Bunda Bukan Wanita Malam

Bunda Bukan Wanita Malam
Lain Kali Aku Minta Lagi, Yaa...


__ADS_3

Dengan penuh semangat si kecil Lyla menuruni tangga dengan berlari kecil. Sesuatu yang enam bulan lalu tak dapat ia lakukan sebab hidupnya penuh dengan batasan. Jangankan berlari, bermain biasa saja dapat membuatnya kelelahan dan akhirnya sakit. Kini, ia ia telah terlepas dari segala batasan itu, menikmati masa kecil yang menakjubkan layaknya anak-anak sehat lain.


"Lyla, jangan lari di tangga, Nak, nanti jatuh!" Suara Wira terdengar panik, saat sudut matanya menangkap bayangan Lyla yang sedang menuruni tangga. Namun, di balik kekhawatiran itu terselip rasa bahagia yang tak terhingga.


Melihat Lyla begitu menggemaskan dengan seragam sekolahnya. Rambutnya yang dikuncir dua dengan tas kecil di belakang punggungnya. Gadis kecil itu tersenyum manis, dengan kakinya yang melangkah perlahan menjejaki anak tangga satu per satu, mengingat ayah dan bundanya yang akan berteriak saat dirinya menuruni tangga dengan berlari.


"Ayah ..." panggilnya dengan ceria.


Wira mengulurkan tangan, meraih tubuh Lyla dan mengangkatnya ke udara, membuat tawa ceria Lyla menggema ke setiap sudut ruangan itu.


"Anak ayah sudah siap mau sekolah, ya?" Wira mengecupi setiap bagian wajah menggemaskan itu, memeluk tubuhnya dengan erat.


"Iya, Ayah. Lyla mau sekolah. Chella juga mau sekolah sama Lyla." Ia menyebut nama salah satu teman dekatnya, yang merupakan anak Dokter Marchel.


"Iya, Nak."


Sambil menggendong Lyla, Wira berjalan menuju dapur dimana ayah dan ibu sudah berada di sana untuk sarapan pagi.

__ADS_1


"Selamat pagi Oma, Opa ..." ucap Lyla.


Sepasang suami-istri paruh baya itu menoleh pada sumber suara. Tuan Gunawan merentangkan tangan saat Lyla mendekat padanya. "Selamat pagi cucu opa yang cantik"


Lyla mengecup pipi kanan dan kiri opanya, bergantian dengan Oma. Gadis kecil itu hendak memperlihatkan seragam sekolahnya.


"Oma, lihat! Baju sekolah Lyla bagus kan?" ucapnya dengan centil.


Wanita paruh baya itu menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menunjukkan ekspresi kagum, lalu memuji cucu kesayangannya itu. "Bagus, Sayang. Cucu Oma memang cantik. Ayo sini, peluk Oma dulu." Lyla segera mendekat dan memeluk wanita itu.


Pagi itu pun dimulai dengan sarapan pagi yang hangat. Keceriaan Lyla dan Gael adalah pelengkap bagi keluarga sempurna itu.


Masih di pagi yang sama, Lyla sedang menjalani hari pertamanya di sekolah. Hari itu ia bertemu dengan teman-teman baru dan juga pengalaman yang baru. Sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai. Ia tampak sangat ceria, terlebih dirinya berada di kelas yang sama dengan Michella, anak Dokter Marchel.


Sedangkan di sebuah taman, Via sedang mengobrol santai bersama beberapa wanita lain, salah satunya dengan Sheila, yang merupakan istri Dokter Marchel.


"Bagaimana semalam?" Tepukan agak keras yang mendarat di bahu Wira benar-benar membuatnya terkejut. Ia menoleh pada sumber suara. Tampak salah satu sahabat laknatnya, Dokter Marchel tersenyum ke arahnya tanpa rasa berdosa.

__ADS_1


"Kau ...? Sejak kapan kau di sini?" tanya Wira yang tak menyadari kedatangan Marchel. Sebab ia terfokus pada ponsel di tangannya.


"Sudah sejak tadi." Marchel meneliti wajah Wira yang sepertinya sedang berseri-seri. Menyadari hal itu, ia pun melayangkan ledekan pada temannya itu.


"Aku lihat hari ini kau sangat berseri-seri. Malam mu pasti sangat berkesan, ya..."


Wira menghela napas panjang, lalu memasukkan ponsel ke saku celana. "Benda apa yang kalian masukkan ke dalam minumanku?" tanya Wira dengan polosnya.


Dan pertanyaan itu membuat Marchel tertawa terbahak -bahak. Mengingat betapa jahilnya Willy yang sangat senang menjadi pakar cinta bagi teman-temannya. Dan terkadang idenya sangat gila. Marchel masih ingat betul malam keduanya yang ia habiskan hingga hampir pagi.


"Willy bilang, namanya pil setan!" ujarnya sambil menahan tawa. "Ngomong-ngomong bagaimana hasilnya?"


"Sepertinya minumanku tertukar, malah Via yang meminum nya."


Mata Marchel membulat sempurna, ia hendak membayangkan hasil kerja pil setan milik Willy itu jika yang meminum seorang wanita. "Tertukar?"


"Iya. Sepertinya Via yang meminum nya." Senyum tipis yang tadi menghiasi wajah tampannya semakin melebar mengingat betapa sexy nya Via semalam. "Lain kali aku minta lagi pil setannya, ya."

__ADS_1


hadehhhh dasar Sableng!! dalam batin Marchel.


__ADS_2