
cekat napasnya tertahan dan mulutnya terbuka, rasa tak percaya dengan apa yang ia dapati beberapa detik lalu membuatnya terpaku. Ia masih menggenggam benda tipis berbentuk persegi panjang itu dengan sedikit gemetar.
Wira menggeser posisinya agak mendekat ketika mendengar suara teriakan istrinya yang tiba-tiba. "Ada apa?" tanyanya mengusap bahu polos sang istri.
Via menoleh dan menatapnya dengan kesal. Netranya yang tadi sayu akibat kelelahan pun kini membulat. Bibirnya yang mengerucut lucu membuat Wira semakin dipenuhi tanda tanya.
"Lihat ini, Mas!" Ia menyodorkan ponsel milik suaminya yang layarnya masih menyala.
Dengan cepat Wira meraih ponselnya dan menatap pada layar ponsel. Ia membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Akan tetapi, bukannya ikut kesal seperti yang diharapkan sang istri, Wira malah tersenyum senang, lalu beberapa detik kemudian, gelak tawa mulai terdengar memecah kesunyian malam itu.
"Kenapa Mas malah tertawa seperti itu? Aku kan sedang kesal." Via menepuk dada suaminya dengan sedikit keras.
"Ampun, Sayang ..." Gelak tawa Wira belum juga mereda. Akan tetapi, ia berusaha meredamnya, saat mendapati wajah istrinya yang merengut. Wira terus mengulum bibirnya sendiri, berharap rasa geli yang berpusat di perutnya cepat mereda.
"Mas Wira menyebalkan!"
Wira meraih tubuh Via dan memeluknya. Ia kecup kening sang istri dengan sayang, lalu menyandarkan kepala wanita itu di dada polosnya. "Pantas kau menyerang dengan ganas, ternyata ulah Willy. Aku yakin minuman kita tertukar."
"Jangan ingatkan! Aku malu!" Ia mengingat lagi kelakuannya tadi, yang begitu gila menjamah tubuh sang suami yang baginya sangat seksi malam itu. Dan hal itu saja sudah membuat wajahnya merona merah.
Tangan Wira kini membelai lembut pucuk kepala istrinya, berharap kekesalan wanita itu mereda. "Ya sudah, tidak usah kesal. Aku sangat suka, yang tadi itu baru hot namanya." Wira membenamkan bibirnya di setiap bagian wajah istrinya itu. Kening, mata, pipi, dan bibir. "Menyenangkan suami di tempat tidur itu pahala, Sayang."
Via mengangguk pelan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Wira. Ia memejamkan mata saat menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh suaminya itu. Seakan ingin menikmati lebih banyak waktu bersama, Via begitu terhanyut oleh belaian tangan nakal itu, yang sepertinya sengaja menjelajahi kebun mengkudunya. Sedangkan Via mengusap beberapa bagian tubuh kekar itu, hingga merasa terpancing kembali.
Antara kesal dan malu, Via berbisik, "aku mau lagi, Mas ..."
Tentu saja bisikan itu membuat Wira senang bukan kepalang. Ia bahkan berencana untuk sering-sering meminta pil setan dari teman laknatnya itu.
Ada gunanya juga punya teman laknat seperti Willy. ucap Wira dalam batin.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵
__ADS_1
Deringan alarm yang terdengar nyaring membuat Via mulai terjaga dari tidurnya. Alisnya mengerut, dengan bulu mata yang bergerak-gerak, pertanda wanita itu akan segera terbangun dari tidurnya, setelah menjalani aktivitas malam yang sangat melelahkan.
Tubuhnya menggeliat, ia memindahkan tangan Wira yang masih melingkar di atas perutnya. Diraihnya ponsel yang berada di atas meja nakas, lalu mematikan alarm yang sejak tadi terus berbunyi.
Via pun segera bangkit dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
**
"Mas Wira, Bangun ..." bisik Via di telinga sang suami. Kini ia telah selesai berganti pakaian, namun Wira belum juga terbangun. Wanita itu pun segera menghampiri suaminya yang masih tertidur pulas. "Mas ..."
"Emmhh ..." Wira berdehem, namun kelopak matanya belum juga terbuka.
"Bangun, Mas ... Kita harus cepat pulang."
Masih dengan mata terpejam, laki-laki itu mengusap wajahnya, lalu perlahan membuka mata. "Jam berapa sekarang?"
"Jam lima pagi, Mas. Ayo cepat bangun, kita kan harus cepat kembali." Melawan rasa malas, Wira akhirnya bangkit dari pembaringan.
🌵🌵🌵🌵🌵
Mentari mulai menyapa alam dengan sinar terangnya yang hangat. Kata orang, setiap pagi adalah awal yang baru. Semangat, harapan dan berkah yang baru.
Pagi itu, Via baru saja tiba di rumah. Kedatangannya langsung disambut oleh baby Gael yang kini sudah berusia hampir tujuh bulan. Bayi kecil itu sudah mulai dapat mengenali beberapa orang. Terlihat dari bahasa tubuhnya yang langsung mengulurkan tangan meminta digendong, saat mendapati bundanya yang baru datang.
Via meraih tubuh mungil itu, mengecup wajahnya beberapa kali. "Anak bunda tidak rewel kan, semalam?"
"Tidak. Dia tidur nyenyak semalam," jawab seorang pengasuh Gael.
Setelah bermain-main sebentar dengan si kecil Gael, Via mendudukkan kembali bayi mungil itu di baby walker- nya. "Bibi, titip Gael, ya ... Aku mau ke kamar atas."
Dengan penuh semangat, wanita itu mengayunkan kakinya menjejaki anak tangga satu per satu. Tiba di depan pintu sebuah kamar, ia memutar gagang perlahan.
__ADS_1
Senyum cerah tak pernah lepas dari wajahnya, saat memasuki sebuah kamar dengan chat pink. Ia menarik tirai, sehingga cahaya matahari mulai menembus ke ruangan itu. Dan setelahnya, ia berjalan menuju pembaringan, dimana selimut tebal masih membalut tubuh seseorang yang masih tertidur pulas.
Ia menyingkap selimut, sehingga tampaklah wajah menggemaskan, yang kini mengerutkan kelopak mata saat merasakan silaunya cahaya matahari. Seperti biasa, Via akan membisikkan salam, lalu mengecup kening untuk membangunkannya.
"Selamat pagi, Sayang ..."
"Bundaaa." Terdengar panggilan manja yang selalu membuat Via merasa bahagia saat mendengarnya.
"Bangun, Sayang ... Ini kan hari pertama Lyla sekolah. Nanti terlambat." Ia menarik selimut, hingga tubuh gadis mungil itu tak tertutupi lagi.
Lyla membuka mata perlahan, ia menyambut bundanya dengan senyum cerah. Kedua tangannya terulur, pertanda sedang meminta dipeluk oleh bundanya itu. Via pun meraih tubuhnya, dan membawa ke pangkuannya. Wanita itu pun memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda, nanti sekolahnya temani Lyla, ya ..."
"Iya, Sayang. Bunda temani hari ini."
Lyla, seorang gadis kecil yang begitu tangguh, dinyatakan sembuh dari kanker darah setelah menjalani berbagai pengobatan. Enam bulan lalu, setelah sempat koma beberapa hari, ia tersadar, dan akhirnya dapat dilakukan transplantasi sel induk dari pendonor adiknya. Perjuangan tidak mudah ia lalui sejak usia satu tahun akhirnya berbuah manis.
Kini, ia tak lagi menyandang status penderita kanker. Lyla dapat menjalani hidup seperti anak sehat lainnya. Bermain tanpa takut lelah, berlarian kesana-kemari dengan bebasnya. Walaupun sang bunda kadang masih sedikit membatasi.
"Sama Dede Gael ya, Bunda."
"Iya, Sayang ... Sekarang mandi dulu, trus sarapan, lalu berangkat ke sekolah."
Rasanya kebahagiaan Via telah lengkap. Kesembuhan Lyla adalah sebuah anugerah yang teramat besar. Setelah memandikan, ia memakaikan seragam sekolah. Senyum bahagia pun tak lepas dari wajah keduanya.
"Wah, cantiknya anak bunda ..." ucap Via sesaat setelah selesai memakaikan Seragam berwarna biru itu.
"Ayo, Bunda ... Lyla mau sekolah!" Ia melompat dengan kegirangan, lalu memeluk bundanya.
🌵🌵🌵🌵🌵
__ADS_1
Hayo, siapa yang merasa kena prank sama Lyla???? 😂😂😂