
Via masih tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Sepanjang jalan menuju pulang, senyum bahagia hampir tak pernah memudar dari wajah cantiknya. Kini Lyla kecilnya telah memiliki harapan besar untuk sembuh. Perjuangan merawatnya selama divonis mengidap penyakit mematikan itu bukanlah sesuatu yang mudah.
Wira meraih jemari sang istri, menggenggamnya dengan erat, lalu mencium punggung tangannya. "Senang ya?" sekilas Wira menoleh pada Via, lalu kembali terfokus pada jalan di depannya.
"Aku sangat bahagia, Mas," ucap Via sambil mengusap setitik air mata.
"Aku bisa melihatnya, Sayang!"
"Lyla ku akan sembuh, Mas. Dia akan bermain seperti anak sehat lainnya. Dia akan berlarian kesana- kemari tanpa takut lelah. Dia akan bersekolah dan ikut les menari balet. Dan aku akan menjadi ibu paling bahagia di dunia." Wajah Via begitu berbinar saat mengucapkan kalimat itu, mengingat selama ini begitu membatasi Lyla dalam bermain agar jangan sampai kelelahan. Sebab, kelelahan akan membuat gadis kecil itu mudah sakit.
Wira mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala sang istri. "Kau adalah ibu paling sempurna di dunia," ujarnya dengan tatapan penuh cinta.
Via hanya menyahut dengan senyum. Baginya tak ada kebahagiaan yang lebih dari pada sekarang. Rasanya wanita itu tak sabar untuk segera tiba di rumah dan memeluk putri kecil kesayangannya.
"Mas, cepat sedikit," ucapnya seolah tak sabar. "Aku ingin segera memeluk Lyla dan memberitahunya kejutan ini. Dia pasti akan sangat senang kalau tahu, bahwa dia akan segera sembuh."
Kembali tersenyum, sesekali Wira melirik Via yang baginya sangat menggemaskan. Belum pernah sebelumnya wanita itu menunjukkan ekspresi kebahagiaan seperti sekarang. Bahkan terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
Dan hal sesederhana itu saja mampu membuat Wira merasa semakin mencintai istrinya itu.
Tak lama berselang, mereka telah tiba di rumah. Saat mobil terhenti, Via segera turun dan berjalan menuju pintu. Sementara Wira yang mengekor di belakangnya hanya tersenyum memperhatikan gerak-gerik sang istri.
****
"Kalian sudah pulang?" tanya ibu sesaat setelah membalas salam dari Via dan Wira. Wanita itu sedang duduk di ruang keluarga. Menonton acara tv sambil menjaga Gael.
"Iya, Bu," jawab Via.
Melihat raut kebahagiaan dari anak dan menantunya, wanita paruh baya itu telah menebak jika Via dan Wira membawa kabar bahagia. Ia membaringkan si kecil Gael yang sejak tadi tertidur di pangkuannya, ke sofa yang telah beralas sebuah selimut kecil dan meletakkan bantal di sisinya. Ia kemudian menatap penuh harap kepada Via dan Wira yang masih berdiri di hadapannya.
"Bagaimana hasil tesnya? Apakah cocok?" tanya wanita itu.
Via segera menjawab dengan anggukan, dengan senyum bercampur air mata, yang membuat sang mertua segera berdiri dan memeluknya.
__ADS_1
"Bu, anakku akan segera sembuh," ucapnya tanpa melepas pelukan. "Dokter bilang, Gael memiliki antigen yang cocok dengan Lyla. Jadi bisa dilakukan operasi pencangkokan. Lyla akan sembuh, Bu ..."
Ibu pun sangat bahagia mendengar kabar itu. Ia melepas pelukan dan mengecup kening sang menantu. "Terima kasih, Nak. Kau membawa begitu banyak berkah ke dalam keluarga ini." Ia kembali memeluk Via bersamaan dengan Wira.
Beberapa saat kemudian, pelukan hangat itu terlepas. Via mengedarkan pandangannya kesana-kemari, mencari sosok Lyla yang sangat ingin dipeluknya.
"Bu, dimana Lyla?"
"Lyla sedang tidur di kamarnya. Tadi siang dia habis memberi makan ikan di taman belakang, lalu bermain sebentar. Setelah itu katanya sangat lelah, jadi bibi membawanya ke kamar untuk istirahat." Ibu melirik arah jarum jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Alisnya mengerut, sebab tidak biasanya Lyla tertidur di siang hari selama itu. "Sudah agak lama juga, biasanya Lyla hanya tidur sebentar di siang hari."
"Baiklah ... Aku mau mandi dulu, lalu melihatnya, Bu." Via berjalan menuju Gael dan mengecup wajahnya sekilas, lalu segera beranjak menuju lantai atas dengan riang gembira. Bahkan langkahnya masih terlihat sedikit lemah pasca persalinan tiga minggu lalu. Namun, tak menyurutkan semangatnya.
Sementara Wira hanya tersenyum tipis, matanya mengikuti kemana langkah sang istri. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sang ibu. "Bu, lihat, betapa lembutnya hati istriku. Lyla bukan anak kandungnya, tapi aku merasa dia mencintai Lyla lebih dari anak yang lahir dari rahimnya."
"Tentu saja tidak begitu, Nak. Via mencintai Lyla dan Gael dengan cara yang sama. Hanya saja kondisi Lyla membuatnya terlihat lebih memperhatikan Lyla."
Dia memang seorang istri dan ibu yang sempurna. Karena nya aku beruntung memilikinya. ucap Wira dalam batin.
"Bagaimana dengan jagoan kecil ini? Ayo bangun, Nak ... Kita main dulu sebentar." Dengan gemas, ia kecup setiap bagian wajah bayi kecil itu. Gael yang tertidur pulas pun mulai menggeliat, merentangkan kaki dan tangannya, seolah tak nyaman dengan gangguan sang ayah. Dan, hanya dalam hitungan detik, sudah terdengar tangisan kecil.
"Wira jangan membangunkannya, dia baru saja tidur!" seru ibu seolah tak terima cucunya diganggu, bahkan matanya sudah melotot menatap Wira.
Menyadari tatapan tak ramah itu, Wira hanya dapat tersenyum pelik. "Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud mengganggunya."
Sedikit kesal, ibu segera duduk di samping Wira sambil menyodorkan botol susu milik Gael. "Cepat berikan ini pada Gael!"
"Iya, Bu." Wira meraih botol susu dan segera memasukkan ujungnya ke mulut bayi itu dengan tergesa-gesa, membuat ibu memelototkan matanya kembali. Bahkan Wira terlihat belum mengerti betul cara memperlakukan bayi baru lahir.
"Pelan sedikit, Wira! Awas kalau Gael sampai tersedak susu," ucap ibu dengan nada penuh ancaman.
"Iya, Bu. Ampun ... Aku merasa ibu lebih galak dari ayah."
"Biar saja!"
__ADS_1
******
Selepas mandi dan berganti pakaian, Via segera berjalan menuju kamar Lyla. Ia menjatuhkan tubuhnya di bibir tempat tidur. Menatap dalam-dalam wajah putri kesayangannya itu dan memikirkan harapan-harapan indahnya untuk Lyla di masa depan. Tak terasa air matanya kembali berlinang.
Anakku ... kau akan segera sembuh. Dan mulai saat itu, tidak akan ada batasan untukmu. Kita akan pergi ke Disney Land seperti keinginanmu, pergi ke Sea World di Jepang untuk menonton pertunjukan ikan paus seperti di youtube. Kau juga akan bermain dalam Opera Putri Salju saat bersekolah nanti, atau tampil menjadi penari ballet kecil. Dan aku, akan melihatmu dari kursi penonton dengan bangga.
Tersadar dari lamunan, Via mengusap setitik air matanya. Seperti biasa, saat Lyla tertidur, ia akan membangunkannya dengan membisikkan salam di telinga, lalu mengecup kening gadis kecil itu.
Dan saat bibirnya menyentuh kulit wajah Lyla, matanya pun membulat, saat merasakan suhu tubuh Lyla yang tak biasa. Mendadak sendi-sendinya terasa lemas. Ia menyentuh beberapa bagian tubuh Lyla untuk memastikan.
"Lyla, Sayang ..." bisiknya memanggil. "Lyla ... bangun, Nak! Ini bunda ...." Sekali lagi Via mencoba membangunkan Lyla, namun gadis kecil itu tak bergeming. Ia menyibak selimut dan membawa Lyla ke pangkuannya. Dipeluknya dengan erat tubuh kecil itu.
Beberapa kali ia terus berusaha membangunkan Lyla, namun sia-sia.
"Mas Wiraaa!!" Teriak Via memanggil.
*****
π΅π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Maaf baru up kemarin ngurus salah satu karya otor yang diplagiat di aplikasi sebelah.
Aku mau mengucapkan terima kasih banyak untuk salah satu pembaca, Kak "Wulan Titanica" yang sudah ngasih info tentang karyaku yang Diplagiat di aplikasi sebelah. Kalau gak di kasih tau, aku gak bakalan tauπ. mana sudah up sebanyak 40 bab di sana.
Terima kasih juga untuk teman-teman penulis,
terima kasih sebanyak-banyaknya untuk teman-teman member GC Sesat family, yang sudah membantu me-report plagiator sehingga dengan cepat dapat ditindak. Lope-lope sekebon buat kalian semua. β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Kalau ada yang serupa lagi minta tolong kasih tau otor ya man teman.
Note : Aku hanya punya satu akun penulis. dan itu hanya di Noveltoon. Jadi aku gak nulis di aplikasi lain ya... dan Insha Allah gak akan pindah lapak. Akan tetap di Noveltoon.
__ADS_1