Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Extra Part Lebaran -- (Bersolo Karier itu Apa?")


__ADS_3

Halo, aku Chicha, mewakili segenap warga sesat kolom langit mengucapkan MINAL AIDIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


Maafin jika aku pernah khilaf dan atau ada kata yang menyakiti, baik yang disengaja maupun tidak sengaja.


Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah. 🤗🤗🤗🤗


🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Tepuk tangan meriah menggema di dalam ruangan itu bersamaan dengan sorakan dan bunyi siulan yang mewakili pujian atas penampilan menggemaskan anak-anak. Lyla menuruni panggung dengan berlari penuh semangat ke arah bundanya. Tongkat peri yang di genggamannya ia lepas begitu saja terjatuh di lantai panggung.


Via merentangkan tangan menyambut Lyla dengan wajah yang berbinar, memeluknya dengan erat dan membisikkan kata selamat di telinga gadis kecil itu. Setelahnya, Lyla memeluk satu-persatu anggota keluarga yang menyempatkan hadir hari itu.


Tidak seperti yang lain, yang menunjukkan ekspresi bahagia, Shera malah terlihat memucat dengan keringat yang perlahan menetes di pelipisnya. Wajahnya tersamar menahan sesuatu, kadang ia mengerutkan dahi sambil memejamkan mata, menahan rasa sakit yang berpusat di perutnya. Namun rupanya belum ada yang menyadari ekspresi wajah itu. Semua perhatian masih tertuju pada si kecil Lyla. Tidak ingin merusak suasana, maka Shera memilih diam.


Kenapa sakitnya terasa semakin menjadi-jadi?


Semakin tidak dapat menahan, ia melirik ke arah suami yang sedang duduk di sisinya, tangannya terulur menarik lengan kemeja yang digulung sampai batas sikut, kemudian berbisik, “Mas …” Namun, ucapannya tertahan saat melirik beberapa orang lain, tidak ingin membuat panik.


“Ada apa?” Surya balas berbisik, ia mulai memperhatikan raut wajah Shera yang meringis. “Kenapa wajahmu pucat begitu?”


“Perutku sangat sakit.”


“Apa?” Surya setengah berteriak, membuat semua mata tertuju padanya.


Wajah Shera yang semakin memucat membuat suasana panik tercipta. Tuan Gunawan pun berdiri dan menghampiri. Raut keceriaan yang tadi menghiasi wajah sebagian orang perlahan meredup, seiring dengan mulai berkurangnya kesadaran shera akibat tidak dapat lagi menahan sakit.


“Ada apa, Nak?” tanya pria paruh baya itu.


“Dia bilang perutnya sakit.” Surya segera menjawab sebab Shera tak kuasa lagi untuk menjawab.


Via menurunkan Lyla yang masih duduk di pangkuannya, dan mendekat pada Shera. “Apa Mbak Shera mengalami kontraksi?”


Dahi Surya mengerut mendengar pertanyaan dari Via. Panik membuatnya tidak bisa berpikir jernih, sehingga ucapan orang-orang tidak dapat ia cerna dengan baik. “Kontraksi itu apa?”

__ADS_1


“Itu yang dialami wanita saat akan melahirkan, bodoh!” celetuk Wira secara spontan, membuat tatapan mengintimidasi Tuan Gunawan terarah padanya. Menyadari itu, Wira mengulum bibirnya. “Maaf, Ayah …”


“Tapi bukankah belum waktunya?” Ia menatap pria paruh baya yang telah ia anggap bagai ayahnya sendiri. “Jadwal operasi Shera masih minggu depan,” Walaupun panik, ia masih dapat mengingat dengan baik tanggal operasi Caesar yang akan dijalani sang istri.


Melihat kepanikan Surya, Tuan Gunawan mencoba menenangkan. “Cobalah untuk tenang dan jangan panik. Sekarang kita bawa Shera ke rumah sakit. Dan Wira, kau hubungi Dokter Willy.”


“Baik, Ayah …”


Tanpa menunggu lagi, mereka akhirnya membawa Shera ke rumah sakit, sementara Via membawa ibu dan kedua anaknya untuk pulang ke rumah.


*******


Surya duduk menunggu di depan sebuah ruangan dengan menopang kepala pertanda laki-laki itu sedang dalam keadaan frustrasi. Pertama kalinya mengalami situasi seperti ini membuat dirinya yang selama ini terlihat kaku dan penuh wibawa -- dengan pembawaannya yang selalu tampak tenang. Namun berbeda dengan hari ini, saat melihat wajah pucat Shera berikut darah yang menempel di belakang pakaiannya, menegaskan bahwa Surya si kaku juga manusia biasa.


“Tenanglah, jangan panik.” Tepukan pemberi semangat Wira mendarat di bahunya.


Surya menarik napas dalam dan menghembusnya pelan-pelan. Ia mencoba menetralkan perasaan berkecamuk yang entah mengapa sangat sulit dihilangkan. Beruntung ada Wira dan Marchel yang kini duduk di sisinya.


“Apa kalian juga dulu sepanik ini?” tanya Surya tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu kaca di depannya.


“Aku rasa tidak ada suami yang bisa tenang saat istrinya menjalani persalinan. Walau pun aku terbiasa dengan hal semacam ini, tapi tetap saja aku khawatir saat istriku menjalani operasi.”


Tidak lama berselang, Dokter Willy keluar dari ruangan itu dengan senyum tipis, seolah melalui senyum itu, ia ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Surya bangkit dan langsung menghampirinya.


“Bagaimana Shera?”


Dokter Willy menepuk bahu Surya. “Shera harus segera dioperasi, dia kehilangan banyak darah. Tapi jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.”


Ucapan Willy tidak serta merta membuat Surya lebih tenang. Ia masih terlihat sangat panik, bahkan sedikit memucat. “Wil, tolong lakukan yang terbaik untuknya.”


“Itu pasti.”


****************

__ADS_1


Satu jam telah berlalu sejak Shera masuk ke dalam ruang operasi. Harap-harap cemas Surya menanti kelahiran anak pertamanya. Berbeda hal dengan dua makhluk absurd di sisinya yang malah asik membicarakan tentang aplikasi tik tok. Ya, Wira masih sangat penasaran tentang apa yang membuat Marchel rela melakukan Gerakan yang baginya cukup menggelikan hanya demi menyenangkan anak gadisnya.


“Chella itu senang bereksperimen. Dia suka melakukan hal-hal baru. Pertama kalinya diajak main tik tok aku juga bingung setengah mati. Entah bagaimana cara menolaknya,” terang Marchel. “Kau tahu kan, seperti apa ibunya kalau mendengar anaknya menangis, aku bisa digantung di kamar mandi.”


“Haa digantung?” Wira menganga tak percaya mendengar ucapan marchel. Sebucin itukah Marchel pada Sheila sampai takut digantung. “Kau setakut itu pada istrimu?”


Marchel melirik Wira dengan ekor matanya, pertanda kesal sebab otak polos cenderung bodoh milik sahabatnya itu benar-benar kurang bisa mencerna bahasa kode.


“Bukan digantung dalam artian sebenarnya, bodoh!” gerutu Marchel. “Digantung di kamar mandi itu tidak enak. Jangan bilang kau tidak pernah bersolo karier di kamar mandi! Itu rasanya menyakitkan tahu …”


“Bersolo karier di kamar mandi?” Otak Wira traveling namun bukan pada tempatnya. “Maksudmu bernyanyi di kamar mandi?”


Jika saja bukan karena suasana tegang yang sedang terjadi, Marchel dan Surya pasti sudah mem-bully Wira habis-habisan seperti yang mereka lakukan selama ini. Harus diakui, di tengah kepanikan, Surya merasa ada sedikit hiburan gratis dari kebodohan Wira. Yang tadi begitu seru membicarakan video tik tok milik Marchel, hingga bermain sabun di kamar mandi.


“Bersolo karier di kamar mandi artinya menghabiskan busa sabun yang akhirnya juga akan membuatmu dimarahi istrimu,” ucap Surya.


“Kalian ini tidak nyambung. Ada hubungan apa bersolo karier di kamar mandi dengan menghabiskan busa sabun?”


Marchel akhirnya berdecak heran, “Sekarang aku mengerti maksud Einstein bahwa perbedaan antara jenius dan bodoh itu hanya pada kejeniusan yang ada batasnya, sedangkan kebodohan tidak terbatas.”


Surya mengangguk tanda setuju, sambil sesekali memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Antara terhibur dan kesal akibat tingkah absurd Wira.


“Jadi maksudmu aku bodoh begitu?” Wira mulai tersulut emosi.


“Kalau kau pintar, kau pasti mengerti ada simbiosis apa antara solo karier dengan busa sabun,” imbuh Marchel dengan nada santai. Kini ia menyandarkan punggung di kursi.


Wira melirik Surya seolah meminta jawaban. Namun yang ditatap hanya menjawab dengan mengangkat bahu, pertanda ia tidak sanggup menjelaskan pada Wira. Sementara Marchel menarik napas dalam, lalu menatap Wira dengan penuh ejekan, ia bahkan melirik ke celana Wira, tempat pohon kaktusnya berada.


“Bersolo karier di kamar mandi artinya kau baru saja membuang 300juta sel calon anakmu di dalam kamar mandi, dan untuk itu kau membutuhkan bantuan busa sabun.” Sungguh sebuah penjelasan tidak berakhlak yang membuat otak Wira traveling kemana-mana. Untung saja bukan Willy yang menjelaskan. Karena Wira mungkin bisa gila jika si mesum Willy yang menjelaskan.


*****


...like...

__ADS_1


...komen...


__ADS_2