
Keesokan harinya ...
Tuan Gunawan ditemani asistennya, Surya, telah tiba di Bali. Mereka bergegas menuju sebuah apartemen yang diberitahukan Wira, yang merupakan tempat tinggal Shera selama ini. Memasuki bangunan apartemen yang tidak dapat dikatakan mewah itu membuatnya meragu. Mengingat betapa glamor gaya hidup Shera selama berstatus sebagai menantunya.
Wira dan Tuan Gunawan memberinya kehidupan yang mewah dan menuruti apapun yang didinginkan wanita itu. Namun, semua itu tidaklah cukup bagi seorang Shera hingga memilih pergi.
Kini, mantan menantunya itu hanya tinggal di sebuah apartemen biasa dengan fasilitas seadanya.
"Apa Wira tidak salah memberi alamat?" tanya Tuan Gunawan meneliti setiap sudut bangunan itu.
"Tidak, Tuan. Kata Bima, dia memang tinggal di sini," jawab Surya meyakinkan.
"Tapi, Shera tidak mungkin mau tinggal di tempat seperti ini."
"Lebih baik kita ke unitnya untuk memastikan. Mari, Tuan--" Surya mempersilakan Tuannya masuk lebih dulu ke dalam lift.
Tidak lama kemudian, mereka telah tiba di depan sebuah pintu yang terbuka setengahnya. Tuan Gunawan dan Surya pun saling melirik, sebelum akhirnya mendekat ke arah pintu. Surya beberapa kali mengetuk, namun setelah beberapa saat menunggu, tak ada sahutan atau tanda-tanda keberadaan seseorang di dalam ruangan itu.
"Apa tidak ada orang? Tapi kenapa Shera biarkan pintunya terbuka," ucap pria itu dengan alis mengerut.
"Mungkin dia ada di dalam, Tuan." Surya akhirnya mengetuk, lagi dan lagi. Namun tetap tak ada sahutan, sehingga mereka memutuskan untuk masuk ke dalam sana.
Dan, alangkah terkejutnya mereka mendapati seorang wanita yang mereka yakini adalah Shera terbaring di lantai dengan mulut berbusa, layaknya seseorang yang sedang keracunan.
"Ya Tuhan, Shera!" seru Tuan Gunawan. Ia segera menghampiri Shera dan menepuk wajahnya beberapa kali. "Apa yang terjadi?" gumamnya sembari memperhatikan sebotol racun serangga yang tergeletak begitu saja di sisi wanita itu. Melihat itu, mereka pun yakin jika Shera baru saja berusaha melakukan percobaan bunuh diri.
Panik, Tuan Gunawan meminta Surya segera menghubungi petugas keamanan yang berjaga di lantai dasar gedung itu. Dan dengan segera, mereka membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat.
*****
_
_
_
__ADS_1
_
_
_
_
Dengan raut wajah terlihat khawatir, Tuan Gunawan duduk di sebuah kursi tunggu. Di dalam sana para dokter sedang berusaha menyelamatkan Shera. Ia terlihat beberapa kali menarik napas dalam. Kekhawatiran pada Shera membuatnya tak dapat berpikir jernih.
"Tuan, apa tidak sebaiknya anda istirahat di hotel dulu? Saya yang akan menunggunya di sini," ucap Surya.
"Tidak! Aku akan tetap di sini," Ia duduk selonjoran dengan menyilangkan tangan di dada. Sesekali melirik ke arah pintu kaca itu. "Apa yang terjadi. Kenapa Shera sampai mau bunuh diri?"
Surya yang telah menyelidiki sebelumnya kehidupan Shera pun segera menjawab. "Menurut info dari beberapa tetangga, Mbak Shera ditinggal pergi oleh kekasihnya keluar negeri dan akhirnya mengalami depresi. Dia juga punya hutang di mana-mana," Jelasnya.
Raut wajah pria paruh baya itu mendadak sedih setelah mendengar ucapan asistennya. Ia merasa iba, walau bagaimana pun, Shera pernah menjadi bagian dari keluarganya, dan merupakan ibu dari cucu kesayangannya.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya."
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan. Pria berjas putih itu pun menjelaskan tentang kondisi Shera yang kini masih belum sadarkan diri.
"Baik, Dokter. Terima kasih."
*****
Hari telah beranjak senja ketika seorang wanita yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien mulai menggerakkan jarinya, pertanda akan siuman.
Tuan Gunawan yang menyadari pergerakan dari Shera segera mendekat pada wanita itu. Masih dengan kesadaran belum sempurna, Shera menatap setiap sudut ruangan yang baginya asing itu. Ia menggeliat pelan, sembari mengurut pelipis nya. Bahkan ia belum sadar sepenuhnya tentang apa yang terjadi.
"Kau sudah sadar?" Suara berat Tuan Gunawan membuat wanita cantik itu terbelalak. Ia segera menoleh ke sumber suara.
Dan, alangkah terkejutnya wanita itu saat menyadari siapa yang sedang duduk di sudut sana. Seketika kedua bola matanya dipenuhi cairan bening. Antara malu dan sedih, ia tiba-tiba teringat pada hal yang telah berlalu. Tentang semua perbuatannya yang pada akhirnya menghancurkan sebuah keluarga.
"A-ayah ..." ucapnya terputus-putus. Suaranya bahkan masih terdengar sangat lemah.
__ADS_1
Seperti biasa, Tuan Gunawan menerbitkan senyum tipis. Ia mendekat pada Shera dan duduk di sisi pembaringannya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau mau mengakhiri hidupmu, Nak?"
Mendengar kelembutan dari mantan ayah mertua, wanita itu semakin tak sanggup membendung air matanya. "Ayah, aku--" ucapnya sambil menangis pilu.
"Tenanglah! Kau bisa ceritakan semua nya padaku. Aku akan membantumu." Ia memberi kode pada Surya agar meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Setelah pintu tertutup rapat, barulah Shera merasa leluasa berbicara dengan Tuan Gunawan.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Ayah ..."
"Shera, bunuh diri bukan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah."
Sambil menangis, Shera mencoba menjelaskan. "Aku minta maaf, Ayah. Aku sangat menyesali perbuatanku di masa lalu."
"Lupakan tentang itu. Semua itu sudah berlalu. Sekarang kita bahas tentang dirimu saja. Apa yang bisa aku bantu?"
"Apa aku masih pantas dimaafkan? Ayah, aku mengaku bersalah. Aku gelap mata. Sehingga melakukan semua kesalahan ini. Maafkan aku, Ayah."
Tuan Gunawan memejamkan mata, sembari menarik napas dalam. Pengkhianatan Shera memang telah menyakiti mereka semua. Namun, kini hadirnya Via ke dalam keluarganya bagaikan sebuah anugerah.
"Aku sudah memaafkanmu."
Melihat kondisi Shera yang masih lemah dan terpuruk, Tuan Gunawan pun menjadi iba. Ia tidak menyangka hal buruk ini akan menimpa Shera.
*****
****
Terima kasih dukungan like komen dan vote nya.
Ada yang nanya nih "apakah Author mau pindah lapak? "
Jawabannya adalah TIDAK !!!
Insha Allah aku tidak akan pindah lapak. Selama menulis membuat aku bahagia, maka aku akan tetap menulis, dan hanya di NOVELTOON tentunya.
Kenapa aku pilih Noveltoon untuk menjadi wadah menuangkan kehaluanku?
__ADS_1
Karena Noveltoon adalah aplikasi terbaik dimana teman-teman bisa membaca novel tanpa harus membeli koin. Karena itulah aku memilih aplikasi ini.
Walaupun aku sadar, sebagai penulis, aku tidak bisa memuaskan keinginan semua orang dalam hal membaca. Kadang alur ngeselin, bertele-tele dan bikin naik darah. Tapi percayalah, itu aku buat sepenuh hati untuk kalian. 🤠( mode gombal )