bisa membuat tanganku alergi. Sudah, jangan jual mahal. Sebentar lagi hujan makin lebat. Ayo ikut, aku tidak akan menculikmu,” ajak Jefri lagi.


Jingga mengerucutkan bibirnya karena kesal Jefri menghina handphone miliknya. Lalu ia menatap langit yang semakin gelap tak berbintang. Gerimis sebentar lagi akan berubah menjadi hujan. Mana ada ojek yang lewat kalau hujan begini. Ia pun kembali melihat Jefri yang masih menunggunya. Akhirnya mau tak mau ia pun menerima tawaran Jefri dengan terpaksa.


“Pasang seat beltmu!” ucap Jefri.


Jingga malah celingukan ke kiri kanan.

__ADS_1


“Sabuk pengamanmu,” ucap Jefri lagi. Mungkin gadis ini tidak mengerti bahasa inggris, pikirnya.


“Tuan meletakannya dimana?” tanya Jingga dengan polosnya.


Jefri pun geleng-geleng kepala dibuatnya. Dia bingung gadis ini turun dari planet mana. Mau tidak mau Jefri pun mendekat dan membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Jingga.


Deg.


Jantung keduanya sama-sama berdegup kencang saat mata mereka saling bertemu dalam jarak yang dekat. Jefri kembali terdiam sejenak. Gadis ini, makin cantik dilihat dari dekat.


Klik.


Sabuk pengaman pun terpasang. Jefri kembali menjauhkan dirinya dan menjalankan mobilnya. Saat mengantar Jingga, dia baru sadar kalau ternyata rumah gadis itu tak jauh dari tempat dimana Tuan Mudanya akan membangun rumah sakit. Jingga tinggal di sebuah rumah kontrakan yang masih satu kawasan dengan rumah Pak Aris.


"Terimakasih sudah mengantar saya, Tuan. Padahal kita tidak saling kenal," ucap Jingga sebelum turun dari mobil.


"Kau tinggal disitu?" tanya Jefri sambil menunjuk sebuah rumah berwarna kuning pucat.


"Bukan, Tuan. Rumah saya masih masuk gang itu lagi, gang di sebelah rumah berwarna kuning pucat itu," tunjuk Jingga.


"Kuning pucat?"


"Iya, kuning pucat. Seperti orang anemia," jawab Jingga sambil terkekeh.


"Ada-ada saja. Ya sudah, pulanglah. Sudah malam."


"Baik, Tuan. Sekali lagi terimakasih, Tuan..... Tuan siapa?"


"Jefri."


"Ah iya, Tuan Jefri."


Jingga pun turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Jefri. Jefri yang seolah terhipnotis malah ikut melambaikan tangannya juga.


Ah, si-al! Kenapa aku harus ikut melambaikan tangan padanya?! Umpat Jefri lalu pergi meninggalkan tempat itu.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2