
Malam itu Dimas akhirnya ikut makan malam bersama keluarga Senja. Kebetulan ayah Senja juga sudah pulang ke rumah, jadi mereka makan bersama di satu meja.
“Tante senang sekali kau mau ikut makan disini. Sering-seringlah main kesini jika kau punya waktu luang,” ucap ibu Senja dengan ramah. Sementara anaknya sudah jengah dengan perlakuan ibunya pada Dimas yang menurutnya berlebihan.
“Terimakasih, Tante. Kalau ada waktu luang, saya akan main-main lagi kesini,” jawab Dimas dengan ramah.
Tuan Andika hanya tersenyum melihat bergantian ke arah Dimas dan anaknya. Dia tau, Senja tidak nyaman dengan keberadaan Dimas disana. Bukan berarti dia tidak suka pada Dimas, tapi ibunya terlalu ketara sekali ingin menjodohkan mereka berdua.
“Bagaimana masakan Tante? Kau suka tidak?” tanya Liliana lagi.
“Suka sekali, Tante. Sangat enak,” jawab Dimas yang memang merasa makanan yang dimakannya sangat pas di lidah.
“Syukurlah kalau kau suka. Tante memang hobi memasak. Senja juga bisa memasak seperti Tante lho. Hanya saja belakangan ini dia sibuk dengan pekerjaannya jadi jarang masak sama Tante.” Liliana mulai mempromosikan anak gadisnya yang sudah sempurna di mata Dimas.
“Oh ya, jadi kau pintar memasak juga?” tanya Dimas pada Senja yang duduk di sebelahnya.
“Tidak begitu pintar. Hanya bisa saja. Kau bisa memasak?” Senja balik bertanya.
“Aku tidak bisa memasak. Bahkan aku tidak pernah memasak sekalipun. Tapi ibuku pintar memasak sama seperti Tante Lili. Selain ibu, kak Bumi juga bisa memasak. Aku tidak menyangka pengusaha yang sibuk seperti dia mahir di dapur,” jawab Dimas yang menarik perhatian Senja.
__ADS_1
“Dia bisa masak?” Senja seperti tak percaya.
Dimas mengangguk. “Dia bisa memasak. Tapi hanya untuk dirinya sendiri. Katanya dulu waktu sekolah di luar negeri, dia lebih senang mengurus kebutuhannya sendiri termasuk memasak untuk dirinya sendiri. Dia memang sosok yang nyaris sempurna,” jawab Dimas lagi.
Dia memang sempurna. Senja membenarkan dalam hati.
“Tidak masalah kau tidak bisa memasak. Senja kan bisa masak. Terkadang konsep jodoh itu memang tepat. Yang bisa masak berjodoh dengan yang tidak bisa masak, jadinya mereka bisa saling melengkapi,” sela Liliana.
“Maksud Mama?” tanya Senja bingung.
“Bumi kan bisa memasak, jodohnya si Nesya yang ke dapur pun jarang. Cocok bukan? Nanti setelah menikah Bumi bisa mengajari Nesya bagaimana cara memasak di dapur. Dimas tidak bisa masak tidak masalah, ada Senja yang bisa memasak setiap hari,” jawab Liliana.
Raut wajah Senja seketika berubah. Kata-kata Bumi adalah jodoh Nesya selalu terasa menyesakkan dadanya. Ia seperti ingin menentang perkataan itu, tapi bagaimana bisa jika memang itulah kenyataannya saat ini.
***
Acara makan malam itu pun selesai. Sekarang Tuan Andika dan istrinya sedang berbaring di kamar sambil mengobrol hal-hal kecil. Itu adalah satu hal yang sering dilakukan pasangan suami istri itu, mengobrol sebelum tidur malam. Dengan begitu, komunikasi yang baik antara mereka tetap terjaga, sehingga rumah tangga mereka selalu harmonis.
“Sayang, menurutmu bagaimana kalau kita menjodohkan Senja dengan Dimas saja? Dimas anak yang baik dan sopan. Dia juga berasal dari keluarga Dirgantara,” kata Liliana.
__ADS_1
“Senja masih muda. Biarkan dia menentukan pria mana yang akan menjadi pendampingnya,” jawab Andika sambil mengusap rambut istrinya yang bersandar di dadanya.
“Tapi Sayang, tidak ada salahnya kita mendekatkan mereka. Bumi dan Nesya saja dari kecil sudah dijodohkan,” kata Liliana lagi.
“Sayang, jangan jadikan orang lain sebagai patokan hidup kita. Senja dan Nesya itu dua kepribadian yang berbeda. Senja tidak akan suka dijodoh-jodohkan begitu.” Andika tau betul bagaimana sifat putrinya. Senja selalu memilih sesuatu sesuai keinginan hatinya bukan karena paksaan dari yang lain.
“Ya...semoga saja Senja berjodoh dengan Dimas. Aku bukan mau memaksa Senja, tapi anak kita itu kalau tidak diarahkan, nanti dia nikahnya lama.”
“Sayang, Senja masih sangat muda. Sudahlah, biar saja dia berkarir dulu.”
“Baiklah, Tuan Andika. Kau selalu membela anakmu.”
“Bukan begitu, Sayang. Makin kita paksa, Senja tidak akan suka. Justru yang aku khawatir Senja malah tidak suka juga pada Dimas kalau kau terlalu sering menjodoh-jodohkannya.”
Liliana berpikir sejenak. Sepertinya suaminya itu ada benarnya juga.
“Baiklah, aku tidak akan memaksakan lagi,” ucap Liliana setuju.
“Ya sudah, sekarang kita tidur. Sudah malam.”
__ADS_1
Liliana pun membetulkan posisi kepalanya dana terlelap di lengan suaminya. Sementara Andika belum ikut tertidur, ia masih mengingat-ingat raut wajah Senja saat di meja makan tadi.
Apa mungkin ada sesuatu antara Senja dan Bumi yang tidak aku ketahui? Kenapa sepertinya Senja cemburu kalau Bumi dengan Nesya?