Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
38. Nesya Bertengkar Dengan Ayahnya


__ADS_3

Plakkk!


Adrian lagi-lagi tak bisa menahan emosinya untuk melayangkan tamparannya. Kali ini yang jadi sasaran adalah anak kandungnya sendiri, Nesya.


“Papa jahat!” teriak Nesya sambil memegang pipinya yang barusan ditampar. Matanya mendadak memanas karena menggenangi airmata yang ditahannya sekuat hati agar tidak jatuh. Ia benci menangis di hadapan ayahnya. Ia tak mau terlihat lemah.


“Aku papamu, aku bertanya baik-baik padamu dari mana saja kau tadi malam, tapi apa jawabanmu?! Sekarang kau bilang aku jahat?!” bentak Adrian.


“Papa memang jahat! Aku malas pulang ke rumah ini juga karena Papa. Aku malas selalu mendengar Papa bertengkar dengan mama. Dan tadi Senja bilang mama sakit? Itu pasti ulah Papa bukan?!” tuding Nesya.


“Jangan ikut campur urusan orang tua!”


“Kalau begitu jangan ikut campur juga urusanku!” balas Nesya tak mau kalah.


“Kalau bukan karena kau akan menjadi menantu keluarga Dirgantara, aku tidak akan peduli padamu! Kau tidak bisa diatur! Tidak bisakah kau mencontoh sepupumu Senja? Bisakah kau bersikap santun sedikit dengan orang tuamu ini?”


“Papa mau aku seperti Senja, apakah Papa sendiri sudah bersikap seperti Om Andika? Pernahkah Om Andika menampar Senja? Senja selalu mendapat kasih sayang orang tuanya. Om Andika dan Tante Lili sangat menyayanginya sampai aku selalu iri pada keluarga mereka. Tapi lihat, bagaimana Papa memperlakukan aku dan mama? Papa lebih sering menghabiskan waktu untuk wanita ja-lang selingkuhan Papa dari pada kami! Aku benci Papa! Aku benci!” teriak Nesya diiringi isak tangisnya.


“Terserah apa katamu, yang jelas jangan sampai perbuatanmu di luar sana mencoreng nama baik keluarga!”


Adrian lalu pergi melangkahkan kakinya keluar rumah setelah mengatakan itu. Sementara Nesya, ia menyeka air matanya dengan kasar. Menurutnya ayahnya sangat egois karena tidak memikirkan perasaannya. Dia jadi seperti itu semua karena ayahnya. Jika ayahnya tidak menikahi mantan sekretarisnya, mungkin Nesya masih seperti dulu, anak baik yang menurut pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Nesya melangkahkan kakinya ke atas, bukan ke kamarnya, tapi ke kamar orang tuanya. Nesya masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tari yang tadi sedang berbaring di pinggir ranjang sambil menangis, langsung cepat-cepat menyeka airmatanya dan duduk di tepi ranjang.


Meskipun Tari mencoba menyembunyikan airmatanya, tapi mata yang telah sembab dan memerah itu tidak dapat berbohong. Nesya langsung mendekati ibunya dan memeluknya.


“Ma, sudahlah jangan menangis lagi. Aku tau ini pasti ulah Papa.” Nesya berusaha menenangkan ibunya.


Tari melerai pelukan itu. Ia dapat melihat dengan jelas pipi Nesya yang merah sebelah.


“Apa papamu menamparmu? Mama mendengar suara kalian bertengkar di bawah,” tanya Tari.


“Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan papa. Aku benci papa yang sekarang. Makanya aku malas pulang ke rumah ini kalau hanya untuk bertengkar,” jawab Nesya dengan kesal.


“Jangan membencinya, dia tetap papamu." Tari berusaha membujuk Nesya.


“Apa papamu marah karena kau tidak pulang?”


“Sudah aku bilang, aku malas pulang ke rumah ini, Ma. Aku lebih baik tinggal di apartemen saja.”


“Sayang, sebentar lagi keluarga kita dan keluarga Dirgantara akan berunding lagi masalah perjodohan dirimu dan Bumi. Jangan sampai kau melakukan kesalahan di luar sana atau mencoreng nama baik keluarga. Mama tau kau sering ke club malam bersama teman-temanmu. Tapi Mama harap kau bisa mengurangi kegiatanmu itu.”


Nesya menarik nafas dalam-dalam. Ia jengah selalu saja diminta menjaga nama baik keluarganya. Untung saja tidak ada satupun keluarganya yang tau seberapa bebasnya pergaulan Nesya di luar.

__ADS_1


“Baiklah. Tapi aku rasa beberapa hari ke depan aku mau menginap di apartemenku dulu. Aku mau menenangkan diri.”


“Jangan lama-lama, tiga hari saja. Papamu akan pergi selama tiga hari, jadi kau bisa menginap di apartemen mu kalau kau mau.”


“Baiklah, Ma. Mama jaga diri baik-baik, ya. Aku janji akan membawa Mama pergi tinggal bersamaku setelah aku menikah dengan Bumi.”


“Semoga perjodohanmu dengan Bumi berjalan lancar.”


Nesya mengangguk lalu kembali memeluk ibunya lagi.


 


***


Setelah keluar dari kamar orang tuanya, Nesya masuk ke dalam kamarnya. Ia nampak mengemas beberapa pakaiannya ke dalam koper kecil. Kemudian ia mengambil handphone-nya dan menelepon seseorang.


“Hallo, bisakah kau menemaniku beberapa hari ini di apartemenku?”


 


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2